Konformitas

Konformitas

Konformitas

Pernahkah Anda melihat seorang anak laki-laki bermain mobil-mobilan, perang-perangan, atau bermain dengan alat-alat bangunan, sedangkan anak perempuan bermain dengan boneka, alat-alat memasak, atau alat-alat kecantikan? Bagaimana kesan Anda melihatnya? Sebaliknya, bagaimana kesan Anda jika ada anak perempuan yang lebih senang bermain mobil-mobilan atau perang-perangan, sedangkan anak laki-laki bermain boneka?

Pada kasus pertama, apa yang dilakukan anak laki-laki dan anak perempuan itu umumnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Sementara pada kasus kedua, anak perempuan itu akan dianggap “tomboi” dan anak laki-laki itu akan dijuluki “kemayu” atau “kewanita-wanitaan”.

Anggapan terhadap kedua kasus itu merupakan contoh bahwa peran seseorang di dalam kehidupan bermasyarakat telah ditanamkan sejak kecil. Perilaku anak laki-laki dan anak perempuan pada kasus pertama dikatakan sesuai (konform) terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Sementara pada kasus selanjutnya, kedua anak itu dikatakan menyimpang karena tidak berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat (non-konform). Hal yang sama terjadi pula pada kasus-kasus kekerasan dan kejahatan.

Kenapa seseorang bersikap konformis dan non-konformis terhadap nilai dan norma sosial?
Sejak lahir, orang tua dan lingkungan sekitar kita berusaha agar kita berperilaku sesuai dengan jenis kelamin yang kita miliki. Anak laki-laki diharapkan berperilaku aktif, menyukai tantangan, berani, dan kreatif, sementara anak perempuan diharapkan berperilaku lembut dan pasif. Oleh karenanya, sering kita jumpai anak laki-laki mendapatkan mainan mobil-mobilan, alat-alat elektronik, atau mainan perang-perangan, sedangkan anak perempuan mendapatkan mainan boneka atau alat-alat memasak.

Melalui proses sosialisasi, identitas jenis kelamin seorang anak ditanamkan. Anak akan konformis terhadap peran sebagai anak perempuan atau anak laki-laki sesuai dengan harapan masyarakat.

Proses sosialisasi menghasilkan konformitas. Menurut John M. Shepard, konformitas merupakan bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat di mana ia tinggal. Konformitas berarti proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara menaati norma dan nilai-nilai masyarakat. Sementara itu, perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai dalam masyarakat disebut sebagai perilaku non-konformis atau yang dikenal dengan sebut perilaku menyimpang (deviance).

Pada dasarnya, kita semua cenderung bersifat konformis. Kita cenderung menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan kelompok tempat kita berinteraksi sehari-hari. Contoh, pada akhir pekan, teman-teman sekelas berencana pergi ke pantai. Kita yang tadinya berniat tinggal di rumah akhirnya ikut pergi karena melihat semua teman-teman kita pergi.

Konformitas pada masyarakat tradisional berbeda dengan masyarakat modern. Konformitas masyarakat tradisional terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku sangat kuat. Pada masyarakat tradisional di mana tradisi masih sangat kuat, norma dan nilai sosial berlaku secara turun temurun. Isi norma dan nilai tersebut sama dari satu generasi ke generasi selanjutnya tanpa banyak mengalami perubahan. Norma dan nilai sosial pada masyarakat tradisional cenderung homogen sebab pengaruh dari luar masih kurang. Penyimpangan dalam masyarakat tradisional tidak disukai sebab dianggap mengganggu tradisi.

Sementara pada masyarakat modern seperti di kota-kota, anggota-anggotanya selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan, sebab kota merupakan jalan masuk pengaruh-pengaruh luar. Oleh karena itu, konformitas di daerah perkotaan sangat kecil dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bahkan konformitas di masyarakat perkotaan kadang dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Sumber : https://forbeslux.co.id/