Kesusastraan Hindu-Budha dan Islam di Nusantara

Kesusastraan Hindu-Budha dan Islam di Nusantara

Kesusastraan Hindu-Budha dan Islam di Nusantara

Kesusastraan Hindu-Budha dan Islam di Nusantara
Kesusastraan Hindu-Budha dan Islam di Nusantara

Asal usul masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Berawal dari aktivitas perdagangan di antara kedua negara, pengaruh India bisa masuk dan berkembang di Indonesia. Ada beragam teori yang menganalisis masuknya pengaruh India itu. Siapa tokoh dan apa pendapatnya tentu telah kamu ketahui dengan pasti. Namun, menurut J.L.A. Brandes, sebelum kedatangan pengaruh India, masyarakat Indonesia telah mengenal dan mempunyai sepuluh kepandaian, yaitu pengecoran logam, membuat figur manusia dan hewan dari batu dan kayu, mengenal instrumen musik, mengenal ragam hias, sistem barter, astronomi, navigasi, tradisi lisan, sistem irigasi, dan penataan masyarakat.

Kesepuluh keahlian itu bisa kita temukan peninggalan sejarahnya. Nah, setelah berinteraksi dengan bangsa India, masyarakat Indonesia semakin diperkaya dengan kebudayaan India. Apa saja bentuk kebudayaan India yang masuk ke Indonesia dan apa pengaruhnya bagi masyarakat. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/)

  1. Bahasa dan Sastra Periode Hindu-Buddha

Adanya tradisi batu besar sudah ada sejak zaman prasejarah. Batu-batu besar atau yang dikenal dengan megalitikum telah digunakan oleh nenek moyang kita dalam berbagai keperluan upacara adat.

Dizaman sejarah, manusia sudah mengenal tulisan dan manusia mulai menuliskan sejarahnya dibenda-benda tertentu. Misalnya Aksara yang digunakan dalam prasasti Yupa adalah aksara Pallawa yang berasal dari India. Aksara tersebut merupakan turunan dari aksara Brahmi, yang menjadi cikal bakal semua aksara di India dan Asia Tenggara.

Silsilah aksara Nusantara selengkapnya sebagai berikut.

Sejak nenek moyang kita berinteraksi dengan bangsa India, kita telah mengenal dan memakai aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Kamu bisa menganalisis apa manfaat keberadaan sebuah bahasa tulis bagi suatu bangsa. Beragam peristiwa dan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari bisa didokumentasikan ke dalam berbagai bentuk media tulis. Melalui prasasti di atas kita kini bisa menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat pada Kerajaan Kutai. Bahkan dalam tahap selanjutnya, aksara Pallawa itu dikembangkan oleh para pujangga kita menjadi aksara Jawa Kuno, Bali Kuno, Sunda Kuno, Lampung, Batak, dan Bugis.

Zaman sejarah bangsa kita dimulai pada saat ditemukan prasasti Yupa di Kalimantan Timur. Dari analisis terhadap prasasti itu, kita bisa menemukan informasi sejarah bahwa di Kalimantan Timur telah berdiri sebuah kerajaan Hindu yang bernama Kutai. Rajanya yang terkenal adalah Aswawarman. Meskipun tidak mencantumkan kapan pembuatannya, tetapi kita bisa mendapatkan fakta bahwa kerajaan itu berdiri pada abad IV M dan merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

Selain prasasti Yupa, kita bisa menemukan perkembangan tradisi tulis di Nusantara. Pada prasasti Canggal yang ditemukan di Jawa bagian tengah telah menyebutkan angka tahun 652 Saka/732 M. Artinya bahwa bangsa kita telah mulai mengenal dan menggunakan perhitungan tahun atau sistem penanggalan yang sama dengan perhitungan tahun Saka di India. Dampaknya adalah masyarakat mulai merekam beragam peristiwa penting secara lebih urut dan kronologis. Mulai saat itu, kita bisa membaca dan memahami bagaimana sejarah kehidupan masyarakat dan negara kerajaan tradisional di Indonesia pada periode Hindu-Buddha.

Aksara yang terdapat pada prasasti Kutai dan Ciaruteun identik dengan aksara yang terdapat pada sebuah prasasti yang terdapat di Vietnam Utara. Aksara itu dikenal dengan  Pallawa Awal Asia Tenggara. Aksara itu semakin lama semakin berkembang lebih sistematis, hingga mencapai bentuk  Pallawa Akhir  sebagaimana yang bisa kita lihat dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Sriwijaya (abad VII). Bentuk aksara itu kembali mengalami perubahan karena adanya pergantian media tulis dari batu ke lontar. Aksara ini dikenal dengan nama aksara Kawi Awal. Aksara inilah yang berkembang menjadi bahasa sastra yang mendasari lahirnya beragam bentuk karya sastra.

