Kriteria Penulisan item

Kriteria Penulisan item

Kriteria Penulisan item

Untuk menuliskan item dengan baik, ada sejumlah kriteria seperti yang dikemukakan oleh Wang (1932), Thurstone (1929), Bird (1940), Edwards dan Kilpatrick (1948). Kriteria tersebut pada awalnya digunakan untuk menyusun skala sikap, namun akan juga membantu untuk menyusun item dari skala lain.

Kriteria-kriteria penulisan item adalah sebagai berikut.

  1. Menghindari pernyataan yang lebih mengarah ke masa lalu, bukan masa sekarang.
  2. Menghindari pernyataan mengenai sesuatu sudah jelas jawabannya.
  3. Menghindari peryataan yang ambigu (memiliki banyak arti).
  4. Menghindari pernyataan yang tidak relevan dengan objek sikap yang dibahas.
  5. Menghindari pernyataan yang didukung oleh hampir semua orang atau hampir tidak ada yang mendukung.
  6. Membuat pernyataan yang dipercaya untuk mencakup secara keseluruhan minat dalam pembuatan skala sikap.
  7. Bahasa yang digunakan dalam sebuah pernyataan harus jelas, sederhana dan langsung.
  8. Pernyataan harus pendek, biasanya tidak lebih dari 20 kata.
  9. Setiap pernyataan haya memliki satu pemikiran saja.
  10. Menghindari pernyataan-peryataan yang mengandung unsur universal dan yang menciptakan ambiguitas, seperti semua, selalu, tidak ada, dan tidak pernah.
  11. Harus memperhatikan pernyataan-pernyataan yang menggunakan kata hanya, cuma, sering/melulu.
  12. Apabila mungkin, pernyataan harus dibuat dengan form kata-kata yang sederhana bukan dengan kata-kata yang menyulitkan.
  13. Menghindari penggunaan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh responden.
  14. Menghindari pernyataan yang mengandung double negatives.

Baca Juga : 

Trauma

Trauma

Trauma

Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka (Cerney, dalam Pickett, 1998). Kata trauma digunakan untuk menggambarkan kejadian atau situasi yang dialami oleh korban. Kejadian atau pengalaman traumatik akan dihayati secara berbeda-beda antara individu yang satu dengan lainnya, sehingga setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda pula pada saat menghadapi kejadian yang traumatik. Pengalaman traumatik adalah suatu kejadian yang dialami atau disaksikan oleh individu, yang mengancam keselamatan dirinya (Lonergan, 1999). Oleh sebab itu, merupakan suatu hal yang wajar ketika seseorang mengalami shock baik secara fisik maupun emosional sebagai suatu reaksi stres atas kejadian traumatik tersebut. Kadangkala efek aftershock ini baru terjadi setelah beberapa jam, hari, atau bahkan berminggu-minggu. Respon individual yang terjadi umumnya adalah perasaan takut, tidak berdaya, atau merasa ngeri. Gejala dan simtom yang muncul tergantung pada seberapa parah kejadian tersebut. Demikian pula cara individu menghadapi krisis tersebut akan tergantung pula pada pengalaman dan sejarah masa lalu mereka.

Menurut Stamm (1999), stres traumatik merupakan suatu reaksi yang alamiah terhadap peristiwa yang mengandung kekerasan (seperti kekerasan kelompok, pemerkosaan, kecelakaan, dan bencana alam) atau kondisi dalam kehidupan yang mengerikan (seperti kemiskinan, deprivasi, dll). Kondisi tersebut disebut juga dengan stres pasca traumatik (atau Post Traumatic Stress Disorder/ PTSD). Menurut Pickett (1998), ada dua bentuk simtom yang dialami oleh individu yaitu : (1) adanya ingatan terus menerus tentang kejadian atau peristiwa tersebut, dan (2) mengalami mati rasa atau berkurangnya respon individu terhadap lingkungannya. Kondisi tersebut selanjutnya akan mempengaruhi fungsi adaptif individu dengan lingkungannya. Seringkali, peristiwa yang traumatik akan sangat menyakitkan sehingga bantuan dari para ahli akan diperlukan dalam mengatasi trauma yang dialami.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Dampak Secondary Traumatic Stress

