Inilah Faktor Penentu Kelulusan UN Menurut Kadisdikbud Riau

Inilah Faktor Penentu Kelulusan UN Menurut Kadisdikbud Riau

Peserta Ujian Nasional (UN) SMP/MTsN/Sederajat di Provinsi Riau diimbau untuk

tetap mengedepankan kejujuran dan berakhlak yang baik.

“UN bukan sebagai penentu kelulusan, karena yang menentukan siswa tersebut lulus atau tidaknya adalah akhlak anak tersebut selama di sekolah. Tentunya, sekolah telah menetapkan sebuah kriteria penilaian,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Riau, Kamsol kepada GoRiau.com, Senin (9/5/2016) di Pekanbaru.

Adapun kriteria yang dimaksudkan adalah berdasarkan aspek kognitif, afektif dan

psikomotorik anak untuk berkembang. Menurutnya, akhlak dan budi pekerti turut menjadi nilai penentu UN.

“Ada yang nilai UN nya bagus, tapi karena budi pekertinya buruk di sekolah bisa jadi tak

lulus. Begitu juga nilai UN yang dibawah standar, bisa lulus apabila nilai semester dan kumulatif budi pekertinya baik,” jelasnya.

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/aUCV737Z6L0M

Pengumuman Kelulusan, Lima Siswa Padang Panjang Masuk 20 Besar Nilai UN Tertinggi di Sumbar

Pengumuman Kelulusan, Lima Siswa Padang Panjang Masuk 20 Besar Nilai UN Tertinggi di Sumbar

Pengumuman kelulusan siswa SLTA se Indonesia yang berlangsung Sabtu (7/5/2016) juga dilakukan di Kota Padang Panjang. Kegembiraan terlihat pada wajah-wajah siswa yang lulus usai mengetahui ia berhasil menamatkan sekolah di jenjang SLTA ini.

Tak hanya itu, berbagai sekolah di Kota Padang Panjang juga mendapat prediket lulus

100 persen. Lulus 100 persen itu, misalnya diraih, SMK N 1 Padang Panjang. Dimana siswa kelas 3 di SMKN 1 Padang Panjang dengan jumlah peserta UN 241 orang (laki laki 26 org, perempuan 215 orang), lulus 100 %.

Begitu juga dengan MAN 2 Padang Panjang yang lulus 100 persen. Kepala Sekolah MAN 2 Padang Panjang, Amrizon S.Pd.M.Pd menyebutkan, jumlah siswa yg ikut ujian 131 org terdiri dari 3 jurusan, yaitu IPA 38 org, IPS 59 org, Keagamaan 34 org.

“Semua lulus dan MAN 2 Padang Panjang mencatatkan jumlah siswa lulus 100 %,

situasi aman terkendali,” katanya.

Kegembiraaan juga terjadi di SMAN 1 Padang Panjang yang siswanya lima siswanya masuk dalam 20 besar nilau UN tertinggi di Sumbar. Kelimanya adalah, M Rafky Alfarrakhan (2), Fitri Ramadhanti (4), Roni Pradana (7), Thariq Ramadhan (16) dan
Nawridha Alfath (19).

Walikota Padang Panjang Hendri Arnis melalui Kabag Humas Pemko Padang Panjang Ampera Salim, mengucapkan rasa syukur atas prestasi yang diraih siswa SLTA di Kota Padang Panjang.

“Ini membuktikan bahwa Kota Padang Panjang pantas meraih prediket pengelolaan

pendidikan terbaik di Sumbar. Dan itu dibuktikan dengan diberikannya Kota Padang Panang Juara II pengelolaan Pendidikan di Sumbar tahun 2016 oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno,” kata Wako.

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/t09J9E76UT23bmu

Sertifikasi Profesi Bisa Perbaiki Kualitas Lulusan SMK

Sertifikasi Profesi Bisa Perbaiki Kualitas Lulusan SMK

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), menekankan pentingnya sertifikat lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak 1 (LSP-P1) bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Agar ke depan, SMK tersebut mampu menghasilkan tenaga kerja yang berdaya saing dan terampil.

“Jadi memang, tenaga kerja yang berdaya saing dan terampil menjadi prioritas output

dari SMK yang telah menerima sertifikasi LSP-P1,” jelas Asisten Deputi Pendidikan Menengah dan Keterampilan Kebekerjaan Kemenko PMK Raden Wijaya Kusumawardhana, Ahad (12/11).

Selain itu, dia mengatakan, pendidikan dan pelatihan vokasi harus fokus pada mutu dan relevansi materi yangs sesuai dengan dunia usaha dan industri yang terus berkembang. Sehingga, sedikit demi sedikit ketidakselarasan antara lulusan SMK dan kebutuhan industri pun dapat diminimalisasi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy

mengaku kesulitan mengendalikan kualitas SMK yang dikelola swasta. Terhitung dari 13.600 SMK di Indonesia, sebanyak 9.000 adalah swasta, dan 3.000 SMK di antaranya hanya memiliki siswa kurang dari 100 orang.

“Tapi walau begitu, kami tidak bisa menutup begitu saja SMK itu. Di sisi lain, SMK itu pun sulit dikendalikan kualitasnya,” jelas Muhadjir, di Jakarta.

Dalam kondisi tersebut, Muhadjir meminta, agar kepala sekolah bisa memikirkan

kemajuan sekolahnya tersebut. Misalnya dengan berwirausaha untuk kemajuan sekolah.

“Kan sudah tidak diwajibkan ngajar lagi. Cukup memajukan sekolah dengan berwirausaha,” jelas Muhadjir.

Baca Juga :

Sertifikasi Profesi Bisa Perbaiki Kualitas Lulusan SMKAkhiri Masa KKN, LPPM Univrab Gelar Work ShopUSBN Ditetapkan Hanya Tiga Mata PelajaranMetode Belajar

Akhiri Masa KKN, LPPM Univrab Gelar Work Shop

Akhiri Masa KKN, LPPM Univrab Gelar Work Shop

Sebanyak lebih kurang 160 mahasiswa Universitas Abdurrab (Univrab), pekan ini mengakhiri masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak.

Sebagai bentuk pamitan kepada segenap upika dan masyarakat setempat, LPPM

Univrab menggelar perpisahan sekaligus work shop dengan tajuk “Optimalisasi sumber daya pembangunan berbasis Melayu Islami di Kecanatan Sungai Mandau” yangbdigelar di Aula SMAN 1 Sungai Mandau, Kamis siang (10/8).

Camat Sungai Mandau Novendra Kasmara yang dikonfirmasi wartawan menyebut, mahasiswa Univrab peserta KKN tersebut telah berada di Sungai Mandau selama sebulan dan melaksanakan pengabdian di empat Kampung (Desa), yakni Kampung Sungai Selodang, Lubuk Jering, Muara Kelantan dan Olak.

” Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Kita tentunya berterimakasih kepada seluruh

mahasiswa peserta KKN dan para Dosen Univrab. Semoga pengabdian yang telah dilaksanakan di Sungai Mandau dapat menjadi bekal dikemudian hari,” tuturnya.

Koordinator KKN Univrab, Amir Syamsuadi MSi juga mengaku sangat apresiasi terhadap penerimaan masyarakat Sungai Mandau secara umum atas KKN tersebut. Kata Dia kerjasama antara mahasiswa dan masyarakat terjalin sangat baik dan harmonis.

“Mewakili segenap mahasiswa dan dosen kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah Kecamatan dan masyarakat Sungai Mandau yang telah menerima dan mendukung sehingga pelaksanaan KKN berjalan sesuai yang kami harapkan,” ujarnya.

Kepada seluruh mahasiswa, Ia berharap agar dapat mengambil hal-hal yang positif

selama menjalani KKN demi menunjang proses akhir perkuliahan di Kampus nantinya.

Dijelaskannya, selama KKN, para mahasiswa telah berbaur dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan, seperti diantaranya, turut serta dalam Posyandu, mengajar di PAUD dan TK dan SD, pengajian, kegiatan kantor Desa dan menyelenggarakan kegiatan MTQ, cerdas cermat, dan lain-lain.

“Kita berharap apa yang telah dilaksanakan mahasiswa disetiap lokasi KKN, memberi manfaat bagi masyarakat. Dan silaturahmi akan terus terjalin tidak berhenti sampai disini,” pungkasnya

Sumber :

http://ahmadali.wagomu.id/e107261.html

USBN Ditetapkan Hanya Tiga Mata Pelajaran

USBN Ditetapkan Hanya Tiga Mata Pelajaran

Rencana pemerintah menguji delapan mata pelajaran (mapel) dalam ujian sekolah berstandar nasional (USBN) tahun ini akhirnya batal dilaksanakan. Pemerintah menetapkan siswa sekolah dasar (SD) hanya diuji tiga mapel.

Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi mengatakan,

setelah dibahas kembali di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) maka USBN untuk siswa SD hanya akan menguji tiga mata pelajaran. Pihaknya akan menyiapkan langkah selanjutnya agar pelaksanaan USBN berjalan dengan lancar. “Berdasarkan pembahasan internal Kemendikbud, USBN SD/MI untuk tiga mapel,” katanya kepada KORAN SINDO kemarin.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini menjelaskan, tiga mapel ini ialah Bahasa Indonesia,

Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Diketahui pada ujian sekolah (US) tahun ajaran 2016/2017, siswa SD hanya mengerjakan tiga mapel tersebut. Sebelumnya diwacanakan USBN menguji Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, IPS, Pendidikan Kewarganegaraan, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, serta Pendidikan Agama.

Bambang mengatakan, dipilihnya tiga mapel itu saja karena ketiganya dianggap sebagai mapel utama atau fondasi yang mesti dikuasai siswa. Selain itu, juga kesiapan dan kemampuan guru-guru dalam menyiapkan soal untuk mapel yang lain perlu dilakukan dengan matang.BSNP sudah menyiapkan kisi-kisi soal ujiannya.

Menurut Bambang, para siswa SD ini akan menghadapi USBN sekitar April atau Mei. Mengenai kepastian tanggalnya, pemerintah menyerahkan secara langsung kepada sekolah. “Jadwal ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan. Sekitar akhir April atau Mei,” jelasnya.

Kepala Bidang Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud Giri Sarana Hamiseno menyatakan, finalisasi USBN hanya tiga mapel akan ditentu-

kan hari ini, Selasa (1/9/2018). “USBN tiga mapel besok akan difinalkan,” katanya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Sugianto Tandra mengatakan,

pemerintah perlu mempertimbangkan dengan matang apakah rencana kebijakan ini akan memunculkan kondisi pembelajaran yang menambah stres anak didik, seperti yang kerap dikeluhkan selama ini. Apalagi kebijakan ini juga mempertimbangkan penambahan beban yang diujikan yang dikhawatirkan akan memberatkan anak didik maupun guru yang harus mempersiapkan mereka.

“Ujian seharusnya tidak mesti didesain seperti itu, apalagi untuk diadakan setiap tahun. Selain penambahan beban yang perlu dipertimbangkan, perlu dipertimbangkan pula ujian yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali,” ujarnya.

Dia mengatakan, pemerintah seharusnya menerapkan kebijakan yang bisa memastikan anak bisa belajar tanpa stres atau tertekan. Oleh karena itu, penambahan beban yang diujikan menjadi tidak tepat.

Lebih lanjut Sugianto juga menjelaskan, ide untuk memberikan pertanyaan esai dalam

USBN perlu didukung dengan pelajaran seperti Menulis Akademik.

Hal ini perlu diajarkan sejak kecil, misalnya bagaimana menulis esai sederhana dalam lima paragraf. Hal ini juga harus dipertimbangkan oleh pemerintah karena belum semua siswa di Indonesia sudah mendapatkan cukup panduan terkait menulis akademis

Sumber :

http://ahmadali.wagomu.id/e107259.html

Metode Belajar

Metode Belajar

Metode Belajar
Metode Belajar

Ada beberapa komponen belajar mengajar yaitu:

