Perkebunan

Pengujian atas transaksi

Pengujian atas transaksi

Pengujian atas transaksi (substantive test of transaction) meliputi prosedur-prosedur audit untuk menguji kecermatan pencatatan transaksi. Tujuan dilakukanyya pengujian atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah otorisasi dengan pantas, dicatat, dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku pembantu dengan benar.

Untuk menentukan apakah semua transaksi telah memenuhi tujuan audit untuk transaksi:

Ekistence

– Completeness

– Accuracy

– Classification

– Timing

– Posting and summarizing

Jika auditor percaya bahwa transaksi percaya bahwa transaksi dicatat dengan benar dalam jurnal dan diposting dengan benar, maka auditor akan percaya bahwa total buku besar adalah benar.

Pengujian detail transaksi ini dilakukan untuk menentukan

  1. Ketetapan otorisasi transaksi akuntansi
  2. Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi dalam jurnal
  3. Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi dalam buku besar dan buku pembantu.

Metodologi Perancangan Program Audit untuk Pengujian Atas TransaksiProgram audit pengujian atas transaksi, biasanya mencakup:

–          Bagian penjelasan yang mendokumentasikan pemahaman yang diperoleh mengenai struktur pengendalian intern.

–          Gambaran prosedur yang dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern

–          Rencana tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan

Baik prosedur yang dijalankan maupun risiko pengendalian yang direncanakan akan mempengaruhi program audit pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi:

  1. Melaksanakan prosedur untuk memahami struktur pengendalian intern
  2. Menetapkan risiko pengendalian
  3. Mengevaluasi biaya dan manfaat dari pengujian substantif atas transaksi untuk memenuhi tujuan audit berkait transaksi.

–          Prosedur audit

–          Besar sampel

–          Pos/unsur yang dipilih

–          Saat pelaksanaan

Prosedur audit pengujian atas transaksi akan mencakup baik pengujian atas pengendalian maupun pengujian substantive atas transaksi dan bercariasi tergantung kepada rencana risiko pengendalian yang ditetapkan.

Jika pengendalian efektif dan risiko pengndalian yang idrencanakn rendah, penekanan akan banyak diberikan kepada pengujian atas pengendalian. Beberapa pengujian substantif atas transaksi juga akan ditekankan.

Jika risiko pengendalian ditetapkan 1, maka hanya pengujian substantive atas transaksi yang akan digunakan. Prosedur yang juga dilakukan dalam memperoleh pemahaman pengendalian intern akan mempengaruhi pengujian atas pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.

Prosedur Audit yang dilakukan dalam pengujian detail transaksi:

–          Tracing: pilih satu sampel sales invoice dan telusur ke sales journal.

–          Vouching: pilih satu sampel transaksi yang dicatat dalam sales journal dan telusur ke sales invoice.

–          Reperforming: periksa kecermatan perkalian dan penjumlahan pada sales invoices.

–          Inquiring: tanyakan kepada klien apakah ada transaksi-transaksi related parties.

Pada pengujian detail transaksi, auditor mengarahkan pengujiannya untuk memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang bersifat moneter. Auditor tidak mengarahkan pengujian detail transaksi untuk memperoleh temuan tentang penyimpangan kebijakan dan prosedur pengendalian.

Pengujian ini pada umumnya lebih banyak menyita waktu dibanding prosedur analitis, oleh karenanya pengujian ini lebih banyak membutuhkan biaya daripada prosedur analitis.

  1. Prosedur analitis

Prosedur analitis telah dibahas pada bab sebelumnya, mencakup perbandingan jumlah yang dicatat dengan ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor. Prosedur analitis yang sering dilakukan auditor adalah perhitungan rasio untuk membandingkan dengan rasio tahun lalu dan data lain yang berhubungan.

Tujuan penggunaan prosedur analitis:

  1. Memahami bidang usaha klien
  2. Menetapkan kemampuan kelangsungan hidup entitas
  3. Indikasi timbulnya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
  4. Mengurangi pengujian audit yang lebih rinci.

Digunakan dalam phase pengujian:

  1. Sebagai pelengkap test of details.
  2. Untuk memperoleh bukti mengenai asersi/tujuan audit tertentu.

Dalam situasi tertentu, prosedur analitis dipandang cukup efektif dan efisien, terutama untuk akun-akun yang tidak material dan/atau bila risko deteksi tinggi.

sumber :
https://www.malinoputra.co.id/forsaken-souls-i-apk/