Dampak Secondary Traumatic Stress

Dampak Secondary Traumatic Stress

Dampak Secondary Traumatic Stress
Dampak Secondary Traumatic Stress

Para peneliti telah membandingkan efek trauma klien pada pekerja kesehatan mental dengan simtom-simtom PTSD (Conrad dan Perry dalam Hesse, 2002). Mereka sependapat bahwa bekerja dengan klien yang mengalami trauma memiliki efek yang tak dapat dielakkan, mengganggu, dan jangka panjang pada terapis, dan bahwa reaksi ini mungkin saja terjadi tanpa memandang suku, jenis kelamin, usia, dan tingkat keahlian atau profesional seseorang (Edelwichdan Brodsky, dalam Hesse, 2002). Beberapa peneliti yakin bahwa STS dihasilkan dari proses pemaparan dari pengalaman traumatik yang dialami oleh orang lain. Figley dan Stamm (Stamm, 1999) melihat bahwa pengalaman bekerja dengan klien yang mengalami trauma dapat mengubah diri seorang konselor atau terapis menjadi lebih baik atau buruk. Dengan demikian, peristiwa dan pengalaman traumatis klien juga mempengaruhi kehidupan pribadi konselor.

Menurut Beaton dan Murphy (dalam Cornille, 1999), individu yang mengalami STS umumnya menunjukkan simtom-simtom yang sama dengan PTSD, antara lain :

  • Adanya gangguan tidur
  • Kemarahan
  • Ketakutan yang intense
  • Gangguan memory
  • Sensitif
  • Cemas
  • Menekan emosi tertentu
  • Mimpi buruk
  • Kehilangan kontrol
  • Depresi
  • Tendensi untuk bunuh diri

Selanjutnya, efek dari STS itu sendiri akan mengganggu fungsi profesional individu. Yassen (dalam Richardson, 2001) menguraikan dampak STS terhadap fungsi profesional individu sebagaimana yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini.

Dampak STS terhadap profesionalitas individu

Tampilan kerja

Moral

Interpersonal

Tingkahlaku

Penurunan kualitas dan kuantitas kerja

Kurang motivasi

Menghindari tugas

Banyak melakukan kesalahan

Standar kerja yang sempurna

Obsesi terhadap detail

Kurang percaya diri

Kehilangan minat

Rasa tidak puas

Sikap negatif

Apati

Menjaga jarak

Merasa hampa

Menghindar dari rekan kerja

Tidak sabar

Penurunan kualitas relasi

Sulit berkomunikasi

Mudah konflik dengan rekan kerja

Sering tidak masuk kerja

Lelah

Mudah marah

Tidak bertanggungjawab

Terlalu banyak bekerja

Sering berganti-ganti pekerjaan

(Yassen, dalam Richardson 2001)

Sumber : https://galleta.co.id/

perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna

perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna

perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna

Setiap pelaku sosialisasi mempunyai fungsi masing-masing yang seharusnya saling melengkapi. Akan tetapi, pada kenyataannya sering terjadi ketidaksepadanan antara pesan yang disampaikan pelaku sosialisasi yang satu dengan pelaku sosialisasi yang lain. Ketidaksepadanan ini membuat proses sosialisasi menjadi kurang sempurna. Contohnya, sebuah keluarga memberikan pesan untuk tidak merokok kepada anggota keluarganya (anak). Namun, si anak melihat atau membaca di media massa bagaimana rokok diiklankan dengan sangat menarik. Ia juga mungkin melihat bahwa teman-teman di kelompok bermainnya semuanya merokok. Anak itu akan mengalami konflik batin antara menghargai norma atau nilai yang diberikan keluarga atau memilih norma yang berkembang pada kelompok bermainnya.

Pada kondisi di atas bukan tidak mungkin anak akan berperilaku menyimpang. Jika anak mengikuti pesan dari keluarga, maka ia akan menyimpang dari nilai dan norma kelompoknya. Sementara jika anak itu mengikuti pesan dari kelompok bermainnya, maka ia akan menyimpang dari nilai dan norma keluarganya.

Ketidaksepadanan pesan-pesan yang disampaikan oleh pelaku-pelaku sosialisasi juga bisa dilihat dari maraknya perkelahian antarpelajar yang menjurus pada tindakan kriminal, seperti pembunuhan dan perusakan. Masalah ini tentu sangat meresahkan. Perilaku seperti ini akan menghancurkan sendi-sendi kemasyarakatan maupun kenegaraan. Mereka akan selalu menganggap bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.

Norma-norma dan nilai sosial keagamaan yang ditawarkan sejak mereka bayi tidak cukup berjalan dan sinkron untuk bisa dihadapkan dengan kenyataan dalam masyarakat. Para orang tua dan pemimpin tidak cukup terbuka untuk menyampaikan kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam bermasyarakat. Ada perasaan canggung dan tidak pantas untuk menyampaikan fakta kekerasan yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, anak-anak dan para remaja akan mencari sendiri misalnya melalui media massa seperti televisi. Mereka kemudian membuat pembenaran atau persepsi sendiri atas suatu perbuatan. Contoh, begitu banyak film yang menampilkan nilai kekerasan yang sebetulnya tidak sesuai dengan nilai yang mereka peroleh dari agama atau keluarga. Namun, karena kurang mendapat penjelasan dari orang tua maupun pelaku pembina yang lain, mereka kemudian mempersepsikan bahwa tokoh-tokoh keras adalah pahlawan (hero). Persepsi ini akan terbawa ketika mereka menghadapi persoalan dengan sesama pelajar. Terjadilah tawuran.

Perilaku menyimpang juga bisa terjadi ketika dalam proses sosialisasi, seseorang mengambil peran yang salah dari generalized others atau meniru perilaku yang salah. Contoh, dalam masyarakat tentu memiliki pemimpin, entah itu pemimpin formal, seperti lurah, RT, maupun pemimpin nonformal, seperti pemuka agama atau adat. Seorang pemimpin idealnya bertindak sebagai panutan yang mampu memberi teladan bagi anggota masyarakat yang lainnya. Terlebih lagi dalam masyarakat paternalistik seperti Indonesia, keteladanan pemimpin (patron) akan menjadi model bahkan kebenaran perilaku bagi bawahan atau anggotanya (client). Namun, kadang terjadi seorang pemimpin justru memberi contoh yang salah kepada masyarakatnya, seperti melakukan kolusi, korupsi, manipulasi, dan nepotisme. Celakanya, karena pelakunya memiliki kekuasaan, penyimpangan tersebut akhirnya diterima masyarakat sebagai “nilai atau norma” yang diikuti. Akhirnya berkembanglah penyimpangan ini dalam masyarakat.

Perilaku menyimpang juga terjadi pada masyarakat yang memiliki nilai-nilai subkebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya yang dominan. Kebudayaan tersebut terdapat pada lingkungan masyarakat yang memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai yang dominan seperti nilai-nilai yang berlaku di daerah kumuh, di lokalisasi pelacuran, dan lingkungan perjudian.

Contoh, di lingkungan kumuh, masalah etika kurang diperhatikan karena masyarakatnya lebih sibuk dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kebanyakan mereka, cekcok antarwarga dengan mengeluarkan kata-kata kasar, atau tindakan buang sampah sembarangan, ataupun membunyikan radio dengan keras menjadi hal yang biasa.

Di tempat-tempat seperti itu, banyak terjadi tindakan yang oleh masyarakat lingkungannya merupakan hal yang biasa namun bagi masyarakat umum dianggap sebagai perilaku yang menyimpang. Di tempat-tempat itu, yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah nilai dan norma yang menyimpang menurut standar nilai dan norma masyarakat umum.

Baca Juga : 

Konformitas

Konformitas

Konformitas

Pernahkah Anda melihat seorang anak laki-laki bermain mobil-mobilan, perang-perangan, atau bermain dengan alat-alat bangunan, sedangkan anak perempuan bermain dengan boneka, alat-alat memasak, atau alat-alat kecantikan? Bagaimana kesan Anda melihatnya? Sebaliknya, bagaimana kesan Anda jika ada anak perempuan yang lebih senang bermain mobil-mobilan atau perang-perangan, sedangkan anak laki-laki bermain boneka?

Pada kasus pertama, apa yang dilakukan anak laki-laki dan anak perempuan itu umumnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Sementara pada kasus kedua, anak perempuan itu akan dianggap “tomboi” dan anak laki-laki itu akan dijuluki “kemayu” atau “kewanita-wanitaan”.

Anggapan terhadap kedua kasus itu merupakan contoh bahwa peran seseorang di dalam kehidupan bermasyarakat telah ditanamkan sejak kecil. Perilaku anak laki-laki dan anak perempuan pada kasus pertama dikatakan sesuai (konform) terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Sementara pada kasus selanjutnya, kedua anak itu dikatakan menyimpang karena tidak berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat (non-konform). Hal yang sama terjadi pula pada kasus-kasus kekerasan dan kejahatan.

Kenapa seseorang bersikap konformis dan non-konformis terhadap nilai dan norma sosial?
Sejak lahir, orang tua dan lingkungan sekitar kita berusaha agar kita berperilaku sesuai dengan jenis kelamin yang kita miliki. Anak laki-laki diharapkan berperilaku aktif, menyukai tantangan, berani, dan kreatif, sementara anak perempuan diharapkan berperilaku lembut dan pasif. Oleh karenanya, sering kita jumpai anak laki-laki mendapatkan mainan mobil-mobilan, alat-alat elektronik, atau mainan perang-perangan, sedangkan anak perempuan mendapatkan mainan boneka atau alat-alat memasak.

Melalui proses sosialisasi, identitas jenis kelamin seorang anak ditanamkan. Anak akan konformis terhadap peran sebagai anak perempuan atau anak laki-laki sesuai dengan harapan masyarakat.

Proses sosialisasi menghasilkan konformitas. Menurut John M. Shepard, konformitas merupakan bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat di mana ia tinggal. Konformitas berarti proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara menaati norma dan nilai-nilai masyarakat. Sementara itu, perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai dalam masyarakat disebut sebagai perilaku non-konformis atau yang dikenal dengan sebut perilaku menyimpang (deviance).

Pada dasarnya, kita semua cenderung bersifat konformis. Kita cenderung menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan kelompok tempat kita berinteraksi sehari-hari. Contoh, pada akhir pekan, teman-teman sekelas berencana pergi ke pantai. Kita yang tadinya berniat tinggal di rumah akhirnya ikut pergi karena melihat semua teman-teman kita pergi.

Konformitas pada masyarakat tradisional berbeda dengan masyarakat modern. Konformitas masyarakat tradisional terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku sangat kuat. Pada masyarakat tradisional di mana tradisi masih sangat kuat, norma dan nilai sosial berlaku secara turun temurun. Isi norma dan nilai tersebut sama dari satu generasi ke generasi selanjutnya tanpa banyak mengalami perubahan. Norma dan nilai sosial pada masyarakat tradisional cenderung homogen sebab pengaruh dari luar masih kurang. Penyimpangan dalam masyarakat tradisional tidak disukai sebab dianggap mengganggu tradisi.

