Mengenal Tentang Mikoyan MIG-31 (Foxhound)

Mengenal Tentang Mikoyan MIG-31 (Foxhound)

Mengenal Tentang Mikoyan MIG-31 (Foxhound)

Mengenal Tentang Mikoyan MIG-31 (Foxhound)
Mengenal Tentang Mikoyan MIG-31 (Foxhound)

Mikoyan-Gurevich MiG-31 (Kode NATO: Foxhound) pantas disebut sebagai salah satu interceptor paling tangguh yang masih operasional saat ini. Kekaguman atas ketangguhannya meliputi performa, persenjataan dan avionik. Walau sudah terbang sejak 30 tahun silam, monster kilat satu ini masih diakui sebagai salah satu elemen pertahanan udara terhebat Rusia. Dibentuk sebagai tulang punggung sejak masa Perang Dingin, MiG-31 Foxhound masih akan menjaga pos-pos strategis pertahanan udara Rusia pada abad 21 ini.

Soviet memulai riset pengembangan pesawat berkemampuan jarak jauh untuk menggantikan Tupolev Tu-28 dan MiG-25 Foxbat. Riset ini dimulai akhir 1960. Selain itu, proyek juga dimaksudkan untuk mencari penangkal ancaman rudal jelajah ketinggian rendah yang diluncurkan dari pesawat AS dan NATO, pembom B-52 atau B-1. Hanya saja karena kelahiran MiG-25 terpancing oleh rencana kelahiran pembom berkecepatan Mach 3 B-70 Valkyrie, kehadirannya jadi tidak efektif untuk menangkal pembom NATO.

Kondisinya makin runyam menyusul diubahnya taktik penggelaran pesawat tempur dan pembom NATO sejak 1960-an. Pesawat-pesawat Barat lebih memilih terbang rendah guna menghindari ancaman rudal darat ke udara (SAM). Sementara rudal jelajah terbaru yang digunakan Barat berkemampuan terbang rendah pada kecepatan tinggi, hingga membuatnya susah dicegat. Sudah jelas, MiG-25 tidak siap untuk mencegat rudal yang datang pada kecepatan supersonik di ketinggian rendah.

Fakta inilah yang mendasari kenapa Rusia butuh jet pencegat yang mampu beroperasi pada berbagai level ketinggian dengan kecepatan supersonik. Dengan demikian, semua target yang ada, sebesar apapun, akan mampu dilibas.

Kebutuhan ini langsung direstui Kremlin. Dimulai pada 1967, proyek ini diberi nama MiG-31. Pada 24 Mei 1968, Pemerintah Soviet mengirimkan order produksi untuk prototipe Ye-155MP. Saat itu MiG-31 mengusung radar Zaslon yang mampu mendeteksi semua tipe target terbang pada jarak jauh dan di berbagai ketinggian. Dengan demikian, MiG-31 bersifat independen dari ground control. Dalam kondisi normal operator radar belakang bertugas menuntun pilot ke target, namun MiG-31 juga bisa dipandu dari bawah menggunakan digital datalink.

Pengembangan

Prototip MiG-31, diberi kode Ye-155MP (serial 831) terbang perdana 16 September 1975 dengan pilot uji kepala Aleksandr Fedotov di kokpit. Fedotov dan krunya gugur, ketika MiG-31 jatuh setelah mengalami kegagalan sistem pada 4 April 1984. Sangat mirip dengan MiG-25, walaupun merupakan sebuah desain yang benar-benar baru, tetapi bertempat duduk ganda dengan operator senjata duduk di belakang pilot. 16% dari tubuhnya menggunakan bahan titanium, sementara 33% adalah aluminium. Material ini mampu mengurangi bobot namun kuat. Tangki bahan bakar diperbesar serta mesin nya menggunakan mesin turbofan low-bypass yang lebih efisien.

Prototipe kedua (serial 832) yang terbang 22 April tahun berikutnya, masih dipiloti Fedotov. Pesawat ini selain sudah dilengkapi avionik lengkap termasuk radar Zaslon dan sensor infra merah, luas sayap juga sudah dikurangi dan fin di bawah sayap yang lebih kecil.

Pada 1977 dua pesawat pra-produksi dibuat oleh Sokol Aviation Manufacturing Plant di Nizhny Novgorod. Pesawat pertama terbang 30 Juni dan kembarannya 13 Juli. Dibanding dua prototipe sebelumnya, pesawat ini terlihat beda. Bentangan flaps meningkat, sayap direvisi, ekor tegak lebih tinggi dan pemasangan kanon GSh-6-23 masing-masingnya mengusung enam laras kaliber 23 mm.

Pesawat pertama dikirim ke AU Soviet pada 1981 dan beroperasi tiga tahun kemudian. Sampai akhir 1980-an, MiG-31 beroperasi dari 11 resimen pertahanan udara untuk menggantikan MiG-23, Su-15 dan Tu-28. Pada 1987, lebih dari 150 MiG-31 digelar di penjuru negeri, khususnya di timur dan barat Soviet.Mei 1977 menandakan dimulainya pengujian resmi putaran pertama yang berakhir Desember 1978. Mengikuti hasil yang memuaskan dengan salah satu hasil MiG-31 mampu menjejak tidak kurang dari 10 target secara simultan, produksi akhirnya diputuskan untuk dimulai di Sokol pada 1979, dan masuk dinas aktif tahun 1982 dengan komando pertahanan udara Soviet (Войска ПВО / Voyska PVO (Protivo-Vozdushnaya Oborona) / Anti-Air Defense). Produksi terakhir diserahkan April 1994.

Pesawat pertama dikirim ke AU Soviet pada 1981 dan beroperasi tiga tahun kemudian. Sampai akhir 1980-an, MiG-31 beroperasi dari 11 resimen pertahanan udara untuk menggantikan MiG-23, Su-15 dan Tu-28. Pada 1987, lebih dari 150 MiG-31 digelar di penjuru negeri, khususnya di timur dan barat Soviet.

Beragam varian pesawat digunakan selama pengujian MiG-31. Termasuk dua Tu-104 sebagai platform uji radar Zaslon, MiG-21 untuk pengembangan rudal R-33 serta tiga MiG-25 untuk rudal R-33, mesin dan integrasi avionik. Putaran kedua uji resmi dimulai September 1979 dan berakhir setahun kemudian.

Ye-155MP membawa radar baru yang lebih canggih, yang mampu mendeteksi sasaran diatas maupun dibawah pesawat, serta mengunci beberapa sasaran sekaligus.

Sekitar 500 MiG-31 diproduksi. Sejak pecahnya Uni Soviet, 280-300 masih aktif di Rusia, sementara 30 lainnya dioperasikan oleh Kazakhstan.

Desain

MiG-31 mirip dengan MiG-25, dengan saluran intakeberada disamping badan dengan sayap yang terpasang di belakangnya dan memiliki dua sirip vertikal. Memiliki konstruksi yang lebih kuat dari MiG-25, namun dibatasi untuk manuver 5G pada kecepatan supersonik, karena MiG-31 tidak dirancang untuk pertempuran jarak dekat (dogfight).

Ditenagai sepasang turbofan Soloviev D-30F6, MiG-31 memiliki kecepatan maksimum Mach 2,83 di ketinggian, serta berkat strukturnya yang lebih kuat dari MiG-25, mampu terbang dengan kecepatan Mach 1,23 di ketinggian rendah. MiG-31 sesungguhnya mampu terbang sampai Mach 3, tetapi kecepatan tinggi tersebut dapat mengurangi umur rangka pesawat (airframe) dan mesin.

MiG-31 membawa bahan bakar sebanyak 16,350 kg (36,050 lb) dengan tambahan sepasang tangki cadangan kapasitas 5000 liter (1320 galon) di bawah sayap. Pada versi berikutnya memiliki sistem penambahan bahan bakar diudara (aerial refuelling).

MiG-31 diterbangkan oleh seorang pilot dibantu seorang operator radar yang duduk di kokpit belakang.

MiG-31 dan merupakan pesawat tempur pertama didunia yang dilengkapi radar phased-array, yaitu Zaslon S-800. Radar ini memiliki jarak deteksi terhadap sasaran kecil sejauh 200 km (125 mil), serta mampu mengunci 10 sasaran dan menyerang 4 sasaran secara bersamaan. MiG-31 juga memiliki penjejak infra merah (IRST / Infra-red Search and Tracking) yang dapat dikeluar-masukkan dari bawah hidungnya.

Versi pengembangannya dinamai MiG-31M ‘Foxhound-B’ memiliki radar Zaslon-M dengan jarak deteksi lebih jauh, sekitar 400 km (250 mil) untuk sasaran seukuran AWACS, serta mampu menyerang 6 sasaran sekaligus. Versi ini juga memiliki pod ECM (Electronic Counter Measures) diujung sayapnya.

Empat MiG-31 dapat bertindak sebagai pesawat mini-AWACS dengan masing-masing memonitor wilayah seluas 200 km dan saling berkoordinasi dengan datalink.

MiG-31 memiliki empat gantungan senjata dibawah sayap dan dapat membawa empat rudal jarak jauh R-33 (‘AA-9 ‘Amos’) sebagai senjata utama. Bisa juga membawa R-40 (AA-6 ‘Acrid’), ataupun rudal jarak pendek R-60 (AA-8 ‘Aphid’) dan R-73 (AA-11 ‘Archer’). Beberapa MiG-31 dimodifikasi agar mampu membawa rudal R-77 (AA-12 ‘Adder’). MiG-31 juga memiliki kanon 23mm 6-laras GSh-6-23 dengan 260 butir peluru yang terletak di depan roda pendarat kanan. Tetapi pada versi MiG-31M kanon ini dihilangkan agar dapat membawa tambahan dua rudal R-33 atau R-37

Penampakkan pertama 

Sekitar 315 MiG-31 diyakini masih aktif di jajaran pertahanan udara Rusia. Sekitar 34 di antaranya tertinggal di Kazakhstan, tepatnya di pangkalan di Semipalatinsk, menyusul ambruknya Uni Soviet. Walau dari segi teknologi sudah terbilang ketinggalan, pabrikan Sokol sepakat untuk siap memproduksi kembali tandingan F-15E Strike Eagle ini mesti dalam jumlah terbatas. Hanya saja sejauh ini seperti dilaporkan AirForces Monthly (12/2006), belum satu pun order diterima meski Iran dan Syria menunjukkan minat terhadap monster satu ini.

Bagi dunia Barat, tabir MiG-31 mulai tersibak sejak pembelotan pilot Viktor Ivonovich Belenko dengan mendaratkan MiG-25 di Jepang, September 1976. Saat diinterogasi otoritas AS,  Belenko mengungkapkan keberadaan MiG-31. “MiG-31 is a super Foxbat with two seats, a strengthened fuselage and powerful look-down/shoot down radar,” jelas Belenko. Sejak itu, AS dan NATO gigih melacak keberadaan si super Foxbat.

Seperti apa gerangan dan secepat apa terbangnya?

Hingga satu hari di tahun 1978, satelit mata-mata AS menangkap sebuah prototipe atau mungkin sebuah pesawat praproduksi terbang di ketinggian 6.000 m. “Benda” aneh itu terpantau tengah menyegat rudal jelajah (target drone) di ketinggian 60 m dan pada jarak 20 km dari MiG-31. Tahun 1982 NATO akhirnya mengimbuhkan nama Foxhound kepada MiG-31. Barulah pada 1985, pihak Barat punya foto bukti ketika pilot AU Norwegia mengintersep Foxhound di atas Laut Barents sambil tak lupa mengarahkan kameranya. Akhirnya pada Paris Airshow 1991, Rusia untuk pertama kali mempertontonkan MiG-31 di depan mata rivalnya.

