Nama-nama tarekat dalam tasawuf

Nama-nama tarekat dalam tasawuf

Nama-nama tarekat dalam tasawuf

Nama-nama tarekat dalam tasawuf
Nama-nama tarekat dalam tasawuf

Dari sekian banyak tarekat hanya beberapa saja yang dinilai besar dan memiliki ciri-ciri khusus. Ajaran Arbery, yang menganggap tarekat baru berdiri di abad V Hijriyan (XI M) menunjuk tarekat-tarekat di maksud adalah : Al-Qodiriyah, Al-Suhrowardiyah, Al-Syadzaliyah dan Mawlawyah (Al-Rumiyah). Sementara orientalis gibbs menganggap tarekat Al Qodiriyah, Al Rifaiyah, Al Badawiyah, Mawlawiyah, Al Syadzaliyah, Al-naqsabandiyah dan Al Khalwatiyah sebagai tarekat yang memiliki ciri-ciri khas.

1. Tarekat Qodariyah

Tarekat ini didirikan oleh muhyi al-Din abu muhamad ‘Adb al qodir bin musa bin ‘abdullah bin musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke asia barat dan mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian tawhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kealehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.

2. Tarekat Rifa’iyah

Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang qodiriyah dan lahirnya rantingranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan pelantikan-pelantikan yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik akan dapat terbawa ke alam fana dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihiq

3. Tarekat Suhrowardiyah

Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari maghrib, nur al din ahmad bin ‘abdullah al syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya sang imam cenderung menyingkir ke alexanria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika

4. Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah

Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin\-doktrin sifistiknya yang menarik.

5. Tarekat Mawlawiyah / al Rumiyah

Mawlana jalaludin rumi muhammad bin hasain al khattabi al kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).
Kesufian Rumidi mulai ketika ia sudah berumur cukup tua 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpenaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.

Baca Juga: 

Hubungan Tarekat dengan Tasawuf dan Sejarahnya

Hubungan Tarekat dengan Tasawuf dan Sejarahnya

Hubungan Tarekat dengan Tasawuf dan Sejarahnya

Hubungan Tarekat dengan Tasawuf dan Sejarahnya
Hubungan Tarekat dengan Tasawuf dan Sejarahnya

 

Tarekat dan tasawuf

Di dalam ilmu tasawuf, istilah tarekat itu tidak saja ditunjukkan pada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seseorang syaikh tarikat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syaikh tarekat, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada di dalam agama islama seperti salat zakat dan lain-lain yang semuanya itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam tarekat yang sudah melembga itu sudah tercakup semua aspek ajaran islam seperti salat zakat dan lain-lain, ditambah lagi pengamalan serta seorang syaikh. Akan tetapi, semua itu merupakan tuntunan dan bimbingan seorang syaikh melalui baiat.

Tasawuf Secara Umum

Sebagaimana telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah usaha dan mendekatkan diri ini biasanya dilakukan dibawah bimbingan seorang guru atau syaikh. Ajaran-ajaran tasawuf yang harus di tempuh untuk mendekatkan diri itu kepada Allah merupakan hakikat tarekat yang sebenarnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang telah berkembang dengan beberapa variasi tertentu. Sesuai dengan spesifikasi yang diberikan seorang guru pada muridnya.

Sejarah Timbulnya Tarekat

Peralihan tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang besifat lembaga tidakterlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang yang berhasrat ingin mempelajarinya. Maka menemui orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam mengalaman tasawuf yang dapat menuntun mereka. Belajar dari seorang guru dengan metode mengajar yang disusun berdasarkan pengalaman dalam suatu ilmu yang bersifat praktik adalah suatu keharusan bagi mereka.

Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat nama yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui dengan pasti. Namun Harun Nasution menyatakan bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikataka sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi belum baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.

Arti Tarekat

Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka yang mencari Allah disini dan kini. Merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beranekaragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak hulak tarekat-tarekat telah beraneka ragam dengan ciri-ciri khusus dan berbeda satu dengan yang lainnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Islam Memang Moderat Saat Ini

Islam Memang Moderat Saat Ini

Islam Memang Moderat Saat Ini

Islam Memang Moderat Saat Ini
Islam Memang Moderat Saat Ini

Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama
Dari Abi Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama itu melainkan pasti ia (agama) akan mengalahkan orang itu. Maka bersikap lurus, moderat, dan sikapilah dengan gembira (lapang dada).” (H.R. Bukhari)

