Umum

pendekatan normatif dalam skripsi

Pendekatan normatif

Kajian terhadap Islam pada garis besarnya dapat dibagi menjadi pengkajian dengan pendekatan normatif dan pengkajian dengan pendekatan non-normatif. Yang terakhir ini dapat berupa pengkajian historis, sosiologis, antropologis, filosofis dan sebagainya yang secara bebas mengamati dan menganalisis gejala keislaman.
Pengkajian dengan pendekatan normatif berusaha untuk menemukan, memahami dan menjelaskan norma-norma yang semestinya dipakai sebagai pedoman oleh seorang Muslim dan aturan-aturan keagamaan yang semestinya dijalankan. Kajian ini melihat Islam sebagai suatu ajaran yang mutlak, kebenarannya tidak terikat dengan ruang atau waktu. Ajaran ini diyakini sebagai bimbingan dari Allah untuk umat manusia, yang tidak boleh dipersoalkan kebenarannya. Yang tinggal bagi orang yang percaya adalah mengamalkannya dengan sesetia mungkin.
Pendekatan normatif terhadap Islam didasari pada anggapan bahwa Allah menurunkan aturan-aturan untuk dijadikan pedoman bagi orang yang percaya. Aturan-aturan itu disampaikan melalui wahyu (al-Qur’an) yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad dengan sabda beliau, perbuatan dan penetapannya. Yang terakhir ini (yang disebut taqrîr) adalah persetujuan beliau atas usulan atau praktik Sahabat beliau. Sabda, perbuatan dan penetapan beliau itu—kadang-kadang ditambah dengan rangkaian nama orang-orang yang menjadi sandaran dalam periwayatan (sanad) dan informasi ringkas mengenai beberapa hal yang dianggap penting oleh periwayat—dikumpulkan dalam literatur yang disebut hadîts.[1] Dengan pendekatan normatif, pengkaji berusaha untuk menangkap pesan-pesan Allah dalam firman-Nya dan penjelasan yang diberikan melalui sunnah[2] Nabi-Nya.

Ilmu kalam: mempertahankan iman dengan dalil rasional

Fiqh: titah Allah yang berkenaan dengan perbuatan manusia yang dibebani hukum/kewajiban.
Akhlak : aturan baik buruk yang berkenaan dengan perilaku manusia.
Pada umumnya kajian dalam ketiga ilmu ini menggunakan pendekatan normatif.
Ilmu bahasa, terutama mengenai seluk beluk bahasa Arab, merupakan penolong yang sangat penting dalam pendekatan ini, karena kedua sumber Islam di atas tersusun dalam bahasa Arab. Demikian juga pengetahuan-pengetahuan teknis seperti cara menyimpulkan, menyelesaikan pernyataan-pernyataan yang berbeda-beda atau bahkan bertentangan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dan memilih di antara kemungkinan-kemungkinan makna yang tersedia.
Ciri umum dari kajian ini adalah Kurang memperhatikan kesejarahan teks, yakni bagaimana teks—termasuk teks kitab suci—lahir dalam kaitan dengan suasana tertentu dalam waktu tertentu dan di tempat tertentu. Kesadaran mengenai kaitan setiap teks dengan suasana tertentu ini sudah sejak lama ada dengan bukti munculnya riwayat mengenai sabab nuzûl ayat-ayat al-Qur’an dan sabab al-wurûd hadis. Sabab nuzûl dimaknai sebagai riwayat mengenai kejadian atau suasana tertentu yang ada menjelang atau berkaitan dengan turunnya ayat tertentu dari al-Qur’an. Sumber-sumber Islam yang pokok itu dianggap lepas dari ruang dan waktu
الثوابت والمتغيرات ( yang tepat tidak berubah dan yang boleh berubah)
Ciri pendekatan normatif terhadap Islam:
· Berangkat dari teks dengan metode deduktif, tidak mau berangkat dari konsep yang dikembangkan pada realitas historis kehidupan manusia
· Terkungkung pada tradisi keislaman; tidak terbuka terhadap temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan, kecuali jika ada mendukung kebenaran ajaran
· Mengklaim kebenaran ajaran.
· Tidak kritis.
· Tidak sensitif terhadap persoalan nyata yang dihadapi umat; problem umat dianggap muncul karena ketidaksetiaan mereka kepada ajaran Islam.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/