Jatim Sabet Juara Tertinggi di Penghargaan Guru Berprestasi dan Berdedikasi

Jatim Sabet Juara Tertinggi di Penghargaan Guru Berprestasi dan Berdedikasi

Jatim Sabet Juara Tertinggi di Penghargaan Guru Berprestasi dan Berdedikasi

Pelaksana tugas atau Plt Dinas Pendidikan Jatim, Hudiyono menyambut kontingen guru Jawa Timur yang baru saja pulang dari Jakarta dalam perlombaan Guru Berprestasi dan Berdedikasi 2019, Senin (19/8/2019) di Dinas Pendidikan Jatim.

Sebanyak 24 orang guru tersebut telah menjadi juara di provinsi dan bertanding di tingkat nasional. Mereka menyabet 7 gelar juara, yakni 5 medali emas dan 2 Perak. Hasil yang diterima oleh Jawa Timur ini merupakan perolehan terbanyak dari daerah lainnya, disusul oleh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mendapatkan 5 medali emas dan 3 medali perunggu.

Selain perolehan medali atas guru berprestasi, juga terdapat 6 karya dari guru Jawa Timur yang mendapatkan hak paten. Serta terdapat salah satu inovasi guru yang akan dibawa ke tingkat internasional.

Menurut Hudiyono, keberhasilan ini adalah prestasi yang membuktikan bahwa

guru-guru Jawa Timur merupakan pendidik yang berkualitas. “Guru-guru ini membuktikan bahwa guru Jatim memiliki kompetensi yang mumpuni dan berkualitas, tugas selanjutnya adalah mempertahankan dan meratakan kualitas tersebut,” ujar Hudiyono.
Baca Juga:

Polisi Pastikan Kematian Bu Guru Karena Sakit
PGRI: Apa Kabar Kenaikan Pangkat Guru Fungsional di Jember Sejak 2016?
Unesa dan Pemkot Surabaya Komitmen Sediakan Guru
Honorer GTT K2 Bojonegoro Minta Kenaikan Tunjangan

Terkait pemerataan kompetensi dan kualitas guru, Hudiyono mengatakan bahwa zonasi merupakan salah satu cara dan strategi yang memiliki potensi besar dan baik. Pasalnya, ia menggambarkan bahwa sistem zonasi memungkinkan guru-guru mengangkat local wisdom atau kearifan lokal sebagai bekal dan dasar dalam berinovasi.

“Dengan zonasi, potensi besar untuk guru lokal mengasah dan memahami

potensi daerahnya. Kemudian dari aspek keterampilan, sosial dan inovasinya, lokal wisdom tersebut dapat diangkat. Intinya menggali kurikulum lokal sesuai dengan kearifan dan potensi lokalnya,” bebernya.

Selain itu, melalui zonasi, pemerataan kualitas guru juga dapat dipercepat, yakni dengan program Sekolah pengampu yang mana guru dan sekolah harus menjadi model dan tempat belajar bagi sekolah aliansinya.

“Sekolah pengampu harus memastikan sekolah aliansinya mampu memiliki

kompetensi yang sama, itu tugasnya. Akhirnya memiliki kualitas yang sama baiknya. Kalau perlu guru yang berprestasi bisa datang mengajarkan dan membimbing guru sekolah aliansi dalam membuat inovasi,” tambah Hudiyono.

 

Sumber :

https://pitchengine.com/danuaji/9999/12/31/no-headline/002518289542394003803