Riwayat Hadits

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Kitabul-Mardha bab “Tamannil-maridhi almauta” (orang sakit mengangankan mati) dan dalam Kitabur-Riqaq bab “Al-qashdu wal-mudawah ‘alal-‘amal” (bersikap tengah dan kontinyu dalam beramal).
Penjelasan Rasulullah saw. di atas menegaskan kepada kita bahwa aslinya Islam adalah moderat dan jauh dari ekstremitas. Al Quran dan Sunnah telah menggariskan segala sesuatu yang membuat manusia mencapai kebaikan, kebahagiaan, dan kejayaan dunia serta akhirat. Tidak ada sesuatu pun yang membuat manusia bahagia melainkan pasti dijelaskan oleh Islam. Dan tidak ada pula sesuatu yang membuat manusia celaka melainkan pasti diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam menjelaskan hukum-hukum itu, ada nash-nash yang amat rinci di antaranya penjelasan mengenai praktik ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Petunjuk untuk ibadah-ibadah seperti itu telah sangat gamblang dan lengkap. Hal lain yang diterangkan secara rinci misalnya pembagian harta waris. Siapa yang berhak memperolah harta waris dan berapa bagian untuk masing-masing orang yang berhak itu.

Selain itu, ada pula petunjuk-petunjuk Islam yang bersifat global dan umum. Perinciannya diserahkan kepada ijtihad orang-orang yang berkompeten untuk itu, yakni para ulama dengan kualifikasi dan persyaratan tertentu. Petunjuk yang bersifat global ini banyak berkaitan dengan masalah-masalah muamalah, politik, budaya, dan sebagainya. Namun semua itu tidak lepas dari bingkai umum yang telah diberikan oleh Islam.
Semuanya tercantum lengkap dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Dan itulah parameter dan acuan kita ber-Islam. Tanpa parameter itu maka akan terjadi bias dalam penilaian. Bisa saja karena seseorang tidak suka dengan cara temannya melaksanakan ajaran-ajaran Islam –yang belum tentu salah— dicaplah dia sebagai ekstrem. Dan sebaliknya orang yang selalu mengambil pilihan yang sulit dan ‘keras’ akan menuduh orang yang berbeda dengan dirinya sebagai orang yang tidak komit, lembek, dan penakut.

Penjelasan

Jadi, tidak ada Islam ekstrem, yang ada adalah muslim ekstrem. Ini ditegaskan pula oleh Rasulullah saw.,
Dari Abi Mas’ud r.a., Nabi saw. bersabda, “Binasalah mutanath-thi’un.” Beliau mengulangi kalimat itu sampai tiga kali. (H.R. Muslim)
Imam Nawawi, dalam kitabnya Riyadhush-Shalihin, menjelaskan kata ‘mutanath-thi’un’ yang ada dalam hadis itu, “Mutanath-thi’un adalah orang-orang yang mendalam-dalami (secara memaksakan diri) dan bersikap keras dalam hal yang tidak seharusnya keras.”

Pemahaman Islam Secara Parsial

Kedua, Memahami Syari’at Islam secara Parsial Islam diturunkan oleh Allah sebagai din syamil (agama yang komprehensif). Oleh karena itu ia harus dipahami secara syamil pula. Pemahaman parsial tentang Islam (syari’at Islam) mempunyai peran besar dalam memunculkan perilaku ekstrem. Syari’at Islam merupakan bangunan utuh yang satu komponen dengan lainnya saling menguatkan. Fondasinya adalah aqidah dan keimanan. Lantai pertamanya adalah akhlak dan perilaku. Ibadah-ibadah ritual (ta’abbudi) adalah lantai kedua. Lantai ketiganya adalah muamalat dengan segala cabangnya. Dan bangunan Islam tidak akan tegak kecuali dengan tegaknya bagian-bagian itu.

Syariat Islam

Sesungguhnya syari’at Islam bukanlah hanya berisikan hudud seperti hukum potong tangan, hukum rajam, atau hukum cambuk. Karenanya, dalam kacamata Islam, menegakkan syari’at Islam bukan hanya menegakkan hudud itu. Terkait dengan hal ini, Dr. ‘Ali Juraisyah menegaskan: “Bukan hanya dengan hudud syari’at Islam ditegakkan. Karena hudud hanyalah bagian dari hukum-hukum muamalah. Sedangkan muamalah merupakan lantai tiga atau empat dari bangunan syari’at. Jadi semata-mata menegakkan hudud atau bahkan muamalat secara keseluruhan, sama dengan kita membangun lantai tiga atau empat tanpa lantai satu dan dua, dan tanpa fondasi. Lalu bagaimana bangunan itu akan berdiri tegak?”

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Macam Shalat Sunah Rawatib – Niat Shalat Qobliyah dan Niat Shalat Ba’diyah

Macam Shalat Sunah Rawatib – Niat Shalat Qobliyah dan Niat Shalat Ba’diyah

Macam Shalat Sunah Rawatib – Niat Shalat Qobliyah dan Niat Shalat Ba’diyah

Macam Shalat Sunah Rawatib – Niat Shalat Qobliyah dan Niat Shalat Ba’diyah
Macam Shalat Sunah Rawatib – Niat Shalat Qobliyah dan Niat Shalat Ba’diyah

Shalat Sunah Rawatib

Menurut Hadis Riwayat Muslim Nomor 728, Sabda rasulullah SAW mengenai sholat sunah rawatib ini sebagai berikut : dari Ummu Babibah isteri nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalah, beliau berkata : Aku mendegar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda : “Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunah ikhlas karena ALlah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya rumah di Surga”

Macam shalat sunah rawatib

Shalat sunah rawatib ada beberapa macam, di bawah ini akan disebutkan macam sholat sunah rawatib lengkap dengan bacaan niatnya. :

1. Shalat sunah dua rakaat sebelum shalat shalat subuh (qobliyah)

Niat shalat qobliyah subuh : Ushalli sunnatash subhi rak’ataini qabliyyatan lillahi Ta’aalaa
Artinya : Aku shalat sunnah sebelum subuh dua rakaat karena Allah

2. Shalat sunah dua rakaah sebelum shalat shalat dhuhur (qobliyah)

Niat shalat qobliyah dhuhur : ushalli sunnata dzhuri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’aalaa
Artinya : Aku niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakataa karena Allah.

3. Shalat sunah dua atau empat rakaat setelah shalat dhuhur (ba’diyah)

Niat shalat dhuhur ba’diyah untuk dua rakaat : ushalli sunnata dzuhri rak’ataini ba’diyyatal lillaahi ta’aala
aku niat shalat sunnah sesudah dzuhur dua rakaat karena Allah
Niat shalat dhuhur ba’diyah untuk empat rakaat : ushalli sunnata dzuhri arba’a roka’atin ba’diyyatal lillaahi ta’aala
artinya aku niat shalat sunnah sesudah dzuhur empat rakaat karena Allah

4. Shalat sunah dua rakaat sebelum shalat ashar (qobliyah)

Niat shalat ashar qobliyah untuk dua rakaat : ushalli sunnatal ‘ashri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’aalaa
aku niat shalat sunnah sebelum ashar dua rakaat karena Allah

5. Shalat sunah dua rakaat setelah shalat magrib (ba’diyah)

Niat shalat magrib ba’diyah : Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatal lillahi ta’aalaa
artinya : Aku niat shalat sunnah sesudah magrib dua raka’at karena Allah

6. Shalat sunah dua rakaat sebelum shalat isya’ (Qobliyah)

Niat shalat isyah qobliyah : ushalli sunnatal ‘isyaa’i rak’ataini qobliyyah lillahi ta’aalaa
artinya : aku niat shalat sunah sebelum isya’ dua rakaat karena Allah

7. Shalat sunah dua rakaat setelah shalat isya’ (ba’diyah)

Niat shalat isya’ ba’diyah : Ushalli sunnatal ‘isyaa’i rak’ataini ba’diyyah lillahi ta’aalaa
artinya : aku niat shalat sunah sesudah isyah dua rakaat karena Allah
Itulah artikel islami yang mengulas mengenai sholat sunah rawatib, niat shalat sunah qobliyah dan niat shalat sunah ba’diyah. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat bagi kamu yang membutuhkan. dan semoga Allah senantiasa memberi kita ilmu yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari ilmu ilmu yang tidak bermanfaat.
Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Baca Juga: 

Beberapa Keutamaan Shalat Tahajud di Dunia 

Beberapa Keutamaan Shalat Tahajud di Dunia 

Beberapa Keutamaan Shalat Tahajud di Dunia

Beberapa Keutamaan Shalat Tahajud di Dunia 
Beberapa Keutamaan Shalat Tahajud di Dunia

 

1. Dijaga Dari gangguan Syeitan

Orang yang menegakkan qiyamullail akan terpelihara dari gangguan setan dan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya

“Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk sholat, maka beliau menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya ” (Muttafaqun ‘alaih)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan: “Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan 3 ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): “Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.” Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa) , maka terurailah (terlepas) satu simpul . Kemudian apabila ia berwudhu , terurailah satu simpul lagi Dan kemudian apabila ia sholat , terurailah simpul yang terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya . Jika tidak (yakni tidak bangun sholat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal shalih)” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Dikabulkan Doa

Mengetahui di malam hari itu ada 1/3 malam terakhir dimana Allah Subhanahu wa Ta ’ala akan mengabulkan doa orang yang berdoa, memberi sesuatu bagi yang memintaa, dan mengampuni yang memohon ampun pada-Nya

“Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasannya Nabi bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam pada 1/3 malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepadakepada- Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit fajar “(HR. Bukhari no. 145 dan Muslim no. 758)
Rasulullah dalam sabda beliau:

“Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.” (HR Muslim No. 757)

3. Ciri-ciri orang Shaleh dan Menjadikan sebab masuk surga.

“Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 15-18).