Sementara pada masyarakat modern seperti di kota-kota, anggota-anggotanya selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan, sebab kota merupakan jalan masuk pengaruh-pengaruh luar. Oleh karena itu, konformitas di daerah perkotaan sangat kecil dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bahkan konformitas di masyarakat perkotaan kadang dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengertian Pengendalian Sosial

Setiap masyarakat tentu mendambakan keadaan yang tenang, aman, dan teratur. Mereka tidak menginginkan situasi yang kacau dan tidak menentu. Namun, kondisi normatif tersebut tidak selalu bisa terwujud secara utuh. Banyak penyimpangan terjadi di dalam masyarakat yang berawal dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.

Di media massa, sering kita baca berbagai macam perilaku menyimpang, seperti tawuran pelajar, hubungan seks pranikah, homoseksual, atau sekelompok remaja yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Perilaku-perilaku itu jelas tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Perilaku tersebut mengganggu keteraturan sosial (social order).

Untuk itulah diperlukan adanya suatu pengendalian sosial, yaitu upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat. Kondisi seimbang terjadi jika ada keserasian antara perubahan dan stabilitas yang ada di dalam masyarakat. Cara-cara yang dilakukan antara lain melalui persuasi dan koersi. Untuk itu, perlu ada pranata atau lembaga sosial yang berperan. Pranata-pranata itu antara lain polisi, pengadilan, adat, dan tokoh masyarakat. Pada bagian ini, kita akan membahas pengendalian sosial secara lebih mendalam.

Telah kita pelajari bahwa dalam sebuah masyarakat terdapat norma-norma sosial yang mengatur perilaku anggota masyarakat. Norma sosial ini tumbuh melalui proses sosialisasi. Di dalamnya ditentukan perilaku yang diperbolehkan, yang tidak diperbolehkan, yang benar, dan yang salah. Tujuannya agar tercipta sebuah keteraturan sosial. Dalam proses tersebut, tiap individu sebagai anggota masyarakat menerima aturan-aturan dan nilai yang telah ada dalam masyarakat sebagai standar penentu perilaku.

Sebagai makhluk dinamis, setiap individu dalam masyarakat pun akan selalu berkembang. Individu-individu itu akan selalu berinteraksi dengan yang lainnya sehingga menghasilkan perubahan sosial, baik itu kemajuan maupun keinunduran. Perubahan-perubahan itu dapat saja mengubah tatanan sosial yang sudah ada sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sistem sosial. Contoh, terjadinya dekadensi moral berupa seks bebas akibat ditemukannya berbagai alat kontrasepsi. Kaum muda tidak lagi melihat seks sebagai suatu siklus reproduksi manusia yang sakral, tetapi hanya sebagai sebuah rekreasi. Mereka tidak perlu khawatir pada kehamilan di luar nikah karena telah tersedia alat-alat kontrasepsi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi. Perubahan-perubahan seperti ini jelas mengganggu keseimbangan sosial dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma kesusilaan dan nilai-nilai luhur sebuah perkawinan.

Meskipun demikian, masyarakat pada dasarnya akan selalu membutuhkan keteraturan sosial. Oleh karena itu, pada satu tahap tertentu, masyarakat akan dapat mengembalikan keadaan menjadi seimbang lagi. Masyarakat akan selalu berupaya untuk mencegah, mengurangi, maupun menghilangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sehingga terwujud kembali keseimbangan sosial (social equllibrium). Upaya-upaya itu disebut juga dengan pengendalian sosial (social control). Dengan demikian, pengendalian sosial merupakan mekanisme untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan mengarahkan anggota masyarakat untuk bertindak menurut norma dan nilai yang telah melembaga.

Menurut Berger pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang. Sementara itu, Roucek mengemukakan bahwa pengendalian sosial adalah suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses terencana yang cenderung menganjurkan, membujuk, atau memaksa individu untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok. Roucek menyebutkan beberapa cara pemaksaan konformitas perilaku antara lain melalui mekanisme desas-desus, mengolok-olok, mengucilkan, dan menyakiti. Ahli-ahli lain juga mengemukakan beberapa cara dan teknik pengendalian sosial lain, misalnya ideologi, bahasa, seni, rekreasi, organisasi rahasia, cara-cara tanpa kekerasan, kekerasan dan teror, pengendalian ekonomi, dan perencanaan ekonomi dan sosial.

