Pendidikan

  Implementasi Syirkah dalam Lembaga Keuangan Syariah

  Implementasi Syirkah dalam Lembaga Keuangan Syariah

Implementasi Syirkah dalam LKS harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Proyek atau kegiatan usaha yang akan dikerjakan feasible dan tidak bertentangan dengan syariah.
  2. Pihak-pihak yang turut dalam kerja sama memasukkan dana musyarakah, dengan ketentuan:
  3. Dapat berupa uang tunai atau aset yang likuid.
  4. Dana yang tertimbun bukan lagi milik perorangan, tetapi menjadi dana usaha.

Musyarakah atau syirkah dalam konteks perbankan merupakan akad kerjasama pembiayaan antara bank syariah (Islamic Banking), atau beberapa keuangan secara bersama-sama, dan nasabah untuk mengelola suatu kegiatan usaha. Masing-masing memasukkan penyertaan dana sesuai porsi yang disepakati. Pengelolaan kegiatan usaha, dipercaya kepada nasabah. Selaku pengelola, nasabah wajib menyampaikan laporan berkala mengenai perkembangan usaha kepada bank-bank sebagai pemilik dana. Disamping itu, pemilik dana dapat melakukan intervensi kebijakan usaha.

Pembiayaan syirkah dalam dunia perbankan syariah anatara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pembiayaan dalam modal kerja; dapat dialokasikan untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, industri, perdagangan, dan jasa.
  2. Pembiayaan investasi; dapat dialokasikan untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang industri.
  3. Pembiayaan secara indikasi; baik untuk kepentingan modal kerja maupun investasi.[8]
  1. Pengertian Mudharabah atau Qiradl

Mudharabah atau Qiradl adalah memberikan modal dari seseorang kepada orang lain untuk modal usaha, sedangkan keuntungan untuk keduanya menurut perdamaian (perjanjian) antara keduanya sewaktu akad, dibagi dua atau dibagi tiga seumpamanya.[9]

Mudharabah juga di definisikan sebagai akad kerjasama antara dua pihak, yaitu pihak pertama yang menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi, kerugian tersebut akan ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian pengelola, pengelola bertanggung jawab mengatasinya.[10]

Rasulillah Saw. telah melakukannya, beliau mengambil modal dari Siti Khadijah sewaktu beliau berniaga ke Syam. Begitu pula ijma’ sahabat.

Qirad memang telah ada di masa Jahiliyah (sebelum islam), kemudian ditetapkan (diperbolehkan) oleh agama Islam. Peraturan Qirad ini diadakan karena benar-benar dibutuhkan oleh umat manusia. Betapa tidak, ada orang yang mempunyai modal tetapi tidak pandai berdagang, atau tidak berkesempatan; sedang yang lain pandai dan cakap lagi mempunyai waktu yang cukup, tetapi tidak mempunyai modal. Qirad berarti juga untuk kemajuan bersama; perdagangan juga mengandung arti tolong-menolong.

  1. Hukum Mudharabah atau Qiradl

Mudharabah mempunyai landasan dari Al-Quran, al-Sunnah, Ijma’ dan qiyas. Mudharabah hukumnya adalah mubah (boleh), sebagaimana firman Allah swt :

  1. Firman Allah dalam surat al-Muzammil ayat 20

Artinya: “…berkeliaran di muka bumi mencari karunia Allah”

  1. Q.S Al-Jumu’ah ayat 10

Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

  1. Q.S Al Baqarah, ayat 198

Artinya: Tiada dosa atas kamu sekalian akan mencari kelebihan dari Tuhanmu. (QS. Al Baqarah ayat 198).

 

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/