4. Jalan mendapatkan rahmat Allah

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Daud)

5. Sarana Pengabulan permohonan

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan shalat tahajud dengan ikhlas. Rasulullah Saw Bersabda,
“Dari Jabir berkata, bahwa nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)

6. Penghapus dosa dan kesalahan

Dari Abu Umamah al-Bahili berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub, penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi)

7. Jalan mendapat tempat yang terpuji

Allah berfirman,  “Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/

Amalan Sholat Sunah Tahajud

Amalan Sholat Sunah Tahajud

Amalan Sholat Sunah Tahajud

Amalan Sholat Sunah Tahajud
Amalan Sholat Sunah Tahajud

Waktu Pelaksanaan Shalat Tahajud

Awal waktu shalat lail adalah setelah shalat isya dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar kedua. Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat isya sampai subuh.” (HR. Muslim no. 736)

Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Karenanya Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119, “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua) adalah waktu untuk mengerjakan witir.”

Karenanya jika ada orang yang shalat maghrib-isya dengan jama’ taqdim, maka dia sudah boleh mengerjakan shalat lail walaupun waktu isya belum masuk. Sebaliknya, walaupun sudah jam 10 malam tapi jika dia belum shalat isya, maka dia belum diperbolehkan shalat lail.

Jumlah Rakaat shalat tahajud

Shalat lail atau tahajjud minimal 2 rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Hanya saja, walaupun dibolehkan mengerjakan shalat lail tanpa ada batasan rakaat (selama itu genap), akan tetapi sunnahnya dia hanya mengerjakan 8 rakaat (plus witir 3 rakaat) berdasarkan hadits Aisyah yang pertama di atas.

Disunnahkan juga untuk mengerjakan 2 rakaat ringan sebelum shalat lail -berdasarkan hadits Aisyah yang terakhir di atas-, sehingga total rakaatnya adalah 13 rakaat.

Bacaan Doa Niat Sholat Tahajud

Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.

Terjemahan Doa Niat Sholat Tahajud

Artinya: “Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah”

Tuntunan Dan Tata Cara Sholat Tahajud

Melaksanakan sholat malam ini sama halnya dengan mengerjakan sholat yang lain baik fardhu atau sholat sunah , perbedaannya hanya terletak pada waktu pelaksanaan yang harus dilakukan pada malam hari serta niat sholatnya saja

Berikut ini tata cara melaksanakan shalat tahajud yang benar :
1. Niat sholat Tahajud, Niat diucapkan dalam hati (bukan diucapkan dengan lisan) dilakukan pada saat takbiratul Ihrom
2. Melakukan Takbir (Takbirotul Ihrom), ‘Allahu Akbar’ sambil mengangkat ke dua tangan sejajar deangan bahu
3. Membaca surat Alfatihah, Alfatihah wajib hukumnya dibaca, kemudian dilanjutkan dengan bacaan surat Al-qur’an yang sudah dihafal
4. Ruku’, Membungkuk sambil memegang ke dua lutut sehingga kepala dengan punggung rata
5. I’tidal, Berdiri tegak setelah selesai ruku’ (mebaca tasbih)
6. Lanjutkan seperti melaksanakan sholat pada umumnya

Bacaan Doa setelah shalat tahajud :

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/

Syarat-Syarat Wajib Haji Dan Penjelasannya

Syarat-Syarat Wajib Haji Dan Penjelasannya

Syarat-Syarat Wajib Haji Dan Penjelasannya

Syarat-Syarat Wajib Haji Dan Penjelasannya
Syarat-Syarat Wajib Haji Dan Penjelasannya

Syarat Wajib Haji

Berikut ini ada 4 syarat wajib haji:

Islam

Tidak wajib bagi orang kafir, karena haji adalah ibadah sedang orang kafir bukan ahlinya

Merdeka

Merdeka artinya bukan hamba sahaya (budak), dan haji tidak wajib atas budak, karena ia tergolong orang tidak mampu

Mukallaf

Artinya Aqil (berakal) dan baligh (dewasa), tidak wajib bagi orang gila dan anak kecil mengerjakan haji. Sekiranya anak kecil mengerjakan haji, maka hajinya sah tapi harus diulang setelah memasuki usia dewasa.

