Pendidikan

Pengertian parenting (pola asuh anak)

Pengertian parenting (pola asuh anak)

Pengertian parenting (pola asuh anak)

Pengertian parenting (pola asuh anak)
Pengertian parenting (pola asuh anak)

adalah proses membesarkan dan mendukung perkembangan fisik dan mental yang juga meliputi emosional, sosial, spiritual dan intelektual anak dari bayi hingga dewasa. Tentu saja tujuannya untuk menghasilkan generasi muda atau anak-anak yang cerdas, bukan saja cerdas intelektual tetapi juga cerdas emosional dan spiritualnya.

empat gaya pengasuhan anak

1. Authoritative Parenting

Orangtua yang menggunakan pola authoritative berperilaku hangat namun tegas. Mereka mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan namun tetap memberi batas dan kontrol pada anaknya. Mereka memiliki standar tetapi juga memberi harapan yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Mereka menunjukkan kasih sayang, sabar mendengarkan anaknya, mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga, dan menanamkan kebiasaan saling menghargai hak-hak orangtua dan anak. Hal ini mampu memberi kesempatan kedua pihak (orangtua dan anak) untuk dapat saling memahami satu sama lain dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima kedua pihak.

2. Authoritarian Parenting

Pada authoritarian parenting, orangtua menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi dari anak-anak. Mereka lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku. Mereka memiliki standar yang dibuat sendiri baik dalam aturan, keputusan, dan tuntutan yang harus ditaati anaknya. Bila dibandingkan dengan pola asuh lainnya, orangtua dengan pola authoritarian cenderung kurang hangat, tidak ramah, kurang menerima, dan kurang mendukung kemauan anak, bahkan lebih suka melarang anaknya mendapat otonomi ataupun terlibat dalam pembuatan keputusan.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/fungsi-lembaga-keluarga/

3. Neglectful Parenting

Pola pengasuhan ini disebut juga indifferent parenting. Dalam pola pengasuhan ini, orangtua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak yang berarti mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya. Akibatnya, mereka menanggulangi tuntutan anak dengan memberikan apa pun yang barang yang diinginkan selama dapat diperoleh. Padahal hal tersebut tidak baik untuk jangka panjang anaknya, misalnya terkait peran dalam pekerjaan rumah dan perilaku sosial yang dapat diterima secara umum. Orangtua pola ini cenderung tidak tahu banyak tentang aktivitas anaknya. Mereka jarang berbicang-bincang dan hampir tidak mempedulikan pendapat anaknya dalam membuat keputusan.

4. Indulgent Parenting

Pada indulgent parenting, orangtua cenderung menerima, lunak, dan lebih pasif dalam kedisiplinan. Mereka mengumbar cinta kasih, tidak menuntut, dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya. Terkadang orangtuanya mengizinkan ia mengambil keputusan meski belum mampu melakukannya. Orangtua semacam ini cenderung memanjakan anak, ia membiarkan anaknya mengganggu orang lain, melindungi anak secara berlebihan, membiarkan kesalahan diperbuat anaknya, menjauhkan anak dari paksaan, keharusan, hukuman, dan enggan meluruskan penyimpangan perilaku anak.

Pengasuhan dalam konteks lintas budaya

Dalam kajian antropologi di ungkapkan bahwa pengasuhan anak dalam keluarga jawa lebih menekankan pada control emosi diri dan harmoni dalam hubungan social. Sebagai implikasinya masyarakat jawa tidak mendorong kemunculan perilaku agresi terhadap teman sebaya apa lagi terhadap orang tua. Anak-anak didorong untuk menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah dari pada mengunakan agresi fisik maupun verbal. Anak-anak yang menggunakan pembalasan secara fisik dan verbal akan mendapatkan teguran, sedangkan anak yang mampu menenangkan dirinya serta pihak yang menyerangnya akan mendapat ganjaran. Pengasuhan anak yang dilakukan orang tua di pengaruhi oleh konteks budaya tempat keluarga berasal maupun lingkungan tampat tinggal. Orang tua dapat saja melakukan cara-cara yang berbeda dalam mengasuh anak, meskipun tujuan yang akan dicapainya sama. Sebaliknya, dimungkinkan pula terdapat cara yang sama yang digunakan orang tua dalam budaya berbeda, namun tujuan yang akan dicapai berbeda. Kekhasan budaya menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan bila akan mengkaji pengasuhan anak.