Pendidikan

Tehnical Reasoning

Table of Contents

Tehnical Reasoning

Tehnical Reasoning merupakan sebuah alasan teknis yang biasanya dipakai untuk menyatakan bahwa pernyataan tersebut mempunyai argumentasi, tetapi argumentasi tersebut bukan argumentasi logika melainkan argumentasi teknis (alasan teknis), seolah-olah berlindung pada sesuatu hal (undang-undang).

Contoh:

(1)   Jaksa Agung Muda BI dan Intelejen menyatakan buku-buku tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila…(Tempo, 6/10/10, “ Mengapa Masih Memberangus Buku?”).

(2)   Dalam pernyataannya sesaat setelah sidang bergulir, Wilders mengulangi kembali pendapatnya bahwa semua komentarnya dilindungi undang-undang kebebasan berbicara. “Secara resmi saya disidang di sini, hari ini. Namun, bersama saya, kebebasan berpendapat banyak, banyak rakyat Belanda juga ikut diadili,” katanya (Tempo, 6/10/10, “Sidang Wilders Ditunda”).

Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indonesia baku (Suroso,2001):

  1. Peyimpangan morfologis. Peyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan. Kita sering menemukan judul berita misalnya, Polisi Tembak Mati Lima Perampok Nasabah Bank. Israil Tembak Pesawat Mata-mata. Amerika Bom Lagi Kota Bagdad.
  2. Kesalahan sintaksis. Kesalahan berupa pemakaian tatabahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus. Contoh: Kerajinan Kasongan Banyak Diekspor Hasilnya Ke Amerika Serikat. Seharusnya Judul tersebut diubah Hasil Kerajinan Desa Kasongan Banyak Diekspor Ke Amerika.  Kasus serupa sering dijumpai baik di koran lokal maupun koran nasional.
  3. Kesalahan kosakata. Kesalahan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalkan dampak buruk pemberitaan. Contoh: Penculikan Mahasiswa Oleh Oknum Kopasus itu Merupakan Pil Pahit bagi ABRI. Seharusnya kata Pil Pahit diganti kejahatan. Dalam konflik Dayak- Madura, jelas bahwa yang bertikai adalah Dayak dan Madura, tetapi wartawan tidak menunjuk kedua etnis secara eksplisit. Bahkan di era rezim Soeharto banyak sekali kosakata yang diekspose merupakan kosakata yang menekan seperti GPK, subversif, aktor intelektual, ekstrim kiri, ekstrim kanan, golongan frustrasi, golongan anti pembangunan, dll. Bahkan di era kebebasan pers seperti sekarang ini, kecenderungan pemakaian kosakata yang bias makna semakin banyak.

sumber ;

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/