عَنْ عَلِيّ بِنْ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ: عَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ (رواه أبو داود والنسائي بإسناد صحيح

Dari Ali bin Abi Thalib ra, sesungguhnya Rasulallah saw berkata: ”Terangkat pena (terlepas dari dosa) atas tiga, anak kecil sampai baligh, orang tidur sampai bangun dan orang gila sampai sembuh dari gilanya” (HR Abu Daud dan Nasai dengan sanad shahih).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ الْحِنْثَ عَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ حَجَّةً أُخْرَى وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ ثُمَّ عُتِقَ فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ حِجَّةً أُخْرَى (رواه البيهقي بإسناد حسن

Dari Ibnu Abbas ra., Rasulallah saw bersabda: ”kapan saja anak kecil masuk baligh setelah melakukan haji maka baginya haji berikutnya. Dan kapan saja budak telah dimerdekakan oleh majikanya setelah melakukan haji, maka baginya haji berikutnya” (HR al-Baihaqi dengan sanad baik)

Mampu

Yang dimaksud mampu disini adalah mempunyai perbekalan dan ada kendaraan:

  • Mempunyai perbekalan yang cukup untuk dirinya semasa dalam perjalanan pergi dan balik dan perbekalan semasa melaksanakan haji. Begitu pula perbekalan hidup untuk orang yang wajib dibelanjainya (keluarganya) semasa ia dalam perjalanan, termasuk perbekalan untuk melunasi hutang
  • Mempunyai kendaraan yaitu mampu menyewa atau membayar ongkos kapal terbang, kapal laut, mobil dll. Disamping itu sanggup melaksanakan haji dengan fisiknya, serta aman dalam perjalanan.
  • Orang yang tidak sanggup dengan hartanya yaitu tidak mampu memenuhi perbekalan dan kedaraan dan pula tidak mempunyai kekuatan dalam fisiknya (tua atau sakit), maka dia gugur dari kewajiban melaksanakan haji.

Baca juga: 

Haji Ifradh, Tamattu’ dan Qiran

Haji Ifradh, Tamattu’ dan Qiran

Haji Ifradh, Tamattu’ dan Qiran

Haji Ifradh, Tamattu’ dan Qiran
Haji Ifradh, Tamattu’ dan Qiran

Pengertian dan Dalil tentang Haji

Al-haj (Haji) dalam bahasa artinya menuju dan dalam ilmu fiqih adalah menuju ke Baitullah di Makkah untuk menunaikan manasik haji pada waktu tertentu yang telah dimaklumi yaitu bulan Dzul Hijjah
Allah berfirman:

وَللَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً – العمران ﴿٩٧

Artinya: “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;” (Qs al-Imron ayat: 97)
Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ – البقرة ﴿١٩٧

Artinya: “haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,” (Qs al-Baqarah ayat 97)
Al-umrah dalam bahasa artinya menuju ke tempat ramai dan dalam ilmu fiqih adalah menuju ke Baitullah di Makkah untuk melaksanakan manasik umrah kapan saja sepanjang tahun (tidak ada batas waktu tertentu)

Allah berfirman:

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للَّهِ – البقرة ﴿١٩٦

Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (Qs al-Baqarah ayat: 196)
Kedudukan Haji dalam agama adalah sebagai salah satu rukun Islam. Haji diwajibkan kepada umat Muhammad saw pada tahun 9 Hijriah. Haji dan Umrah hukumnya wajib atau fardhu atas setiap muslim yang mampu sekali seumur hidup. Hal ini sesuai dengan ijma’ ulama yang diambil dari sabda-sabda Rasulallah saw

عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ الْحَجَّ فَحُجُّوا فَقَالَ رَجُلٌ أَ كُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw pernah berkhutbah kepada kami. Beliau bersabdanya:”Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kamu, oleh sebab itu kerjakanlah haji itu”. Seseorang lelaki bertanya: Adakah tiap tahun wahai Rasullullah?” Rasulullah saw diam tidak menjawab, sehingga ia mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Lalu Rasulullah saw menjawab: “Jika aku katakan: “Ya” maka akan menjadi kewajiban atas kamu (setiap tahun), sedang kamu tidak mampu melakukannya.” (HR Muslim)

عَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عُمْرَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِلأَبَدِ ؟ فَقَالَ : لا بَلْ لِلأَبَدِ ، دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِي الْحَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه الدارقطني بإسناد صحيح)