Seperti roket

Walau MiG-31 selintas mirip MiG-25, pesawat ini sepenuhnya baru. Bisa dilihat dari konfigurasi dasarnya high-mounted swept wing, air intake empat persegi yang diagonal di kedua sisi, dua sirip perut di bawah ekor dan dua lagi sirip meruncing di kedua sisi mesin. Perbedaan menyolok lainnya ada pada LERX (Leading Edge Root Extension) yang mempunyai sudut bujur (sweep angle) 70 derajat. Kedua sayap didesain swept back 41 derajat. MiG-31 juga mengusung airframe sama sekali baru yang diperkuat hingga 5 g (gravitasi). Bandingkan dengan MiG-25 yang hanya 4,5 g. Itulah alasan mengapa MiG-31 mampu melaju supersonik di ketinggian rendah. Bahkan untuk sea level, jet ini mampu melesat Mach 1,2.

Soal airframe, jabarannya begini. Sekitar 49% arcwelded nickel steel, 33% light metal alloy, 16% titanium dan 2% composite. Dengan komposisi badan seperti ini, MiG-31 lebih ringan dari pesaingnya namun jelas lebih berat dari MiG-25. Sejumlah pilot yang pernah menerbangkan MiG-31 mengaku takjub. Canggih, kencang, bisa jarak jauh dan menanjak seperti roket, begitu kesan mereka.

Roda pendarat tak lepas dari perhatian. Sama sekali baru dengan pola segitiga. Karena bobotnya yang berat, setiap roda menerapkan sistem ganda. Baik roda depan maupun roda pendarat utama. Yang unik di main landing gear. Setiap roda dipasang ganda dengan bentuk menyilang. Roda ini masuk ke kompartemen penyimpan roda dengan cara naik ke depan, ke arah air intake. Dengan bentuk unik dan cara menggelinding saling memperkuat, membuat MiG-31 mampu dioperasikan dari lapangan bersalju maupun tradisional. Masih karena performanya, rem udara (air brake) mini tergantung di depan engine intake. Unik memang dan sistem penahan laju ini masih diperkuat sepasang parasut yang ditempatkan di bagian atas mesin.

Salah satu syarat penting MiG-31 sebenarnya bukan lagi bagaimana menaikkan kecepatan tetapi bagaimana menambah jarak jangkau terbang. Jawabannya tentu saja ada pada mesin yang lebih efisien. Sepasang mesin Soloviev D-30F6 turbofan dipilih karena setiap mesin mampu menyemburkan tenaga sebesar 20.945 pon (93,16kN). Akan mencapai 34.170 pon (151,99kN) jika menggunakan afterburning.

D-30F6 sebenarnya bukanlah mesin baru, karena sudah dikembangkan untuk komersial dan mengadopsi bahan bakar high density T6. Hanya saja karena ukurannya yang besar (panjang 7.040 mm, diameter 1.020 mm) dan kapasitas besar, air intake mesti diperluas untuk mampu memasok udara yang dibutuhkan.

Pembesaran bodi MiG-31 juga diperlukan untuk menampung lebih banyak bahan bakar hingga mencapai 19.940 liter. Bahan bakar ini dipilah-pilah di tujuh tangki bodi, empat tanki sayap dan dua tangki lagi di fin. Jika masih diperlukan, ditambahkan tangki di setiap sayap dengan kapasitas masing-masing 2.500 liter.

Avionik

Awalnya para perancang menginginkan kedua kru duduk secara berdampingan (side by side) sebelum akhirnya diputuskan sistem tandem. Pilot di depan dan “pilot kedua” (weapons system officer) di belakang. Kanopi didesain mandiri untuk setiap kru. Untuk kanopi belakang, ditambahkan jendela kecil yang kurang menguntungkan untuk memantau kondisi luar bagi rear crew. Sebagai kompensasi operator radar dilengkapi retractable periscope. Sebagaimana lazimnya di pesawat tempur berkursi tandem, kru kedua juga mampu menerbangkan pesawat dalam keadaan emerjensi.

Soal keamanan terbang, kursi lontar zero-zero Zvezda K-36DM tak diragukan kemampuannya. Menyatu dengan kursi adalah bantal pemijat untuk menjamin pilot tetap nyaman saat melaksanakan patroli jarak jauh. Tak hanya itu, juga tersedia pemanas punggung untuk alasan serupa.

