Prodi Baru dan yang Masih Dibutuhkan di Era Disruptif

Prodi Baru dan yang Masih Dibutuhkan di Era Disruptif

Prodi Baru dan yang Masih Dibutuhkan di Era Disruptif

Prodi Baru dan yang Masih Dibutuhkan di Era Disruptif
Prodi Baru dan yang Masih Dibutuhkan di Era Disruptif

Indonesia saat ini memasuki era disruptif atau gangguan. Termasuk juga di sektor pendidikan tinggi.

Sejumlah program studi (prodi) yang sudah berjalan saat ini dinilai masih dibutuhkan masyarakat, di tengah gempuran era disruptif. Namun tidak bisa dielakkan bakal munculnya prodi-prodi baru untuk menyesuaikan permintaan.

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Prof Asep Saefudin mengatakan, setidaknya ada dua prodi yang masih dibutuhkan masyarakat di tengah era disrutif. Yakni prodi gizi dan pangan. “Gizi dan pangan adalah kebutuhan penting. Tidak akan digantikan oleh komputer,” katanya di kampus UAI Jakarta (14/3).

Asep menuturkan di era disruptif atau revolusi industri 4.0 banyak sekali pekerjaan-perkejaan yang diambil alih oleh komputer. Melalui kecanggihan sistem kecerdasan buatan. Tetapi untuk bidang gizi dan pangan, menurutnya bakal terus membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Untuk itu dia mengatakan menggandeng IPB untuk membuka prodi gizi dan pangan itu

. Dia menjelaskan IPB sebagai kampus yang bergerak di bidang pertanian, jelas lebih mumpuni untuk dijadikan sebagai mitra kerjasama.

Selain itu pembukaan prodi gizi dan pangan itu untuk menggenapkan jumlah prodi rumpun STEM di kampus menjadi enam prodi. Saat ini di kampus UAI masih memiliki empat prodi di bawah rumpun STEM.

Rektor IPB Arif Satria menyambut baik kerjasama dengan UAI tersebut. Apalagi Rektor UAI juga merupakan guru besar di IPB. Dia mengatakan memasuki era disruptif saat ini, juga mendesak adanya prodi-prodi. “Untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Arif mengungkapkan di IPB sendiri saat ini sedang dikaji setidaknya lima prodi baru.

Yakni prodi keceradasan buatan, prodi ilmu data (data science), prodi robotika, prodi pertanian pintar (smart farming), dan prodi pertanian presisi. Dia mengatakan dalam menyambut era industri 4.0 IPB tetap menjalankan tugasnya sebagai kampus yang bergera di sektor pertanian.

“Pertanian juga perlu dikembangkan mengikuti era industri 4.0,” katanya.

Dia mencontohkan perpaduan antara smart farming dengan pertanian presisi bisa mengatasi persoalan gagal panen yang sering terjadi di masyarakat. Gagal panen itu umumnya karena lahan pertanian terganggu cuaca. Nah dengan memanfaatkan sistem komputer, bisa dilakukan pengukuran waktu-waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Sehingga bisa mencegah tanaman petani rusak akibat terkena hujan atau sebaliknya kekeringan.

 

Sumber :

https://egriechen.info/kalimat-majemuk-bertingkat/