Para sosiolog menggunakan istilah pengendalian sosial untuk menggambarkan segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok orang atau masyarakat yang bersangkutan. Banyak cara yang digunakan untuk memaksa individu agar taat pada sejumlah peraturan. Contoh, kumpul kebo bagi masyarakat desa sangat tabu dan dianggap melanggar adat. Si pelaku yang tertangkap basah harus siap menghadapi resiko seperti digosipkan, dikucilkan, atau mungkin diarak keliling kampung. Mengapa demikian? Kumpul kebo merupakan aib di masyarakat yang tidak dapat ditolerir. Bahkan, sanksinya bisa lebih dari itu, seperti pengusiran dari kampung. Sanksi demikian sudah termasuk ke dalam pengendalian sosial, yakni berupa hukum adat.

Sumber : https://cialis.id/

Pelapisan Sosial atau Statifikasi Sosial

Pelapisan Sosial atau Statifikasi Sosial

Pelapisan Sosial atau Statifikasi Sosial

Pelapisan Sosial atau Statifikasi Sosial
Pelapisan Sosial atau Statifikasi Sosial

 

Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).

Pengertian

Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).

Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.

Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.

Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial

Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

Ukuran kekayaan

Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, pa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

Ukuran ilmu pengetahuan

Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

Baca Juga : 

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar & Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
Posted: Maret 13, 2011 in Uncategorized
0
Ilmu budaya dasar adalah ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat di kaji dalam ilmu budaya dasar.

Ruang Lingkup Ilmu budaya Dasar

Semua aspek kehidupan dan segala kegiatan yang terjadi di dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang telah terjadi secara berulang-ulang dan telah membudaya di dalam masyarakat adalah termasuk salah satu dari banyaknya kajian ruang lingkup ilmu budaya dasar.

Kini kamu bisa mengendalikan computer kamu dengan menggunakan handphone. Tapi ingat, computer dan handphone harus sama-sama tersedia perangkat Bluetooth. Menurut saya software yang satu ini adalah software yang sangat unik. Karena dari namanya saja software ini sudah bisa di bilang unik.

Layaknya kemampuannya yang bisa mengendalikan computer dari jarak jauh, software ini di namakan Mobile Witch. Mau tau apa artinya witch? Witch adalah “Penyihir wanita”.

Apa saja yang bisa dilakukan dengan Mobile Witch?

Mengendalikan cursor dari jarak jauh
Menjalankan winamp atau windows media player
Power point
Command prompt
Internet explorer atau Mozilla firefox
Menghapus atau mengcopy file
Mengirim pesan dari handphone ke computer (tentu saja tanpa pulsa)
Biasanya software ini juga sering digunakan untuk presentasi, oleh karena itu di dalamnya juga terdapat power point.

Sumber : https://bingo.co.id/

manusia dan kebudayaan

manusia dan kebudayaan

manusia dan kebudayaan

Pengertian Kebudayaan Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. 7 Unsur Kebudayaan 1. Organisasi sosial 2. Bea dan tradisi 3. Bahasa 4. Seni & literatur 5. Agama 6. Pemerintah 7. Sistem ekonomi Wujud Kebudayaan 1. Wujud ide Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat. 2. Wujud Perilaku Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Pengambilan Keputusan

Pengambilan Keputusan

Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer). Pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh pengambilan keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan (decision).
Defenisi-defenisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli :

  1. G. R. Terry

Pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai “pemilihan alternatif kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.

  1.  Harold Koontz dan Cyril O’Donnel

Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak—adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.

  1. Theo Haiman

Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah.

  1. Drs. H. Malayu S.P Hasibuan

Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.

  1. Chester I. Barnard

Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk masalah. Secara umum pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada.

Baca Juga :