1.      Tujuan

2.      Bahan pelajaran

3.      Kegiatan belajar mengajar

4.      Metode

5.      Alat

6.      Sumber belajar

7.      Evaluasi

Menurut Winarno Surahmad

Untuk memilih metode mengajar tidak bisa sembarangan, banyak faktor yang mempengaruhi dan patut dipertimbangkan. Misalnya seperti yang dikemukakan oleh Winarno Surahmad (1979):

1.      Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsi

2.      Anak didik dengan berbagai tingkat kematangan

3.      Situasi dengan berbagai keadaannya

4.      Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya

5.      Pribadi guru serta kemampuan prosesnya yang berbeda-beda

Karena banyaknya mata pelajaran maka tujuan untuk setiap mata pelajran pun berbeda-beda pula. (Djamarah, 2005: 222-223)

Menurut Djamarah

Seorang guru harus memilih metode mengajar yang akan digunakan dan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

1.      Berpedoman pada tujuan

2.      Perbedaan individu anak didik

3.      Kemampuan guru

4.      Sifat bahan pelajaran

5.      Situasi kelas

6.      Kelengkapan fasilitas

7.      Kelebihan dan keamanan metode. (Djamarah, 2000: 191)

Kesimpulan

Seorang guru tidak hanya bermodal ilmu pengetahuan tetapi juga seoarang guru harus memiliki kiat-kiat mengajar dalam hubungannya dengan fungsi sebagai pendidik dan pembimbing. Strategi penggunaan metode mengajar amat menentukan kualitas hasil belajar mengajar.

Titik focus yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik dalam kelas, salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh guru adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode apa yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Pemilihan dan penentuan metode ini didasari adanya metode-metode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan tertentu.

Baca Juga :

Persepsi Siswa Tentang Metode Guru Mengajar

Persepsi Siswa Tentang Metode Guru Mengajar

Persepsi Siswa Tentang Metode Guru Mengajar
Persepsi Siswa Tentang Metode Guru Mengajar

Kata persepsi berasal dari bahasa Inggris “perception” yang berarti penglihatan atau tanggapan. Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterprestasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain. Melalui persepsi kita dapat mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu karena persepsi dapat terjadi kapan saja.

Persepsi merupakan suatu proses pengamatan terhadap suatu objek yang menyangkut tanggapan mengenai kebenaran langsung, keyakinan terhadap objek tertentu. Manusia sebagai makhluk social yang sekaligus juga sebagai makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu satu dengan individu lainnya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap dan tingkah laku ditentukan oleh persepsinya.

Menurut Slameto

Slameto, (2003:102) menjelaskan bahwa melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungan. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya yaitu indera penglihatan, pendengar, peraba, dan penciuman. 

Suwarno, 2009: 53

Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif  yang dialami setiap orang ketika berusaha memahami informasi yang diterimanya. Suwarno, 2009: 53

Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan, maka persepsi dapat dikatakan sebagai suatu proses menyeleksi, mengorganisir dan menginterprestasikan stimuli dalam lingkungan.

Metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo

Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Menurut Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo “ Mengajar adalah menyajikan bahan pelajaran oleh orang kepada orang lain agar orang lain menerima, menguasai dan mengembangkannya. Di dalam lembaga pendidikan, orang lain yang disebut di atas disebut sebagai murid atau siswa dan mahasiswa, yang dalam proses belajar agar dapat menerima, menguasai dan lebih-lebih mengembangkan cara-cara mengajar serta cara belajar haruslah setepat-tepatnya dan seefisien mungkin.

Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang kurang baik pula. Metode mengajar yang kurang baik dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa untuk malas belajar. (Slameto, 2003: 65)

Keberhasilan belajar seperti yang kita harapkan sangat ditentukan oleh metode yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses belajar mengajar.

Menurut Djamarah dan Zain

Menurut Djamarah dan Zain (2000: 83) “Metode mengajar adalah suatu cara mengajar yang bersifat netral dan umum tidak diwarnai oleh bidang apapun, tetapi menggunakan unsur-unsur inovatif, karena memberikan alternatif  lain yang dapat digunakan dalam kelas”.

