Pendidikan

Memerangi Orang-Orang Murtad

Memerangi Orang-Orang Murtad

Pemerintahan Abu Bakar As-Shidiq pernah digoncang persoalan disintegrasi (memisahkan diri), yaitu beberapa suku bangsa Arab dari Hijaz dan Nejed menyatakan melepaskan diri dari sistem dan kekuasaan kekhalifahan resmi bagi umat Islam itu. Bentuk pembangkangan tersebut misalnya menolak membayar zakat dan tidak mengakui sistem pemerintahan Islam. Adapula yang bahkan kembali kepada agama lama yaitu menyembah  berhala. Suku-suku tersebut beralasan bahwa mereka hanya loyal terhadap perjanjian dengan Nabi Muhammad SAW sehingga dengan wafatnya Nabi SAW tidak ada lagi alasan untuk tetap loyal kepada Islam.
Abu Bakar As-Shidiq sangat memahami sifat kesukuan yang sangat kuat cenderung kepada pemimpinnya kerana memenag bangsa Arab terkenal memilii sifat kesukuan yang sangat tinggi. Mereka sangat egois dan selalu merasa bahwa suku mereka adalah yang tertinggi. Dampak dari kuatnya sifat paternalistik itu maka ketika pemimpin mereka memeluk Islam, rakyatnya juga Islam semua. Padahal kalau memeluk Islam para pemimpin itu akan kehilangan pengaruh dalam masyarakat mereka karena pemimpin suku harus tunduk dengan aturan Islam. Hal ini juga dapat menyebabkan adanya gerakan murtad (riddah), apalagi tingkat keimmana mereka masih lemah.
Hal itu tentu menimbulkan gangguan dan ancaman bagi persatuan dan stabilitas pemerintahan, karena gerakan itu terjadi hampir di seluruh negeri di Jazirah Arab. Menghadapi keadaan yang berbahaya tersebut, khalifah Abu Bakar As-Shidiq menunjukkan sikap tegasnya. Misalnya dalam ucapannya bahwa andai saja zakat itu hanya sautas tali unta, tetapi mereka tidak mau menunaikannya, mak akan tetap diperangi. Meski demikian khalifah Abu Bakar As-Shidiq berpesan kepada para panglima agar tetap mengedepankan pendekatan dakwah untuk memperoleh kemenangan dan kedamaian.
Dengan ketegasan khalifah Abu Bakar As-Shidiq, banyak di antara mereka yang berpikir untuk melawan sehingga mereka tunduk lagi kepada pemerintahan Islam, selebihnya mereka ada yang memilih perang daripada harus berdamai dengan pasukan Islam. Para pembangkang itu dipimpin oleh para Nabi palsu.
Dikatakn sebagai Nabi palsu karena mereka mengangkat dirinya sebagai Nabi untuk menghancurkan Islam. Para nabi palsu itu antara lain:
a.       Aswad Al-Ansi
b.      Tulaihah bin Khawailid Al-Asadi
c.       Malik bin Nuwairah
d.      Musailamah Al-Kadzab
Aswad Al-Ansi adalah pemimpin suku Badui di Yaman, mereka berhasil merebut Najram dan Sana dari kekuasaan Islam. Pemberontakan Aswad Al-Ansi segera ditangani oleh Abu Bakar As-Shidiq dengan mengirimkan Zubair bin Awwam untuk menghancurkan mereka. Ketika Zubair bin Awwam tiba di Yaman, Aswad Al-Ansi telah mati terbunuh ditangan gubernur Yaman, pasukan Islam kembali berhasil menguasai Yaman.
Tulaihah bin Khawailid Al-Asadi juga mengaku dirinya sebagai nabi, para pengikutnya berasal dari Bani Asad, Bani Ghatafan, dan bani Amir. Khalifah Abu Bakar As-Shidiq segera tanggap kemudian memerintahkan Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan dan memerangi mereka. Pertempuran yang terjadi di dekat sumur Buzakkah itu akhirnya berhasil dimenangkan oleh pasukan muslim.
Malik bin Nuwairah yang menguasai Bani Yarbu dan Bani Tamim, tidak lagi mengakui kebenaran Islam, sepeninggalan Rasulullah SAW. Setelah upaya damai tidak ditanggapi, kecuali menantang perang maka pasukan Khalid bin Walid bergerak menuju perkampungan mereka. Malik bin Nuwairah mati terbunuh dalam pertempuran tersebut. Hal itu membuat pasukan musuh bercerai berai dan banyak juga yang melarikan diri ke luar daerah.
Musailamah Al-Kazab adalah nabi palsu yang mendapat pengikut dari Bani Hanifah di Yamamah. Ia mengawini Sajah yang juga mengaku sebagai nabi, tetapi berasal dari agama Kristen. Suami istri itu kemudian berhasil membentuk pasukan besar yang berkekuatan 40.000 orang. Menghadapi pasukan besar itu, khlifah Abu Bakar As-Shidiq segera memerintahkan Ikrimah  bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah untuk menghancurkan mereka.
Pada pertempuran itu pasukan di bawah pimpinan Ikrimah terdesak, tetapi tak berselang lama pasukan Muslim pimpinan Khalid bin Walid datang tepat waktu sehingga serangan berbalik. Pasukan Muslim bertempur tanpa mengenal takut didasari jihad fi sabilillha. Akhirnya pasukan kaum pemberontak itu dipukul mundur, lebih dari 10.000 orang dari pasukan murtad terbunuh, termasuk sang nabi palsu Musailamah Al-Kazab.

Sumber :

https://dunebuggyforsale.org/facebook-akan-batasi-artikel-engagement-bait/