Agama

Kemungkinan Terjadinya Ijma’

Kemungkinan Terjadinya Ijma’

Kemungkinan Terjadinya Ijma’

 

Pada masa Rasulullah Saw masih hidup

beliau merupakan sumber hukum. Setiap ada peristiwa atau kejadian, kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur’an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu, maka mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah.
Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, kaum muslimin kehilangan tempat bertanya, akan tetapi mereka telah memiliki pegangan yang lengkap, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

Jadi, ijma’ itu kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu, belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin sendiri, disamping daerah Islam belum begitu luas, masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid.
Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman, mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. Setelah Khalifah Utsman terbunuh, perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi, seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan, peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal, timbul golongan Khawarij, golongan Syi’ah golongan Mu’awiyah dan sebagainya.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut:
Ijma’ tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW;
Ijma’ mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan enam tahun pertama Khalifah Utsman, dan setelah enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma’ sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas, mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam.

Baca Juga: