Pendidikan

Jenis-jenis mudharabah

Jenis-jenis mudharabah

Jenis-jenis mudharabah

Jenis-jenis mudharabah

Secara garis besar mudharabah dibagi menjadi dua yaitu mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah. Dalam akad mudharabah mutlaqah pengelola modal di beri keleluasaan dalam mengelola dan menjalankan modal. Keleluasaan menentukan jenis usaha, termasuk lokasi, dan tujuan usah. Pemilik modal tidak menentukan jenis usaha yang harus dijalankan oleh pengelola modal.

Sementara dalam akad mudharabah muqayyadah, pemilik modal sudah menentukan usaha yang harus dijalankan oleh pengelola modal. Oleh karena itu dia harus menjalankan usaha sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik modal saat akad. Jenis usaha, lokasi, jangka waktu, dantujuan usaha harus sesuai dengan kesepakatan dan apa yang telah ditentukan oleh pemilik modal.

Ketentuan-ketentuan dalam akad mudharabah. Ada beberapa ketentuan yang harus dimengerti dan dipatuhi oleh masing-masing pihak yang melaksanakan akad mudharabah. Ketentuantersebut sebagai berikut:

  1. Pada akad mudharabah mutlaqah, pengelola modal tidak diperbolehkan melakukan tindakan-tindakan yang keluar dari ketentuan syara’.
  2. Pada akad mudharabah muqayyadah, pengelola modal dalam pengelolaan modal tidak diperbolehkan menjalankan modal diluar usaha yang telah ditentukan bersama dengan pemilik modal.
  3. Bagi pengelola modal tidak diperbolehkan mengambil atau berhutang dengan menggunakan uang modal untuk keperluan lain tanpa seizin pemilik modal.
  4. Bagi pengelola modal tidak diperbolehkan untuk membeli komoditi atau barang yang harganya lebih tinggi dari modal yang telah di sediakan.
  5. Bagi pengelola modal tidak diperbolehkan mengalihkan modal kepada orang lain dengan akad mudharabah, atau dengan kata lain mengoper modal untuk akad mudharabah.
  6. Bagi pengelola modal tidak diperbolehkan mencampur modal dengan harta miliknya.
  7. Pengelola modal hendaknya melaksanakan usaha sebagaimana mestinya.[13]

  1. Rukun dan Syarat Mudharabah

Akad mudharabah yang sah harus memenuhi rukun dan syaratnya. Rukun mudharabah ada lima, yaitu pemilik modal (sahibul mal), pelaku usaha atau pengelola modal (mudarib), modal (ra’sul mal), pekerjaan pengelola modal, (al-‘amal) dan keuntungan (al-ribh). Penggunaan modal pada dasarnya untuk perdagangan, namun pada praktiknya tidak selalu digunakan untuk bidang perdagangan, akan tetapi juga ada yang digunakan untuk usaha dalam bidang jasa.

Mudharabah yang sah harus memenuhi syarat. Syarat yang melekat pada rukunnya. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, syarat yang terkait dengan para pihak yang berakad. Kedua belah pihak yang berakad, pemilik modal (sahibul mal) dan pengelola modal (mudarib) harus cakap bertindak atau cakap hukum. Berakal dan baligh, dalam akad mudharabah kedua belah pihak yang berakad tidak disyaratkan harus muslim.

Kedua, syarat yang terkait dengan modal adalah sebagai berikut:

  1. Modal harus berupa uang atau mata uang yang berlaku di pasaran. Menurut mayoritas ulama modal dalam mudharabah tidak boleh berupa barang, baik bergerak maupun tidak.
  2. Modal harus jelas jumlah dan nilainya. Ketidakjelasan modal akan berakibat pada ketidakjelasan keuntungan, sementara kejelasan modal merupakan syarat sah mudharabah.
  3. Modal harus berupa uang cash, buka piutang. Berdasarkan syarat ini, maka mudharabah dengan modal berupa tanggungan utang pengelola modal kepada pemilik modal.
  4. Modal harus ada pada saat dilaksanakannya akad mudharabah.
  5. Modal harus diserahkan kepada pihak pengelola modal atau pengelola usaha (mudarib), bila modal tidak diserahkan maka akad mudharabah rusak.

Persyaratan yang terkait dengan keuntungan atau laba dalam akad mudharabah adalah sebagai berikut: