Teknologi

Praktisi kecerdasan buatan berpeluang mengajar di universitas

Praktisi kecerdasan buatan berpeluang mengajar di universitas

Praktisi kecerdasan buatan berpeluang mengajar di universitas

Seiring berkembangnya teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan menyusupi berbagai bidang kehidupan dan menjadi kebutuhan.

Mengingat adanya peluang terserap industri-industri berbasis teknologi yang kini bermunculan, AI menjadi bidang pengetahuan yang diajarkan di tingkat universitas, salah satunya di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tak melulu dari para pengajar di universitas, para praktisi AI bahkan

berpeluang menelurkan ilmu mereka pada mahasiswa, kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, di Bandung, Jumat.

Dia tak menampik jika salah satu syarat seseorang bisa mengajar di kampus ialah sudah mendapatkan gelar master di bidang ilmu yang dia tekuni. Namun, bukan berarti tak ada peluang bagi para praktisi yang belum menempuh pendidikan magister mengajar di universitas.

“Bisa menjadi dosen tamu, menguatkan (pemahaman) mahasiwa mengenai

kondisi di lapangan. Kami tekankan pada sains dan teknologi. Karena sifatnya lebih aplikatif dan mendekat pada industri yang lebih sesuai,” kata dia.

Baca juga: Mengenal BukaBike, sepeda gratis di ITB

Nasir mencontohkan, Politeknik Maritim Negeri Indonesia di Semarang yang beberapa pengajarnya adalah praktisi bidang nautica hingga teknik.

“Contohnya kami punya Politeknik Maritim di Semarang. Dosennya yang S2

hanya 22 dari 28 orang, ada dosen ada yang D4 dan D3 tetapi punya pengalaman seorang nautica, teknika dan nakhoda kapal. Pengalaman ada yang 10 tahun, 15 tahun. Dia punya sertifikat kompetensi. Lulusan 100 persen diserap industri,” papar dia.

“Untuk AI, jangan-jangan mereka punya keahlian luar biasa para praktisi ini,” imbuh Nasir.

 

Baca Juga :