Salah satu kunci kesuksesan MiG-31 adalah avionik digital versi terakhir dan radar jarak jauh. Sensor utamanya adalah NIIP Zaslon S-800 yang mampu memindai secara elektronik dan mengatur penembakkan.

Sebagai radar pertama yang dioperasikan, radar ini memberi pengecualian, dengan mampu mengendus target sejauh 124 km kedepan dan 90 km ke belakang. Saat bersamaan Zaslon akan melacak target sejauh 120 km. Zaslon disebut sebagai radar Soviet pertama berkemampuan look down shoot down. Pasalnya radar ini mampu melacak 10 target secara bersamaan dan “menghadiahi” empat di antaranya dengan rudal R-33 Vympel (versi terbaru R-37). Begitulah cara kerja komputer misi digital Argon 15.
Penting diungkap juga dukungan sistem komunikasi APD-518 digital air to air datalinks. Kelebihannya adalah, ketika empat pesawat terbang dalam formasi grup pencegat, pesawat komando bisa tersambung dengan jaringan pemandu otomatis AK-RLDN di darat. Sementara pesawat lainnya mendapat pasokan informasi dari pesawat komando. Dengan formasi dua-dua, sapuan radarnya akan terakumulasi jadi seluas 900 km.

Untuk optimalisasi misi, datalinks terhubung dengan radar terbang (AWACS) Antonov An-50 Mainstay. Selain itu MiG-31 juga dilengkapi MB5U15K air to ground tactical datalink dan jalur komando BAN-75.

Begitu pula avionik navigasi yang sangat sempurna untuk mendukung MiG-31 terbang ke wilayah udara Arctic guna mencari pesawat Barat yang mengancam. Bayangkan terbang di hamparan Kutub Utara yang tak bersahabat.

Untuk itu sistem avionik navigasi canggih jadi syarat tak terbantahkan. Terdiri dari navigasi radio jarak jauh Marshrut dan jarak menengah Tropik (sebanding dengan Omega dan Loran di AS). Hal-hal lainnya adalah voice warning system, intercom and radar homing and warning system (RHAWS). Sementara alat bela diri elektronik diperkuat UV-3A flares dispensers. Tak seperti MiG-25, MiG-31 dilengkapi internal gun GSh-6-23M enam laras Gatling kaliber 23 mm.

Sebagai keputusan Rusia untuk mempertahankan MiG-31 minimal hingga 2010, dipastikan akan dilakukan sejumlah upgrading di kemudian hari. Apapun itu, pencegat tercepat ini akan tetap terbang hingga beberapa tahun ke depan, mengawal ruang udara Rusia.

Varian

MiG-31B “Foxhound-A

Setelah varian pertama MiG-31A, MiG-31B, diperkenalkan tahun 1990, dengan perkuatan radar Zaslon-A, ECM, electronic warfare, meningkatkan rudal R-40TD dan R-60, upgrade R-33, flight refueling probe dan meningkatkan sistem navigasi jarak jauh A-723 kompatibel dengan Loran/Omega dan stasiun darat Chaika. MiG-31B “tua” di-upgrade jadi MiG-31BS dan Juli 2000, setengah dari 280 aset AU di-upgrade.  MIG-31 BS adalah MiG-31 versi awal yang diupgrade menjadi MiG-31B tetapi tidak memiliki sistem in-flight refueling

MiG-31E

Nama untuk versi ekspor Foxhound A. Pengurangan pada sistem, tidak ada jammer aktif, pemangkasan IFF dan radar. Ditawarkan ke Cina dan India. Satu-satunya prototipe varian ini terlihat pada 1997, itu pun akhirnya dibatalkan.
MiG-31 Eh. Eh berarti ekspor, ditawarkan ke Cina tahun 2000 dan diumumkan di Zhuhai Air Show 2000. Sepertinya juga batal.

MiG-31F

Diproyeksikan sebagai multi role interceptor dan fighter-bomber dengan mampu membawa TV, radar dan rudal udara ke permukaan berpenuntun laser.

MiG-31BM ‘Foxhound-B’

Diambil dari MiG-31F, merupakan varian defense suppression dan serangan darat. Demonstratornya terlihat tahun 1998 dan dibuat untuk menggantikan MiG-31M. Jika umumnya MiG-31 upgrade mendapat perkuatan struktur untuk meningkatkan masa pakai, tidak jelas apakah MiG-31BM juga mendapatkannya. Dua MiG-31BM dibuat dan prototipenya dipublikasikan pada 1999. Mampu membawa rudal Kh-31 (AS-17 ‘Krypton’), Kh-59 (AS-13 ‘Kingbolt’), Kh-59M (AS-18 ‘Kazoo’), and Kh-29 (AS-14 ‘Kedge’).

MiG-31D

Dikhususkan sebagai platform pembaca rudal antisatelit. Gampang dikenali dari bagian perut yang rata. Setelah uji terbang 1987, produksinya dibatalkan.

MiG-31FE/MF

Varian yang disiapkan sebagai versi ekspor dari MiG-31BM atau MiG-31F.

MiG-31LL

LL yang merupakan singkatan dari “laboratorium terbang” dalam bahasa Rusia, dibuat sebagai pesawat uji di pusat uji terbang Zhukovsky. Salah satunya sebagai penguji kursi lontar. Juga dilaporkan dipasangi kamera di wingtips.

MiG-31M Foxhound B

Versi canggih yang dikembangkan tahun 1983, tapi belum diproduksi karena masalah pemotongan anggaran, walau sudah terbang pada 21 Desember 1985. Sentuhan radikal terlihat pada mesin, akomodasi, avionik, navigasi, senjata, kapasitas bahan bakar diperbesar,penambahan pod ICM diujung sayap, penambahan dua gantungan senjata serta membawa versi rudal R-33 (AA-9 ‘Amos’) terbaru dan struktur. Prototipe pertama yang diproduksi dari konversi MiG-31B, jatuh pada 9 Agustus 1991.

MiG-31S

Ditargetkan untuk mengisi kebutuhan komersial pesawat peluncur satelit kecil.

Fakta MiG-31

  • Berat total MiG-31 sebanding dengan berat 4 MiG-29 kondisi kosong atau 2 pembom Canberra.
  • Kanon GSh-23 mampu menembakkan 6.000-8.000 peluru/menit.
  • Mampu menembak jatuh rudal jelajah di ketinggian rendah dari jarak 20 km dan ketinggian 6 km.

Operator

Kazakhstan

Rusia

Spesifikasi

Panjang: 21,5 m(70 kaki 5 inci)

Rentang Sayap: 14,02 m

Tinggi: 6,60 m

Luas Sayap: 61,41 m2

Berat Kosong: 22.000 kg

Berat Normal: 36.720 kg

Mesin: 2 Soloviev D-30F6 turbofan (93 kN/20.900 lb) dengan afterburner (152 kN/34.172 lb).

Kecepatan Maksimum: 1500 km/j (930 mph) di permukaan laut; 3000 km/j (1860 mph) di ketinggian

Jarak Tempuh: 1250 km

Ketinggian Maksimum: 20.600 m

Rate-of-climb: 208 m/detik (41.000 kaki/menit)

Wing-loading: 666 kg/m2 (136 lb/kaki2)

Thrust-to-weight: 0,85

Persenjataan

1 GSh-6-23 kanon kaliber 23mm 260 peluru

4 Rudal R-33 (AA-9 ‘Amos’) dibawah badan atau 4 Rudal Vympel R-37 (AA-X-13 “Arrow”) Versi terbaru MiG 31M bahkan dapat membawa 6 Rudal R-37

4 gantungan senjata di bawah sayap untuk 2 R-40R/R-40T (AA-6 ‘Acrid’), 4 R-60 (AA-8 ‘Aphid’) atau R-73 (AA-11 ‘Archer’) atau R-77 (AA-12 ‘Adder’)

Versi fighter-bomber atau multi-role dapat membawa bermacam-macam rudal udara-permukaan maupun rudal antiradar

 

Baca Artikel Lainnya: