Pendidikan

Dampak Secondary Traumatic Stress

Dampak Secondary Traumatic Stress

Dampak Secondary Traumatic Stress

Dampak Secondary Traumatic Stress
Dampak Secondary Traumatic Stress

Para peneliti telah membandingkan efek trauma klien pada pekerja kesehatan mental dengan simtom-simtom PTSD (Conrad dan Perry dalam Hesse, 2002). Mereka sependapat bahwa bekerja dengan klien yang mengalami trauma memiliki efek yang tak dapat dielakkan, mengganggu, dan jangka panjang pada terapis, dan bahwa reaksi ini mungkin saja terjadi tanpa memandang suku, jenis kelamin, usia, dan tingkat keahlian atau profesional seseorang (Edelwichdan Brodsky, dalam Hesse, 2002). Beberapa peneliti yakin bahwa STS dihasilkan dari proses pemaparan dari pengalaman traumatik yang dialami oleh orang lain. Figley dan Stamm (Stamm, 1999) melihat bahwa pengalaman bekerja dengan klien yang mengalami trauma dapat mengubah diri seorang konselor atau terapis menjadi lebih baik atau buruk. Dengan demikian, peristiwa dan pengalaman traumatis klien juga mempengaruhi kehidupan pribadi konselor.

Menurut Beaton dan Murphy (dalam Cornille, 1999), individu yang mengalami STS umumnya menunjukkan simtom-simtom yang sama dengan PTSD, antara lain :

  • Adanya gangguan tidur
  • Kemarahan
  • Ketakutan yang intense
  • Gangguan memory
  • Sensitif
  • Cemas
  • Menekan emosi tertentu
  • Mimpi buruk
  • Kehilangan kontrol
  • Depresi
  • Tendensi untuk bunuh diri

Selanjutnya, efek dari STS itu sendiri akan mengganggu fungsi profesional individu. Yassen (dalam Richardson, 2001) menguraikan dampak STS terhadap fungsi profesional individu sebagaimana yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini.

Dampak STS terhadap profesionalitas individu

Tampilan kerja

Moral

Interpersonal

Tingkahlaku

Penurunan kualitas dan kuantitas kerja

Kurang motivasi

Menghindari tugas

Banyak melakukan kesalahan

Standar kerja yang sempurna

Obsesi terhadap detail

Kurang percaya diri

Kehilangan minat

Rasa tidak puas

Sikap negatif

Apati

Menjaga jarak

Merasa hampa

Menghindar dari rekan kerja

Tidak sabar

Penurunan kualitas relasi

Sulit berkomunikasi

Mudah konflik dengan rekan kerja

Sering tidak masuk kerja

Lelah

Mudah marah

Tidak bertanggungjawab

Terlalu banyak bekerja

Sering berganti-ganti pekerjaan

(Yassen, dalam Richardson 2001)

Sumber : https://galleta.co.id/