Dari Suraqah bin Malik ra, ia bertanya: ”Wahai Rasulullah, apakah umrah kita ini untuk tahun ini saja atau untuk selama-lamanya?” Rasulullah menjawab: “Untuk selama-lamanya. Umrah telah masuk dalam (amalan-amalan) haji sehingga hari kiamat”. (HR ad-Daraqutni dengan sanad shahih)

Pelaksanaan Haji

Pelaksanaan haji dibagai tiga cara:
1. Haji Ifradh
2. Haji Tamattu’
3. Haji Qiran

Haji Ifrad

Haji ifrad adalah orang yang berniat saat ihram hanya untuk melakukan haji saja. Ia mengucapkan ”Labbaika hajjan” kemudian memasuki Mekah untuk thawaf qudum, lalu ia tunaikan manasik haji; wukuf di Arafah, mabit di Muzdallifah, melontar jumrah Aqabah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwa, bermalam di Mina untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq. Kemudian setelah selesai menunaikan seluruh manasik haji itu, ia lalu keluar dari Mekah memulai ihram yang kedua dengan niat umrah. Ia mengucapkan ”Labaika umratan”. Ini jika ia mau melaksanakan manasiknya, jika tidak maka umrahnya boleh dilakukan kapan saja.

Haji ifrad adalah manasik paling afdhal menurut Syafi’i dan Maliki karena dengan manasik ini tidak membayar Hadyu (Dam). Dan kewajiban Dam adalah untuk menambal kekurangan yang ada. Sebagaimana haji Rasulullah saw, menurut mereka, adalah ifrad.

Tamattu’

Haji Tamattu’ adalah haji dengan terlebih dahulu ihram untuk melaksanakan umrah dari miqat yang telah ditetapkan dengan mengucapkan ”Labbaika umratan”. Kemudian memasuki kota Mekah, menyempurnakan manasik umrah yaitu thawaf dan sa’i lalu memotong atau mencukur rambut, kemudian tahallul dari ihram. Halal baginya segala larangan ihram termasuk berhubungan suami istri. Ia dalam keadaan demikian (tidak ihram) sehingga datang tanggal 8 Dzulhijjah lalu ia berihram untuk haji dari Makkah dengan mengucapkan ”Labbaika hajjan”. Lalu melaksanakan manasiknya wukuf di Arafah, mabit di Muzdallifah, melontar jumrah Aqabah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwa, bermalam di Mina untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq. Ia melaksanakan seluruh manasik haji dengan sempurna pula.
Firman Allah:

فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ – البقرة ﴿١٩٦

Artinya: “Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat.”(Qs al Baqarah ayat:196)

Qiran

Haji qiran adalah dengan berniat ketika ihram sekaligus melakukan haji dan umrah dengan mengucapkan: ”Labbaika hajjan wa umratan”. Kemudian memasuki Mekah, thawaf qudum, dan terus dalam keadaan ihram sehingga datang waktu melaksanakan manasik haji. Ia melaksanakan manasik itu dengan sempurna, wukuf di Arafah, mabit di Muzdallifah, melontar jumrah Aqabah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwa, bermalam di Mina untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq. Ia tidak berkewajiban thawaf dan sa’i lain untuk umrah, cukup dengan thawaf dan sa’i haji.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : طَوَافُك بِالْبَيْتِ وَسَعْيُك بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ يَكْفِيك لِحَجِّك وَعُمْرَتِك (رواه مسلم

Seperti yang pernah Rasulullah katakan kepada Aisyah ra ”thawaf-mu di Ka’bah dan sa’i-mu antara Shafa dan Marwa sudah cukup untuk haji dan umrahmu” (HR. Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ ، فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ وَحَجَّةٍ ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ ، فَأَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ (رواه الشيخان)

Dari Aisyah ra, ia berkata: ”Kami keluar bersama Rasulallah saw pada waktu haji wada’. Diantara kami ada yang ihram untuk umrah (tamattu’), ada pula yang ihram untuk haji (qiran) dan umrah dan ada yang ihram untuk haji saja (ifrad). Sedang Rasulallah saw ihram untuk haji saja” (HR Bukhari Muslim)

Bagi orang menunaikan haji tamattu’ dan qiran wajib menyembelih hewan hadyu (Dam), minimal seekor kambing, dan jika tidak mampu bisa diganti dengan puasa sepuluh hari: tiga hari di antaranya dilakukan pada waktu haji, dan tujuh hari lainnya ketika sudah kembali ke tanah air, Dan tujuh hari berikutnya tidak wajib berturut-turut.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2018/09/kumpulan-bacaan-sholawat-nabi-muhammad-saw.html

Sumber Ilmu Fiqih Dalam Islam

Sumber Ilmu Fiqih Dalam Islam

Sumber Ilmu Fiqih Dalam Islam

Sumber Ilmu Fiqih Dalam Islam
Sumber Ilmu Fiqih Dalam Islam

Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw yang sampai kepada kita dari sumber-sumber yang terpercaya. Al-qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diberikan kepada rasul terakhir Muhammad saw, kitab suci agama islam yang akan terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Susunan bahasa dan gaya sastra al-qur’an yang tinggi menjadi bukti kuat jika ayat-ayat dalam al-Qur’an bukanlah buatan manusia melainkan wahyu Allah.

