Teknologi

Kampanye CELUP berisiko permalukan orang lain

Kampanye CELUP berisiko permalukan orang lain

Kampanye CELUP berisiko permalukan orang lain

Kampanye CELUP (Cekrek, Lapor, Upload) viral di pengguna media sosial sejak kemarin, mengajak warganet untuk memotret lalu mengunggah foto orang yang diduga melakukan perbuatan asusila ke akun Instagram @cekrek.lapor.upload.

Akun tersebut kini sudah tidak dapat ditemukan di pencarian Instagram, namun, tangkapan layar maupun kampanye tersebut sudah menyebar.

Aktivis jaringan kebebasan berekspresi South East Asia Freedom of Expression (SAFEnet), Damar Juniarto, mengatakan meskipun pembuat sudah mengklarifikasi kampanye tersebut merupakan tugas kuliah, bisa saja ada yang mengadaptasi ide tersebut dan menggulirkannya kembali.

“Bisa saja dipakai kelompok lain,” kata dia saat dihubungi melalui pesan elektronik.

Ia menyebut kampanye CELUP ini tidak menghargai kebebasan pribadi

(privacy) orang lain dan tergolong pada public shaming, mempermalukan orang lain di depan umum.

“Public shaming ini sebenarnya masuk dalam kateogri online harassment (pelecehan di dunia maya),” kata dia.

Ketika ditanya apakah kampanye tersebut dapat disebut persekusi atau menimbulkan persekusi, Damar berpendapat belum bisa disebut persekusi jika belum ada satu hak dasar yang dirampas dari orang tersebut.

Kampanye CELUP hingga hari ini masih menjadi perbincangan warganet

, pagi ini menjadi trending topic pertama di Twitter Indonesia dengan lebih dari 38 ribu cuitan.

Akun Instagram CELUP mengajak netizen untuk mengikuti kampanye dengan mengusung motto dan tanda pagar. “Selamatkan ruang publik kita, pergoki mereka! Laporkan kepada kami #terciduk #antiasusila,” begitu bunyi keterangan bio dalam akun resmi CELUP.

Dalam banner promo, terlihat seorang pria yang sedang bersembunyi di balik pohon

dan mengarahkan kamera ponsel ke sepasang pria dan wanita, dengan tulisan besar “Menyelamatkan Generasi Zaman Now.”

Dalam poster kampanye, mereka memasukkan logo Jawa Pos dan Detikcom sebagai media pendukung, yang langsung dibantah oleh kedua media tersebut.

 

sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/abd.jalil/whatsapp-mod/