Agama

Perbedaan Pendapat Antara Mu’tazilah dan Asy’ariyyah

Perbedaan Pendapat Antara Mu’tazilah dan Asy’ariyyah

Perbedaan Pendapat Antara Mu’tazilah dan Asy’ariyyah

1. Sifat Tuhan

v Menurut mu’tazilah: tidak mengakui sifat-sifat wujud, qidam, baqa’, dan wahdaniyah, sifat Zat yang lain, seperti sama’, bashar, dan lain-lain tidak lain hanya Zat Tuhan sendiri.
v Menurut golongan hasywiyyah dan mujassimah: menyamakan antara sifat Tuhan dengan sifat-sifat makhluk.
v Menurut golongan Asy’ariyyah: mengakui adanya sifat-sifat Tuhan yang tersebut yang sesuai dengan Dzat Tuhan sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sifat makhluk.

2. Kekuasaan atau perbuatan tuhan

v Menurut mu’tazilah,tuhan memiliki kewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia, termasuk kewajiban menepati janji-janjiNya, kewajiban mengirim Rasul dan kewajiban memberi rezeki kepada manusia. Adanya paham Al shalah wa al ashlah.
v Menurut Asy’ariyyah, tuhan berbuat sekehendakNya terhadap makhluk, artinya tuhan tidak memilikikewajiban apa-apa. Adanya penolakan terhadap paham al shalah waal ashlah.

3. Perbuatan manusia

v Menurut mu’tazilah, lebih mendekati kepada paham qadariyyah, manusia berkuasa menciptakan perbuatannya sesuai kemampuan dan kemauannya sendiri.
v Menurut Asy’ariyyah, manusia dalam kelemahannya bergantung kepada kehendak dankekuasaan tuhan, lebih mengarah kepada jabariyyah.

4. Keadilan tuhan

v Menurut mu’tazilah, perbuatan-perbuatan tuhan adalah untuk kepentingan makhluk.
v Menurut Asy’ariyyah, tuhan berbuat semata-mata karena kekuasaan dan kehendak mutlak Nya bukan karen akepentingan makhluk atau tujuan lainnya.

5. Melihat tuhan pada hari kiamat

v Menurut mu’tazilah, tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala dimana pun dan kapan pun.
v Menurut Asy’ariyyah, tuhan dapat dilihat kelak di hari kiamat tidak dengan cara tertentu atau tempat tertentu

6. Dosa-dosa besar

v Menurut mu’tazilah, orang yang berbuat dosa besar bertobat, meskipun ia memiliki ketaatan, ia tidak akan keluar dari neraka.
v Menurut asy’ariyyah, orang yang berdosa besar terserah kepada Tuhan, akan diampuni kemudian masuk surga atau dijatuhi siksa dan masuk neraka.

7. Akal dan fungsi wahyu

v Menurut mu’tazilah, segala sesuatu dapat dicapai dengan akal dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam, termasuk mengetahui tuhan, kewajiban mengetahui tuhan,mengetahui baik dan buruk serta kewajiban mengerjakan baik dan buruk. Sebelum adanya wahyu semua itu sudah bisa diketahui lewat akal. Sehingga ketika wahyu muncul, wahyu tidak begitu dibutuhkan karena semuanya telah diketahui terlebih dahulu oleh akal.
v Menurut Asy’ariyyah, segal kewajiban manusia hanya dapat diketahui oleh wahyu. Akal tak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk dalah wajibbagi manusia. Wahyulah yang mewajibkan seseorang mengetahui tuhan dan berterima kasih kepadaNya. Juga dengan wahyulah dapat diketahui bahwa yang patuh kepada tuhan akan mendapat pahala, dan yang tidak patuh akan mendapatkan hukuman.

Sumber: wfdesigngroup