Pendidikan

 Relevansi dengan  situasi

 Relevansi dengan  situasi

Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidaklah selamanya sama dari hari kehari. Pada suatu waktu boleh jadi guru boleh menciptakan situasi belajar mengajar yang berbeda, misalnya belajar mengajar di alam terbuka, yaitu diluar ruangan sekolah. Maka dalam hal ini, guru tentu memiloh metode mengajar yang sesuai dengan situasi yang diciptakan tersebut.

Situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, situasi lingkungan. Bila jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak sulit digunakan apalagi bila ruangan yang tersedia kecil. Metode ceramah harus mempertimbangkan antara lain jangkauan suara guru. Kemudian apabila situasi lingkungan kelas dan sekolah sunyi senyap tampa banyak aktifitas disekelilingnya, maka metode yang tepat digunakan adalah metode seperti; diskusi, Tanya jawab, simulasi,  Qawlan (baligha, bashira, nazhira, al haq, layyinan, maisyura, ma’rufan) dan lain-lain. Dengan sesuainya metode yang digunakan guru dengan situasi sekolah ditempat ia mengajar maka tujuan dari materi yang akan disampaikan pun akan tercapai secara maksimal. Begitu  juga sebaliknya, apabila guru  tidak bisa melihat dan menyesuaikan metode yang akan digunakan dengan situasi kelas maupun sekolah, maka pembelajaran tidak akan  terlaksana dengan baik. Jadi sangat penting diperhatikan bagi seorang  guru tentang situasi tempat ia  mengajar.

  1. Relevansi dengan  siswa

Perbedaan individual siswa pada aspek biologis, psikologis dan intelektual akan mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode yang akan digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif dalam situasi dan kondisi yang relatif lama demi tercapainya tujuan pengajaran yang telah dirumuskan secara operasional. Jadi kematangan anak didik yang bervariasi mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.

Disinilah peran guru untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswa. Apabila siswa memiliki kemampuan rata-rata yang sama maka guru bisa menggunakan metode seperti; diskusi, tanya jawab, dan simulasi. Kemudian apabila kemampuan siswa di suatu kelas tidak merata maka metode yang mungkin di gunakan seperti; metode pendekatan personal seperti qawlan layyinan dan qawlan maisyura. Ini  semua kembali kepada kreativitas guru dalam melihat kemampuan, kematangan dan latar belakang siswa

  1. Relevansi dengan evaluasi

Dalam pelaksanaan evaluasi perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai dasar pelaksanaan penilaian.

Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Evaluasi hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif (menyeluruh). Yaitu pengukuran yang meliputi aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik.
  2. Prinsip kesinambungan (kontinuitas); penilaian hendaknya dilakukan secara berkesinambungan.
  3. Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dari waktu ke waktu untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan peserta didik, sehingga kegiatan dan unjuk kerja peserta didik dapat dipantau
  4. Prinsip obyektif, penilaian diusahakan agar seobyektif mungkin.
  5. Evaluasi harus mempertimbangkan rasa keadilan bagi peserta didik dan objektifitas pendidik, tanpa membedakan jenis kelamin, latar belakang etnis, budaya, dan berbagai hal yang memberikan konstribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar peserta didik karena mereka merasa dianaktirikan.
  6. Prinsip sistematis, yakni penilaian harus dilakukan secara sistematis dan teratur.[7]

Berkaitan dengan metode dalam pendidikan agama Islam maka ada beberapa jenis evaluasi yang dapat diterapkan :

  1. Evaluasi Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan satuan program pembelajaran (kompetensi dasar) pada mata pelajaran tertentu.
  2. Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran dalam satu semester dan akhir tahun untuk menentukan jenjang berikutnya.
  3. Evaluasi penempatan (placement), yaitu evaluasi tentang peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi atau kemampuan yang dimiliki peserta didik.
  4. Evaluasi Diagnostik,  adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk keperluan latar belakang (psikologi, fisik, lingkungan) dari murid/ siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesuliatan –kesuliatan tersebut. Evaluasi jenis ini erat hubungannya dengan kegiatan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.[8]

Apabila metode yang  digunakan guru adalah metode tanya jawab dalam proses pembelajaran  maka evaluasi yang cocok untuk diterapkan adalah tes lisan. Karena pada awalnya siswa sudah dibimbing oleh guru  untuk menuturkan dan menjelaskan materi pelajaran secara lisan. Ini akan memudahkan guru untuk menguji seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi yang sudah diberikan.

 

suber :

https://restaurantlediapason.com/popscene-apk/