Sumber : https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/03/18-pengertian-kewirausahaan-menurut-para-ahli.html

Kompetensi Guru Mengajar

Kompetensi Guru Mengajar

Kompetensi Guru Mengajar

Kompetensi Guru Mengajar
Kompetensi Guru Mengajar

Kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di dalam proses belajar mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subjek belajar, dituntut kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai serta sifat-sifat pribadi, agar proses dapat berlangsung efektif dan efisien.

Kompetensi Guru

Ada sepuluh kompetensi guru meliputi:

1.      Menguasai bahan

2.      Mengelola kelas

3.      Mengelola program belajar mengajar

4.      Menggunakan media

5.      Menguasai landasan pendidikan

6.      Mengelola interaksi belajar mengajar

7.      Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran

8.      Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah

9.      Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah

10.  Memahami prinsi-prinsip dan menjelaskan hasil-hasil penelitian kependidikan guna keperluan pengajaran (Sardiman, 2007: 163-181)

Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar tetapi harus pandai mentransfer ilmunya pada peserta didik.

Menurut Hamalik

Menurut Hamalik, (2001: 60) menyatakan bahwa ada enam jenis pendekatan yang dapat digunakan untuk merumuskan kompetensi, yaitu sebagai berikut:

1.      Menerjemahkan pelajaran yang telah menjadi sejumlah kompetensi, yang tujuan tingkah lakunya harus diteliti kembali.

2.      Pendekatan analisis tugas yang harus dikerjakan, lalu ditentukan peranan-peranan apa yang diperlukan, selanjutnya ditentukan jenis-jenis kompetensi yang dituntut untuk itu.

3.      Pendekatan kebutuhan siswa di sekolah berdasarkan ambisi, nilai-nilai dan perspektif para siswa.

4.      Pendekatan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan kebutuhan masyarakat yang nyata selanjutnya disusun program sekolah dan program latihan yang perlu dilakukan.

5.      Pendekatan teoritis yang disusun secara logis dan melalui pemikiran deduktif dalam kerangka ilmu tentang tingkah laku manusia.

6.      Pendekatan kluster yang disusun berdasarkan program umum yang biasa berlaku berlangsung, misalnya dalam masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru yaitu:

1.      Kompetensi pedagogik, yaitu merupakan kemampuan dalam mengelola peserta didik yang meliputi: pemahaman wawasan/landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendididk, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2.      Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mengevaluasi kinerja sendiri dan pengembangan diri secara berkelanjutan.

3.      Kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik sebagai  bagian dari masyarakat umtuk:

Berkomunikasi lisan dan tulisan

Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional

Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, peserta didik

Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar

4.      Kompetensi professional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:

Konsep, struktur dan metode keilmuan/teknologi yang koheren dengan materi ajar

Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah

Hubungan konsep dasar dengan materi yang terkait

Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari

Kompetensi secara professional dalam konteks global dengan tetap memperhatikan budaya nasional(http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/21/kompetensi-guru-dan-peran-kepala-sekolah-2)

Guru adalah suatu jabatan profesi. Guru professional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar guru mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Guru yang dinilai kompeten secara professional apabila:

1.      Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

2.      Guru tersebut mampu melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil.

3.      Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidik (tujuan intruksional) sekolah.

4.      Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajara dan belajardalam kelas. (Hamalik, 2004: 38)

Selanjutnya Hamalik, (2006: 40) juga menyatakan agar guru mampu mengembangkan dan melaksanakan tanggung jawabnya, maka setiap guru harus memiliki berbagai kompetensi yang relevan dengan tugas dan tanngung jawabnya tersebut. Guru harus menguasai cara belajar yang efektif, mampu menguasai model satuan pembelajaran, mampu memahami kurikulum secara baik, mampu mengajar di kelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan nasihat dan petunjuk yang berguna, menguasai teknik-teknik dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan, mampu menyusun dan melaksanakan prosedur penilaian kemampuan belajar dan sebagainya.

Komponen-komponen kompetensi guru sangat penting untuk dilaksanakan oleh seorang guru, karena kompetensi guru merupakan salah satu indicator kualitas pendidikan di Indonesia. Kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru akan menunjukkan kualitas guru yang sesungguhnya. Kompetensi guru tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan yang profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai seorang guru.

Sumber : https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/09/sifat-wajib-dan-mustahil-bagi-nabi-dan-rasul-beserta-artinya.html

ARTI SEBUAH KESEMPURNAAN

ARTI SEBUAH KESEMPURNAAN

ARTI SEBUAH KESEMPURNAAN

Seorang lelaki yg sangat tampan dan sempurna merasa bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan yg sangat cantik dan sempurna pula untukjodohnya.Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya. Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petaniyg memiliki 3 anak perempuan dan semuanya sangat cantik. Lelaki tsb menemui bapak petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salahsatu anaknya tapi bingung ; mana yang paling sempurna.Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan siLelaki setuju.
Hari pertama ia pergi berduaan dgn anak pertama. ketikapulang,ia berkata kepada bapak Petani,” Anak pertama bapak memiliki satucacat kueecil, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan.”Hari berikutnya ia pergi dgn anak yang kedua dan ketika pulang diaberkata,”Anak kedua bapak juga punya cacat yang sebenarnya sangat kecilyaitu agak juling.” Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. begitupulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata,”inilah yangsaya cari-cari. Ia benar-benar sempurna.”Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga Petani ters ebut.
Sembilan bulan kemudian si Istri melahirkan. dengan penuh kebahagian, si Lelaki menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Ketika si anak lahir, Ia begitukaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Ia menemui bapak Petanidan bertanya ” Kenapa bisa terjadi seperti ini Pak. Anak bapak cantik dansaya Tampan, Kenapa anak saya bisa sejelek itu..?””Petani menjawab,” Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak kelihatan .Waktu itu Ia sudah hamil duluan…..”
Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kemudian kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segalasesuatunya akan terasa istimewa.

Meletakkan Beban

Meletakkan Beban

Meletakkan Beban

Alexis Carrel seorang ahli bedah kelahiran Lyons, Prancis, pejuang militer, sekaligus ilmuwan yang pernah mengilhami Charles Lindbergh dalam ilmu penerbangan, dikenal sebagai pekerja keras. Meski demikian pemenang Nobel Kedokteran 1912 ini tetap menyarankan agar kita mencari waktu untuk ngaso (istirahat, Red.) di tengah sempitnya kesempatan. Sebaiknya kita istirahat dan menghibur diri dengan berbagai cara sehingga istirahat dan hiburan tersebut tidak menimbulkan kelelahan baru. Manfaat ngaso bermacam-macam. Hari ini seorang profesor memulai kuliahnya dengan mengangkat sebuah gelas kaca penuh air di depan para mahasiswanya. “Berapa berat gelas ini?” Jawaban mahasiswa beragam, “Mungkin 100 gram, 150 gram, 1/4 kg.” “Saya sendiri juga tidak tahu kecuali kalau saya menimbangnya lebih dulu,” ujar sang profesor kalem, “Pertanyaannya adalah, apakah yang akan terjadi kalau saya memegang gelas ini selama beberapa menit?” “Tidak akan terjadi apa-apa,” jawab seorang mahasiswa.”Kalau saya memegangnya selama satu jam?” “Paling-paling tangan Anda akan kaku dan capek.” “Bagaimana kalau saya memegang gelas ini selama satu hari?””Tangan Anda akan kebas, orot-otot lengan menjadi kaku dan tegang. Kemungkinan terburuk bisa lumpuh.” Ok. Apakah selama itu berat gelas bertambah?” “Oh, tidak””Lantas, apa yang menyebabkan tangan saya sakit?” Suasana kelas berubah hening. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Kalau gitu, letakkan saja gelas itu di meja.” “Tepat!” kata profesor.
Beban hidup kita sama seperti itu. Kalau sebuah masalah kita pikirkan dalam beberapa menit, beberapa jam, masih OK. Namun kalau berhari-hari, berbulan-bulan terus dipikirkan sudah pasti akan membuat kita sakit. Memang penting memikirkan problem hidup. Namun jauh lebih penting kalau bisa “meletakkan’ problem itu sebelum kita tidur. Agar esok hari segar kembali untuk mencari jalan keluarnya. *Sumber: KCM – Sabtu, 07 Januari 2006