Sejarah sastra Jawa tertua berasal dari prasasti Sukobumi yang ditemukan di Pare, Kediri, Jawa Timur. Di dalam prasasti yang bertarikh 25 Maret 804 M tersebut, karya sastra ditulis dalam bentuk prosa atau gancaran  dan puisi atau kakawin dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Info Tambahan:

Karya Sastra Kuno Berbentuk Prosa

Ada beragam contoh karya sastra Jawa Kuno yang berbentuk prosa, antara lain sebagai berikut.

1.Candakarana adalah kamus atau ensiklopedi Jawa Kuno yang ditulis pada abad VIII M.

2.Sang Hyang Kumahayanikan adalah karya sastra yang memuat ajaran agama Buddha Mahayana dan susunan dewa dewi, dibuat pada masa Mpu Sendok (929-947 M).

3.Kakawin Ramayana ditulis pada abad IX M atau 870, merupakan syair pertama, terpanjang, dan terindah gaya bahasanya.

4.Uttarakanda merupakan tambahan (kitab ke-7) dari Kakawin Ramayana.

5.Adiparwa adalah buku pertama (parwa) dari kisah Mahabharata.

6.Subhaparwa adalah buku kedua Mahabharata yang berisi pengasingan Pandawa Lima.

7.Wirataparwa  berisi kisah pembuangan Pandawa selama 12 tahun di hutan.

8.Udyogaparwa adalah buku kelima Mahabharata yang berisi misi Kresna untuk menengahi konflik Pandawa dan Kurawa.

9.Bhismaparwa  adalah bagian terpenting Mahabharata karena memuat Bhagawad Gita.

10.Kakawin Sutasoma mengajarkan toleransi antaragama Hindu-Syiwa dan Buddha. Di dalam salah satu bagiannya terdapat ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan nasional kita.

11.Brahmandapurana  adalah kitab yang memuat ajaran agama Hindu Syiwa, asal usul dunia, munculnya empat kasta, tahapan para brahmana, dan lain-lain.

12.Kakawin Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa pada tahun 1019–1042 M, merupakan kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur.

  1. Kakawin Bharatayudhamenceritakan perang Pandawa dan Kurawa, merupakan kakawin yang paling termasyhur.

14.Kakawin Kresnayana menceritakan pernikahan Prabu Kresna dan penculikan calonnya yaitu Rukmini.

15.Kakawin Negarakertagama menceritakan keadaan Keraton Majapahit di bawah Hayam Wuruk.

16.Kitab Kunjarakarna berdasarkan agama Buddha, menceritakan raksasa yang bernama Kunjarakarna.

Karya sastra Hindu-Buddha itu kini banyak yang disimpan di negeri Belanda, karena pada masa penjajahan dulu Belanda berhasil membawa dan menyelamatkan beragam bentuk karya sastra yang ada di berbagai kerajaan.

  1. Bahasa dan Sastra Periode Islam

Selain berasal dari agama dan kebudayaan India, kebudayaan Indonesia juga diperkaya dengan agama dan kebudayaan Arab (Islam). Masuk dan berkembangnya kebudayaan Islam di Indonesia antara lain melalui proses islamisasi dengan cara perdagangan, perkawinan, kesenian, ulama karismatik, sistem pendidikan (pesantren), dan tarekat. Dari berbagai pengaruh asing (luar) yang masuk ke Indonesia, hanya Islam yang memiliki jangkauan paling luas dan merata. Bukti kehadiran kebudayaan Islam bisa kita temukan sejak Pasai hingga kawasan Papua.

Salah satu faktor yang mempermudah masuknya kebudayaan Islam di Indonesia adalah kondisi sosial budaya masyarakat yang paternalistik. Apabila anutan telah menerima bahasa Arab dan agama Islam, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengikutinya. Selain itu, agama Islam sendiri tidak pernah menganggap masyarakat itu terdiri atas kelas-kelas seperti halnya agama Hindu. Agama Islam bisa leluasa masuk ke dalam kehidupan rakyat melalui berbagai cara. Dampaknya, agama dan kebudayaan Islam bisa langsung diterima oleh rakyat. Pelan-pelan, pengaruh bahasa Arab pun masuk ke dalam kehidupan sehari-hari rakyat dan mulai menggantikan peran aksara Pallawa, bahasa Sanskerta, maupun Jawa Kuno.

Pengaruh itu paling mudah bisa kita temukan pada nisan makam, ornamen masjid, kaligrafi, maupun beragam bentuk karya sastra. Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, kita bisa menemukan Hikayat Raja-Raja Pasai  (Kerajaan Samudera Pasai), Babad Demak (Kerajaan Demak), Babad Tanah Jawi (Kerajaan Mataram), atau beragam bentuk karya suluk. Dari masa itu, kita pun bisa mengenal tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Raja Ali Haji, Sunan Bonang, dan lain-lain. Karya-karya mereka menandai tingginya semangat intelektual dan dalamnya pemahaman tentang ajaran agama Islam.