Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj

Pada tahun ke-10 kenabian

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mengalami insiden Isra Mi’raj. Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di Yerusalem. Mi’raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dari Masjidilaksa ke langit melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arsy (takhta Tuhan), dan dingklik (singgasana Tuhan), hingga mendapatkan wahyu di hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam peluangnnya berhadapan eksklusif dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mendapatkan perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Peristiwa Isra Mi’raj ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Isrâ’ ayat 1. Hijrah Harapan gres bagi perkembangan Islam muncul dengan hadirnya jemaah haji ke Mekah yang berasal dari Yatsrib (Madinah).

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memanfaatkan peluang itu untuk berbagi agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan menhadiri kemah-kemah mereka. Namun perjuangan ini selalu diikuti oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Suatu ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu dengan 6 orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal dari Yatsrib. Sesudah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memberikan pokok-pokok aliran Islam, mereka menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Mereka berkata, “Bangsa kami sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.

Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaramu dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh lantaran itu kami akan berdakwah biar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini.”
Pada ekspresi dominan haji tahun diberikutnya, hadirlah delegasi Yatsrib yang terdiri dari 12 orang suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam di suatu tempat berjulukan Aqabah. Di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di Aqabah, maka dinamakan Bai’at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan dikawani oleh Mus’ab bin Umair yang sengaja diutus oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam atas seruan mereka.

Pada ekspresi dominan haji diberikutnya, jemaah haji yang hadir dari Yatsrib berjumlah 75 orang, termasuk 12 orang yang sebelumnya sudah menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam di Aqabah. Mereka meminta biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersedia pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dari segala ancaman. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menyetujui usul yang mereka ajukan.

Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan orang-orang Yatsrib, kaum Quraisy menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memerintahkan para sahabat dekatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke Yatsrib.

Baca Juga: Ayat Kursi

Dalam waktu 2 bulan

kurang lebih 150 kaum muslimin sudah berada di Yatsrib. Sementara itu Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar as-Sidiq tetap tinggal di Mekah bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, membelanya hingga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sebelum ia sempat menyusul umatnya ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan tiruana suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabat dekatnya, Abu Bakar.
Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam perjalanan, termasuk 2 buntut unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menempati tempat pulasnya biar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi Shallall Shallallahu Alaihi Wassalam masih pulas.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menemui Abu Bakar yang sudah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.

Pada malam ke-4, sehabis perjuangan orang Quraisy mulai menurun lantaran mengira Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sudah hingga di Yatsrib, keluarlah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun datang dengan membawa 2 buntut unta yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.

Sesudah 7 hari perjalanan, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar datang di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka diberistirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam membangun sebuah masjid yang kemudian populer sebagai Masjid Quba. INI masjid pertama yang dibangun Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai sentra peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kehadirannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sudah datang di Yatsrib. Oleh alasannya yaitu itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kehadiran Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan rombongan. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.

melalui atau bersamaini perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kehadiran Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala’ al-Badru, yang isinya: Telah datang bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ’i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau sudah membawa sesuatu yang harus kami taati.
Setiap orang ingin biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam spesialuntuk berkata, “Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah ia berjalan sekehendak hatinya.”

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. melaluiataubersamaini demikian Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menentukan rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bersama-sama membangun rumah untuknya.
Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), lantaran dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.