As-Sunah

Sunah ialah perkataan, perbuatan, dan pengakuan Nabi kita Muhammad saw yang dapat dijadikan dasar hukum Islam. Perkataan Nabi saw adalah sabda beliau saw yang dilantunkan dari lisan beliau sendiri kepada para sahabat. Perbuatan Nabi saw adalah semua tindak tanduk perbuatan beliau yang diriwayatkan oleh para sahabat, misalnya beliau mengajarkan kepada para shahabatnya bagaimana cara sholat. Pengakuan Nabi saw ialah perbuatan para sahabat di hadapan Nabi saw yang dibiarkan dan tidak dicegah oleh beliau, misalnya diamnya beliau sewaktu menyaksikan shahabat memakan daging biyawak pada suatu masa.

Allah berfirman: “Dan apa yang diberikan rasul kepadamu, terimalah ia, dan apa yang dilarang olehnya atasmu, tinggalkanlah.” (al-Hasyr: 7)
Adapun hadist yang diriwayatkan para sahabat dan dapat diambil sebagai hukum untuk menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya adalah hadits shahih, kemudian hadits hasan. Perbedaan hadits shahih dan hasan terletak pada kedhabithannya (kekuatan atau kecermatannya). Jika hadits shahih tingkat dhabithnya harus tinggi, maka hadits hasan tingkat kedhabithannya (kekuatan atau kecermatannya) berada dibawahnya. Hadits Hasan adalah tingkatan hadits yang ada dibawah hadits shahih. Hadits Hasan juga merupakan hadits yang diriwayatkan oleh rawi terkenal dan disetujui keakuratannya oleh sebagian besar pakar hadits. Sedangkan hadits dhaif (lemah) tidak bisa diambil sebagai keputusan untuk menghukum yang halal dan haram tapi bisa digunakan sebagai pelengkap ibadah.
Rasulallah saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang semisalnya bersamanya,” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Al-Ijma’

Ijma’ ialah kesepakatan para mujtahid atau ulama umat nabi Muhammad saw dalam suatu masa setelah wafat beliau atas suatu hukum tertentu. Selanjutnya jika mereka telah mensepakati masalah hukum tersebut, maka hukum itu menjadi aturan agama yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya. Contohnya Ijma’ para shahabat Nabi saw dimasa sayyidina Umar ra dalam menegakkan sholat tarawih. Allah berfirman: ”Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” an-Nisa’ 115 Rasulallah saw bersabda: “Tidak bersepakat umatku atas kesesatan” (Abu Daud)

Al-Qiyas

Qiyas ialah persamaan hukum sesuatu yang tidak ada dalilnya dengan hukum sesuatu yang ada dalilnya dikarnakan hampir bersamaan atau karena adanya persamaan hukum. Jumhur ulama muslimin bersepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan selanjutnya mejadi sumber hukum, contohnya:
Allah telah mengharamkan Khamr (arak), karena merusak Akal, membinasakan badan, menghabiskan harta. Maka segala minuman yang memabukkan hukumnya haram dikiyaskan dari khamr (arak) Rasulallah telah mewajibkan zakat ternak unta, sapi dan kambing. Maka segala hewan ternak yang sejenis hewan tersebut diatas maka wajib dizakatkan contonya kerbau wajib dizakatkan dikiyaskan dari sapi
Allah berfirman: “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (al-Hasyr 2)

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2016/05/30-doa-doa-harian-terlengkap-beserta-artinya.html

Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf

Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf

Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf

Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf
Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf
Sobat pada artikel kali ini kita akan membahas tentang Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme. Mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui tentang ilmu yang satu ini. Tassawuf merupakan ilmu untuk menyucikan jiwa, menjernihkan akhla, membangun dhazir dan batin demi mencapai kebahagiaan abadi. Lalu bagaimana sebenarnya Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf?
Sejarah ilmu Tasawwuf memang membuat bingung, pasalnya ada banyak pendapat yang pro dan kontra terkait asal usul ajaran tasawuf ini. Sebagian mengatakan bahwa Tasawuf bukanlah ajaran Agama Islam, sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW.

Pendapat lainnya juga mengatakan bahwa

ilmu tasawuf muncul saat terjadi pertikaian saat khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ternyata pertikaian terkait politik ini terus saja terjadi meski dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Kemudian muncul masyarakat yang menentang pertikaian tersebut. Mereka menganggap bahwa dunia politik merupakan tempat yang kotor sehingga mereka melakukan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi ketempat lain yang lebih terpencil.
Di wilayah tepencil ini mereka mempraktikkan hidup sederhana atau zuhud layaknya Nabi Muhammad SAW. Mereka menanggalkan pakaian mereka dan menggantinya dengan pakaian dari bulu domba. Pakaian dari bulu domba malah menjadi salah satu ciri khas mereka. Bulu domba yang memiliki arti dalam bahasa arab Shuf menjadi panggilan dari para pengikutnya yakni Sufi.

Para ulama berbeda pendapat tentang awal kemunculan kata tasawuf

Ibnu Taimiyah dan sebelum itu Ibnu Al Jauzi dan Ibu Khaldun menyebutkan bahwa kata sufi tidak dikenal di tiga abad hijriyah, namun pembicaran tentang tasawuf dikenal setelah itu.
As Siraj Ath Thusi berkata di bab khusus yang ia buat untuk mengkounter pendapat yang menyatakan: “Kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi pada zaman dulu dan kata tersebut adalah kata baru.”
Berkata As Siraj: “Jika penanya bertanya dengan berkata bahwa kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi dikalangan sahabat-sahabat Nabi SAW atau generasi sesudah mereka, kami hanya mengenal istilah orang-orang ahli ibadah, orang-orang zuhud, para pengembara, para orang miskin. Selain itu, tidak pernah dikatakan kepada seorang sahabat bahwa ia orang sufi.”

Hal yang sama dikatakan As-Sahruradi

“kata tasawuf tidak dikenal pada zaman Rasullullah.” ada yang mengatakan bahwa kata tasawuf (sufi) tidak dikenal hingga tahun 200 Hijriyah. Abdurrahman Al Jami menegaskan: “Abu Hasyim Al Kufi adalah orang yang pertama kali dipanggil dengan sebutan sufi dan sebelumnya tidak ada seorang pun yang diberi nama dengan nama tersebut. Khaniqah yang pertama kali ialah khaniqah di Ramlah, Syam.”
Adapun Al Hajuwiri, ia menyebutkan kata tasawuf sudah ada pada zaman Rasullullah dan dengan kata yang sama, Al Hajuwiri berhujjah dengan hadits palsu yang mengatasnamakan Rasullullah, katanya Beliau bersabda: “Barangsiapa mendengar suara orang-orang sufi, namun tidak mengamankan doa mereka, ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang lalai.”
Padahal Al Hajuwiri sendiri menulis di akhir bab yang sama ketika menjelaskan perkataan Abu Al Hasan Al Busynaji: “Tasawuf pada hari ini adalah nama tanpa hakekat dan sebelum itu adalah hakekat tanpa nama.” Maksudnya, nama tasawuf tidak ada pada zaman sahabat dan generasi salaf sedang maknanya ada pada setiap orang dari mereka, sedang sekarang namanya ada, namun maknanya tidak ada.  Adapun   para orientalis yang menulis tasawuf seperti Nichelson, ia berpendapat bahwa kata tasawuf pertama kali diberikan kepada Abu Hasyim Al Kufi (meninggal pada tahun 150 H).

Adapun bentuk jamak kata sufi

yaitu shufiyah (orang-orang sufi) yang muncul pada tahun 189 H (814M) di Iskandariyah, maka itu menunjukkan dekatnya periode ketika itu dengan salah satu aliran tasawuf islam, yang nyaris merupakan aliran Syiah dan muncul di Kufah. Abdak adalah imam terakhir tasawuf dan termasuk orang yang berpendapat imamah (kepemimpinan) itu bisa dimiliki dengan pewarisan dan penunjukan. Abdak tidak makan daging dan meninggal dunia di Baghdad kira-kira pada tahun 210 H. Jadi penggunaan kata sufi terbatas di Kufah.
Banyak orang Islam yang antipati kepada tasawuf, tetapi banyak juga kelompok orang yang sangat mengagungkan tasawuf bahkan tarekat. Tasawuf dianggap ajaran yang tidak memiliki landasan dalil yang sahih, baik dalil implisit maupun eksplisit, bisa mengarah kepada perbuatan syiirik.
Demikianlah artikel tentang  Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf. Mudah-mudahan apa yang kami buat ini semakin bertambah ilmu teman-teman tentang islam secara kaffah terutama mengenai Ilmu Tasawuf.
Baca juga artikel: