Pendidikan

 Isi Teori

 Isi Teori


Blau mengatakan tidak semua perilaku manusia dibimbing oleh pertimbangan pertukaran sosial, tetapi dia berpendapat kebanyakan memang demikian. Dua persyaratan yang harus dipenuhi bagi perilaku yang mengurus kepada pertukaran sosial :
1. Perilaku tersebut “harus berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat
dicapai melalui interaksi dengan orang lain”
2. Perilaku harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan- tujuan tersebut.
Perhatian utama Blau ditujukan pada perubahan dalam proses-proses sosial yang terjadi sementara orang bergerak dari struktur sosial yang sederhana menuju struktur sosial yang lebih kompleks, dan pada kekuatan-kekuatan sosial baru yang tumbuh dari yang terakhir. Tidak semua transaksi sosial bersifat simetris dan berdasarkan pertukaran sosial seimbang.
Pengendalian diri yang bersifat interpersonal adalah sangat penting dalam masyarakat modern, sedangkan sumber dasar untuk membendung perilaku interpersonal tersebut adalah kekuasaan, hubungan antara ketergantungan dan kekuasaan :
1. Pelayanan yang baik
2. Pelayanan diperlukan dimana-mana
3. Perminataan akan pelayanan dapat dipaksakan
4. Penarikan diri dapat dilakukan tenpa mengharapkan layanan.
Walaupun pertukaran berfungsi sebagai basis interaksi personal yang paling dasar, akan tetapi nilai-nilai sosial yang diterima bersama berfungsi sebagai media transaksi sosial bagi organisasi serta kelompok-kelompok sosial :

Empat tipe nilai perantara :

1. Nilai-nilai yang bersifat khusus berfungsi sebagai media bagi kohesi dan solidaritas sosial.
2. Ukuran-ukuran tentang pencapaian dan bantuan sosial yang bersifat umum melahirkan sistem stratifikasi sosial.
3. Sebagaimana dapat dilihat, nilai-nilai yang disyahkan itu merupakan medium pelaksanaan wewenang dan organisasi-organisasi usaha-usaha sosial berskala besar untuk mencapai tujuan-tujuan kolektif.
4. Gagasan-gagasan oposisi adalah media reorganisasi dan perubahan, oleh karena hal ini dapat menimbulkan dukungan bagi gerakan oposisi dan memberi legitimasi bagi kepemimpinan mereka.
Blau percaya bahwa kompleksitas pola-pola kehidupan sosial yang dijembatani oleh nilai-nilai bersama itu akan melembaga. Lembaga-lembaga demikian akan abadi bilamana dipenuhi tiga persayaratan :
1. Prinsip-prinsip yang di organisir harus merupakan bagian dari prosedur-prosedur yang difornalisir (konstitusi atau dokumen lainnya), sehingga setiap saat bebas dari orang yang melaksanakannya.
2. Nilai-nilai sosial yang mengesahkan banyak bentuk institusional itu harus diwariskan kepada generasi selanjutnya melalui proses sosialisasi.
3. Kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat harus menganut nilai-nilai itu serta harus meminjamkan kekuasaanya untuk mendukung lembaga-lembaga yang memasyarakatkan nilai-nilai tersebut.

Ide utama Blau mengenai kelompok sosial yang bersifat “Emergent”
1. Dalam hubungan pertukaran yang elementer, orang yang tertarik satu sama lain melalui berbagai kebutuhan dan kepuasan timbal balik.
Asumsinya : bahwa orang yang memberikan ganjaran, melakukan hal itu sebagai pembayaran bagi nilai yang diterimanya.
2. Pertukaran demikian mudah sekali berkembang menjadi hubungan-hubungan persaingan dimana setiap orang harus menunjukkan ganjaran yang diberikannya dengan maksud menekan orang lain dan sebagai usaha untuk memperoleh ganjaran yang lebih baik.
3. Persaingan tersebut melahirkan asal mula sistem stratifikasi di mana individu-individu dibedakan atas dasar kelangkaan sumber-sumber yang dimilikinya. Di sini kita melihat akar-akar dari konsep “Emergent” tentang kekuasaan.
4. Kekuasaan dapat bersifat syah (wewenang) atau bersifat memaksa, wewenang tumbuh berdasarkan nilai-nilai yang syah, yang menunjukkan berbagai kelompok dan organisasi yang bersifat “emergent” berfungsi tanpa mendasarkan dan di atas hubungan tatap muka.
Social Exchange yang dimaksudkan dalam teori Blau ialah terbatas pada tindakan-tindakan yang tergantung pada reaksi-reaksi penghargaan dari orang lain dan berhenti apabila reaksi-reaksi yang diharapkan itu tidak kunjung muncul.
Blau menekankan pentingnya dukungan sosial sebagai suatu kebutuhan yang bersifat egoistik untuk dipikirkan sebaik-baiknya oleh orang lain, tetapi untuk memperoleh penghargaan serupa ini individu harus dapat mengatasi dorongan egoistik yang sempit dan memperhitungkan kebutuhan dan keinginan orang lain.

sumber :
https://www.allisonblack.org/seva-mobil-bekas/