Arti Maslahah Mursalah & Metode

Arti Maslahah Mursalah

Arti Maslahah Mursalah & Metode

Arti Maslahah Mursalah
Arti Maslahah Mursalah

Arti Maslahah Mursalah

Maslahah Mursalah terdiri dari dua kata yaitu maslahah dan mursalah. Maslahah sendiri sudah dijelaskan di atas sedangkan mursalah secara bahasa artinya terlebas dan bebas. Abdul Wahab Khallaf mendefinisikan maslahah mursalah adalah “sesuatu yang dianggap maslahah umum namun tidak ada ketegasan hukum untuk merealisasikannya dan tidak pula ada dalil tertentu baik yang mendukung maupun yang menolaknya”.[2] Sedangkan menurut menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Musytasyfa-nya yang dikutip dari buku oleh Drs. Totok Jumantoro

مالم يشهد له من الشرع با لبطلان ولا با الاعتببر نصّ معيّن
Artinya : “sesuatu yang tidak ada bukti baginya dari syara’ dalam bentuk nas yang membatalkanya dan tidak ada pula yang menetapkannya”.

Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa maslahah mursalah adalah “sesuatu kejadian atau peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya tetapi tidak ada satupun nas Al Quran dan Hadis yang dapat dijadikan dasarnya, dan sebagai dasar untuk menetapkan hukum dalam bidang mu’amalah dan semacamnya.

Maslahah Mursalah sebagai metode ijtihad

Dalam hal ini tidak dapat disangkal lagi bahwa dikalangan madzhab ushul terdapat perbedaan pendapat tentang kehujjajahan atau sebagai metode ijtihad dalam memutuskan suatu hukum ada beberapa syarat yang khusus harus dipenuhi dalam menggunakan metode ini yaitu:

a) Maslahah Mursalah itu bersifat hakiki dan umum bukan maslahah yang bersifat perorangan dan bersifat dzan, dapat diterima oleh akal sehat bahwa hal itu benar benar mendatangkan manfaat bagi manusia dan menghindarkan dari madharat secara utuh dan menyeluruh, sejalan dengan tujuan syara’ dan tidakberbenturan dengan prinsip dalil syara’ yang telah ada baik dalam alquran maupun hadits.

b) Ssesuatu yang dianggap maslahah itu hendaknya bersifat kepentingan umum bukan bersifat pribadi.

c) Sesuatu yang dianggap maslahah itu tidak bertentangan dengan nas alquran,hadits dan ijma’.

Dalam kutipan Drs sapiudin shidiq, M.A menyatakan bahwa imam malik dan pengikutnya adalah kelompok yang menggunakan Maslahah Mursalah sebagai metode ijtihad, berbeda dengab Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i yang tidak memekai sebagai metode ijtihad. Adpun alasan para ulama’ ushul fikih Maslahat Mursalah tidak di gunakan sebagai metode ijtihad atau dasar hukum dalam bidang ibadah adalah pelaksaan ibadah harus dilakukan sesuai dengan petunjuk nabi. Dalam hal ini kita mengutip dari buku ushul fikih Drs.Sapiudin sidiq sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul karim Zaidan yaitu:

a. Hukum Allah dan rosulnya sudah menjamin segala bentuk kemaslahatan manusia. Menggunakan maslahah mursalah berarti menganggap syariat tidak lengkap, karena menganggap ada maslahah yang belum termuat dalam syariat islam. Hal ini bertentangan dengan ayat al quran Q.S al Qiyamah/75:36
أيحسب الانسن ان يترك سدى
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban )

b. Menggunakan maslahah mursalah akan berdampak buruk karena akan membuka peluang bagi hakim di pengadilan atau penguasa unyuk menetapkan hukum menurut seleranya yang mana menurut mereka sebagai kemaslahatan.
Begitulah alasan – alasan mengapa para ulama ushul fikih sebagian
tidak menerima maslahah mursalah sebagai metode ijtihad.

Baca Juga:

Arti Maslahah & Macamnya

Arti Maslahah & Macamnya

Arti Maslahah & Macamnya

Arti Maslahah & Macamnya
Arti Maslahah & Macamnya

Arti Maslahah

Maslahah berasal dari kata صلح dengan penambahan alif di awalnya yang secara arti kata berarti baik lawan dari kata buruk atau rusak. Maslahah adalah masdar dengan arti shalah صلاح yaitu manfaat atau terlepas dari padanya kerusakan. Pengertian maslahah dalam bahasa Arab adalah perbuatan-perbuatan yang mendorong kepada kebaikan manusia. Dalam arti yang umum maslahah berarti segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, baik dalam arti menarik atau menghasilkan seperti menghasilkan keuntungan (kesenangan ), atau dalam arti menolak atau menghindarkan seperti menolak kerusakan.

Ada beberapa pendapat mengenai definisi maslahah seperti yang dikemukakan oleh al- Ghazali sebagai berikut:
المحافظة على مقصود الشرع
“Memelihara tujuan syara’ (dalam menetapkan hukum)”

Adapun pendapat Al- khawarizmi:
المخافظة على مقصود الشرع بد فع المفاسد عن الخلق
“Memelihara tujuan syara’ (dalam menetapkan hukum) dengan cara menghindarkan kerusakan dari manusi”.

Adapun pendapat dari Ath- Thufi yang dinukil Yusuf Hamid Al- Alim dalm karyanya muqoshid al ammah
عبارة عن السبب المئدى الى مقصودالشارع عبادة او عادة
“Ungkapan dari sebab yang membawa kepada tujuan syara’ dalam bentuk ibadat atau adat”.

Macam – macam Maslahah

Para ahli Ushul Fikih membagi maslahah menjadi beberapa macam yang di lihat dari beberapa segi yaitu sebagai berikut:
(1) Dilihat dari segi kualitas dan kepentingan kemaslahatan yang terbagi menjadi tiga macam :

Baca Juga: Ayat Kursi

a. Maslahah Adh-Dharuriyah

yang mana meliputi memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan dan memelihara harta
Contoh: memeluk agama merupakan fitrah dan naluri insani yang tidak bisa diingkari dan sangat dibutuhkan manusia. Untuk kebutuhan tersebut Allah SWT mensyariatkan agama yang wajib dipelihara setiaporang, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamallah.

b. Maslahah Al-Hajiyah

Kemaslahatan yang dibutuhkan dalam penyempurnaan kemaslahatan pokok (mendasar) sebelum yang berbentuk keringanan untuk mempertahankan dan memelihara kebutuhan mendasar manusia.
Contoh: dalam beribadah diberikan keringanan mengqahsr salat dan berbuka puasa bagi orang yang musafir sedangkan dalam bidang muamallah dibolehkan berburu binatang dan memakan makanan yang baik baik dibolehkan menjual beli pesanan, kerja sama dalam pertanian dan perkebunan.

c. Maslahah At-Tahsiniyah

(2) Dilihat dari segi kandungan Maslahah yang meliputi : Maslahah Al- ‘Ammah dan Maslahah Al- Khashash
(3) Dilihat dari segi berubah atau tidaknya maslahah , menurut mustofa Asy – Syalabi meliputi : Maslahah – At Tsabitah dan Maslahah Al- Mutaghayyaroh.
(4) Dilihat dari segi keberadaan Maslahah menurut syara’ meliputi: Maslahah Al- Mu’tabarah, Maslahah Al- mulghoh, dan Maslahah Al – mursalah.[1]

Cara Mengetahui Mutasyabihat & Hikmahnya

Mutasyabihat

Cara Mengetahui Mutasyabihat & Hikmahnya

Mutasyabihat
Mutasyabihat

Cara Mengetahui Mutasyabihat

Dalam masalah ini, para ahli tafsir juga terbagi beberapa pendapat, antara lain:
Pertama, Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat mutasyabihat itu tidak ada yang mengetahui kecualiAllah SWT. Mereka mengharuskan wakaf pada ayat: وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ kemudian Ibtida’ pada lafadz: وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ.

Kedua, Abu Hasan Asy’ari berpendapat bahwa wakaf hendaklah pada وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ. Jadi pengertiannya bahwa orang-orang yang rasakh ilmunya itu mengetahui juga takwil mutasyabihat. Pendapat ini juga telah dijelaskan oleh Abu Ihak Asyirozi dan didukungnya. Sebagian ahli menyatakan, bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada sesuatu yang tidak dapat dipahami maknanya, sebab kalau begitu berarti al-Qur’an keluar dari fungsinya sebagai بَيَانٌ لِّلنَّاسِ, atau penjelasan bagi umat manusia.

Ketiga, ar-Raghib al-Asyfahani berpendapat dengan metode menghindarkan ifrat dan tafrit. Beliau membagi menjadi mutassyabih dari segi kemungkinan mengetahui maknanya kepada tiga bagian: 1) Tidak ada jalan untyuk mengetahuinya seperti terjadinya kiamat, keluarnya binatang dari bumi dan lain sebagainya. 2) Manusia dapat menemukan cara untuk mengetahuinya seperti lafal-lafal yang ganjil dan hukum-hukum yang rumit. 3) Hanya diketahui oleh orang-orang yang rasikh ilmunya, seperti Ibnu Abbas yang oleh Nabi di do’akan dengan: اللهم فقه في الدين وعلمه التأويل.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/sayyidul-istigfar/

Hikmah mengetahui Mutasyabihat

Para Ulama menyebutkan hikmah adanya ayat-ayat mutasyabihat, antara lain:
Pertama, untuk menambah pahala, karena dengan adanya ayat mutasyabihat mengharuskan tambahan daya dan upaya dalam mengungkap maksudnya.
Kedua, kalau tidak ada ayat mutasyabih, tentu umat islam hanya ada dalam satu madzhab. Tetapi dengan adanya ayat mutasyabihat dan muhkamat, maka masing-masing penganut madzhab akan mendapat dalai yang menguatkan pendapatnya. Dengan usaha terus menerus menggali seperti itu.

Ketiga, supaya tumbuh berkembang ilmu-ilmu baru. Dengan adanya ayat mutasyabihat, dengan metode tafsir dan tarjih antara satu dengan lainya. Oleh karena itu lalu tumbuh ilu bahasa, gramatika, ma’ani, bayan, ushul fiqih dan sebagainya.

Keempat, supaya terpenuhi kebutuhan segala lapisan objek dakwah. Dari kalangan awam, tidak bisa memahami sifat-sifat Allah yang tidak bertubuh, tidak bertempat, tidak begini-begitu dan sebagainya. Maka ayat-ayat mutasyabihat menjelaskan sifat-sifat Allah dengan madzhar ibady seperti kata-kata bertangan, berseayam, bermata dan lain-lain, untuk mendekatkan pendekatan orang-orang awam. Sebab bagi orang awam, penjelasan sifat Allah dengan madzhar hakiki sangat sulit dipahami.

PAHALA MENGUCAPKAN “AMIIN” SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

PAHALA MENGUCAPKAN "AMIIN" SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

PAHALA MENGUCAPKAN “AMIIN” SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

PAHALA MENGUCAPKAN "AMIIN" SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH
PAHALA MENGUCAPKAN “AMIIN” SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

Salat berjamaah memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah pahala yang diberikan hingga 27 kali lipat. Salat ini dipimpin oleh seorang imam yang diikuti oleh para makmum yang berada dibelakangnya.

Inilah Pahala Mengucapkan ‘Aamiin’ Setelah Imam Membaca Al-Fatihah.

Pada beberapa waktu salat, imam membacakan surat Alfatihah dengan mengeraskan suara. Saat akhir kalimat dari surat tersebut, para makmum akan menyambutnya dengan kata ‘Aamiin’. Imam kemudian melanjutkan dengan bacaan surat pendek.

Diantara kita pasti pernah malas-malasan mengucapkan kata aamiin ini. Atau sengaja mengucapkan dengan lirih sehingga suara tidak terdengar. Padahal ada faedah besar dibalik ucapan pendek tersebut. Apa saja faedahnya? Berikut ringkasannya.

Hukum dar imengucapkan lafadz aamiin

ketika selesai membaca Al Fatihah adalah sunnah (dianjurkan) bagi imam dan makmum. Bacaan ini diucapkan secara keras pada salat subuh, Maghrib, dan Isya. Ternyata tidak hanya dalam salat, umat Islam juga di sunnahkan untuk mengucapkan aamiin usai membaca Al Fatihah di luar salat.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Disunnahkan bagi yang membaca surat Al Fatihah untuk mengucapakan aamiin setelah membacanya. Ulama Syafi’iyah dan ulama lainnya menyatakan bahwa dianjurkan mengucapkan aamiin bagi orang yang membaca Al Fatihah di luar shalat, terlebih lagi jika di dalam shalat, baik ia shalat sendiri (munfarid), sebagai imam, maupun sebagai makmum, begitu pula di keadaan lainnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 144-145)

Ucapan aamiin adalah sebuah doa yang bermakna ‘kabulkan doa kami Yaa Allah. Ternyata dengan mengucapkan ini manusia memperoleh banyak manfaat. Pasalnya tidak hanya imam dan makmum saja yang mengucapkan kalimat tersebut. Namun malaikat juga turut mengucapkan lafadz aamiin ini.

Banyak dalil yang menunjukan bahwa malaikat turut serta mengucapkan aamiin usai imam membaca surat pertama dalam Alquran ini. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut antara lain sebagai berikut.

“Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘aamiin’, maka para Malaikat di langit mengucapkan ‘aamiin’, lalu yang satu tepat dengan apa yang diucapkan yang lainnya, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Shahiih al-Bukhari kitab al-Adzaan bab Fadhlut Ta’-miin (II/266).

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa kata aamiin adalah sebuah do’a. Jika kemudian malaikat juga mengucapkan aamiin, itu artinya mereka memohon agar Allah mengabulkan doa manusia atau lebih tepatnya Ya Allah, kabulkanlah permohonan mereka.”

Sungguh, Allah SWT memberikan kemudahan untuk meraih pahalanya menuju surga. Namun manusia kerap lalai dan mengabaikan kemudahan yang Allah berikan.

Padahal hidup tidak hanya di dunia saja, melainkan ada akhirat yang menjadi hari pembalasan bagi semua amal baik dan buruk yang kita lakukan. Jadi jangan sia-siakan kesempatan memperoleh ampunan ini. Terima kasih sudah membaca.

Baca Juga:

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM
HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

Tidak selayaknya orang tua memaksa anak gadisnya menikah tanpa meminta persetujuan darinya. Seorang anak jika ia masih gadis, maka ia harus dimintai persetujuan. Dan di antara tanda persetujuannya pada pernikahan tersebut adalah dengan diam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُنْكَحُ اْلاَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَ لاَ اْلبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ كَيْفَ اِذْنُهَا؟ قَالَ: اَنْ تَسْكُتَ

“Seorang janda tidak (boleh) dinikahkan hingga ia diajak musyawarah, dan seorang gadis tidak (boleh dinikahkan) sehingga dimintai izinnya”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana izinnya?”. Beliau menjawab, “Ia diam”. (HR. Jamaah)

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، تُسْتَأْمَرُ النِّسَاءُ فِى اَبْضَاعِهِنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: اِنَّ اْلبِكْرَ تُسْتَأْمَرُ فَتَسْتَحِى فَتَسْكُتُ. فَقَالَ: سُكَاتُهَا اِذْنُهَا

Dari ‘Aisyah radhiyallahu

‘anha ia berkata: Aku pernah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah wanita-wanita itu (harus) diminta izinnya dalam urusan pernikahan?”. Beliau menjawab, “Ya”. Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya seorang gadis jika diminta izinnya ia malu dan diam”. Beliau menjawab, “Diamnya itulah izinnya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Nah, bagi anak gadis, jika ia tidak ridha menikah dengan seseorang yang telah dipilihkan orang tuanya hendaklah ia menyampaikan itu kepada orang tuanya. Jangan diam saja karena diam itu tanda setuju. Komunikan dengan orang tua secara baik-baik. Insya Allah, orang tua di zaman sekarang pasti mau mendengarkan anaknya jika anak tersebut mengutarakan isi hatinya secara baik-baik.

Masalah ini kadang timbul karena tidak adanya komunikasi. Orang tua merasa anaknya setuju karena tidak berkomentar. Sedangkan anak diam saja merasa dipaksa oleh orang tua dan tidak berani bicara.

Keterpaksaan

Pernikahan tidak boleh dilakukan dengan keterpaksaan salah satu mempelainya. Sebab pernikahan itu salah satu tujuannya adalah membentuk keluarga yang sakinah; ada ketenangan, ada kedamaian. Kalau sampai suami istri saling benci karena menikah dengan terpaksa, yang terjadi tentu bukan sakinah.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Rukun Nikah

Rukun nikah itu ada lima: mempelai laki-laki dan perempuan, wali, saksi, mahar dan ijab qabul. Kedua mempelai tersebut haruslah saling ridha dalam menikah. Jika salah satunya tidak ridha, maka pernikahan menjadi tidak sah.

Karena itu, sekali lagi, orang tua dan anak harus berkomunikasi dalam soal pernikahan ini. Karena menikah ini untuk selamanya. Menikah ini untuk masa depan. Menikah bukan sebuah permainan. Wallahu a’lam bish shawab.

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK
INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

Bagi sebagian orang, bukan menjadi masalah jika tidak mempersiapkan sebuah nama untuk anak yang akan lahir. Namun tidak sedikit pula yang sudah sibuk membuat list nama sejak sebelum anak terlahir ke dunia.

Di dalam pergaulan sehari-hari kita mungkin sering mendengar kalimat ‘apalah arti sebuah nama’. Ternyata bagi Agama Islam, nama memiliki arti penting. Pasalnya pada hari kiamat nanti, manusia dipanggil sesuai nama diri dan ayahnya.

Sehingga sudah seyogyanya panggilan yang melekat ini berisi doa serta harapan dan tidak boleh asal-asalan. Bagi orang tua hal ini sudah harus menjadi perhatian penting. Islam menganjurkan agar memperhatikan hal ini sebelum memberi nama anak. Apa saja? Berikut ringkasannya.

1. Ketahui Nama-nama yang Disukai Allah

Sebelum memberi nama anak, ketahui dahulu apa saja nama-nama anak yang paling disukai Allah SWT. Dalam banyak hadistnya, Rasulullah SAW menyebutkan nama-nama yang indah dan disukai Allah.

Berdasarkan hadist riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW mengatakan tentang dua nama yang sangat disukai Allah, yakni Abdullah dan Abdurrahman. Namun tentu saja ini nama untuk anak laki-laki.

Ibnu Umar ra. mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya” Sesungguhnya nama kalian yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman” (HR Muslim)

Ada pula nama lain yang disukai Allah. Adalah nama-nama para nabi Rasul yang disarankan diberikan untuk nama anak. Memberi nama anak dengan nama nabi karena diharapkan anak tersebut akan memperoleh berkah dari sebutan namanya. Dan diharapkan memperoleh sifat menyerupai nabi yang namanya di pakai.

2. Ketahui Nama-nama yang Dibenci Allah

Hal kedua yang perlu diperhatiakan sebelum memberi nama anak adalah mengetahui nama-nama yang dibenci Allah SWT. Bukan tidak disampaikan, Rasulullah SAW sudah mengabarkan nama-nama yang membuat Allah marah.

Salah satunya adalah nama Malikul Amlaak dan sejenisnya seperti Ahkamul Hakimin, Sulthonus Salaathiin, Robbul Arbaab. Nama-nama ini khusus hanya untuk Allah. Sehingga sebagai hamba-Nya kita dilarang memakainya.

Selain nama tersebut ada lagi nama yang tidak disukai Allah. Samurah bin Jundub ra. menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Jangan sekali-kali memberi nama budak kalian dengan nama Yasar (Mudah atau kaya), Najih (dari kata Najh yang artinya sukses).

Juga jangan diberi nama Aflah (dari kata Al Falah yang artinya beruntung). Sebab jika kamu bertanya “Apakah ada dia?” lalu dia tidak ada, maka akan dijawab “Tidak ada”. Sungguh semua itu hanya empat nama. (HR Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Hadist ini melarang kita memberi nama seseorang dengan empat nama tersebut. Sebab akan menimbulkan kosekunsi kurang baik. Misalnya seseorang diberi nama Aflaah (untung). Suatu ketika jika kita mencarinya “Apakah disana ada dia” lalu ternyata orang tersebut tidak ada, maka akan dijawab “Tidak ada”, yakni tidak ada untung. Kalimat tidak ada untung tersebut sebenarnya mengatakan keadaan yang sesungguhnya bahwa orang yang bernama untung tidak ada di sana. Namun kalimat itu bisa saja semacam keluhan atau doa.

Baca Juga: Sifat Allah

3. Jangan Memberi Nama dengan Menyematkan Nama Bulan Masehi

Seperti diketahui banyak sekali umat Islam yang menyematkan nama bulan masehi pada nama lengkapnya. Perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dari Januari hingga Desember diambil dari nama dewa-dewi dalam mitologi Yunani dan Romawi kuno.

Januari berasal dari kata Janus yang merupakan nama dewa pintu. Februari berasal diambil dari bahasa Latin, Februus, yang merupakan nama dewa penyucian. Dahulu bangsa Yunani melakukan penyucian pada bulan ini. Dan nama yang sering digunakan antara lain Febri, Febi, Febrian, Febriana, Febrianto dll.

Maret diambil dari nama Dewa Mars atau Martius yakni Dewa Perang. Nama yang sering digunakan dengan bulan ini seperti Maryanto, Martini, Marina dll.

April diambil dari nama Aphrodite yaitu sang dewi kecantikan. Mei diambil dari nama Dewi Yunani, yaitu Maia. Juni dari Dewi Juno yang dalam mitologi Romawi adalah istri Dewa Jupiter. Juli diambil dari nama Julius Caesar. Augustus, yang merupakan kaisar Romawi. September diambil dari bahasa Latin”Septem”, Oktober berasal dari kata “Octo” November, dari bahasa Latin”Novem” Desember , dari kata “Decem”.

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj

Pada tahun ke-10 kenabian

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mengalami insiden Isra Mi’raj. Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di Yerusalem. Mi’raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dari Masjidilaksa ke langit melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arsy (takhta Tuhan), dan dingklik (singgasana Tuhan), hingga mendapatkan wahyu di hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam peluangnnya berhadapan eksklusif dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mendapatkan perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Peristiwa Isra Mi’raj ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Isrâ’ ayat 1. Hijrah Harapan gres bagi perkembangan Islam muncul dengan hadirnya jemaah haji ke Mekah yang berasal dari Yatsrib (Madinah).

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memanfaatkan peluang itu untuk berbagi agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan menhadiri kemah-kemah mereka. Namun perjuangan ini selalu diikuti oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Suatu ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu dengan 6 orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal dari Yatsrib. Sesudah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memberikan pokok-pokok aliran Islam, mereka menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Mereka berkata, “Bangsa kami sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.

Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaramu dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh lantaran itu kami akan berdakwah biar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini.”
Pada ekspresi dominan haji tahun diberikutnya, hadirlah delegasi Yatsrib yang terdiri dari 12 orang suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam di suatu tempat berjulukan Aqabah. Di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di Aqabah, maka dinamakan Bai’at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan dikawani oleh Mus’ab bin Umair yang sengaja diutus oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam atas seruan mereka.

Pada ekspresi dominan haji diberikutnya, jemaah haji yang hadir dari Yatsrib berjumlah 75 orang, termasuk 12 orang yang sebelumnya sudah menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam di Aqabah. Mereka meminta biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersedia pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dari segala ancaman. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menyetujui usul yang mereka ajukan.

Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan orang-orang Yatsrib, kaum Quraisy menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memerintahkan para sahabat dekatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke Yatsrib.

Baca Juga: Ayat Kursi

Dalam waktu 2 bulan

kurang lebih 150 kaum muslimin sudah berada di Yatsrib. Sementara itu Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar as-Sidiq tetap tinggal di Mekah bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, membelanya hingga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sebelum ia sempat menyusul umatnya ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan tiruana suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabat dekatnya, Abu Bakar.
Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam perjalanan, termasuk 2 buntut unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menempati tempat pulasnya biar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi Shallall Shallallahu Alaihi Wassalam masih pulas.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menemui Abu Bakar yang sudah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.

Pada malam ke-4, sehabis perjuangan orang Quraisy mulai menurun lantaran mengira Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sudah hingga di Yatsrib, keluarlah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun datang dengan membawa 2 buntut unta yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.

Sesudah 7 hari perjalanan, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar datang di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka diberistirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam membangun sebuah masjid yang kemudian populer sebagai Masjid Quba. INI masjid pertama yang dibangun Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai sentra peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kehadirannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sudah datang di Yatsrib. Oleh alasannya yaitu itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kehadiran Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan rombongan. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.

melalui atau bersamaini perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kehadiran Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala’ al-Badru, yang isinya: Telah datang bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ’i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau sudah membawa sesuatu yang harus kami taati.
Setiap orang ingin biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam spesialuntuk berkata, “Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah ia berjalan sekehendak hatinya.”

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. melaluiataubersamaini demikian Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menentukan rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bersama-sama membangun rumah untuknya.
Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), lantaran dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap
Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Al-Aamidi rahimahullah

menyatakan bahwa ulama telah bersepakat atas terjadinya naskh (penghapusan) tulisan/lafazh, tanpa naskh hukumnya, berbeda dengan anggapan kelompok yang menyendiri dari kalangan Mu’tazilah. [14]

Hikmah naskh

jenis ini adalah: agar kadar ketaatan umat kepada Allah menjadi nampak, yaitu di dalam bersegera melakukan ketaatan dari sumber yang zhanni rojih (persangkaan kuat), yaitu sebagian dari As-Sunnah, bukan dari sumber yang seluruhnya yaqin, yaitu Al-Qur’an. Sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihissallam bersegera akan melaksanakan penyembelihan terhadap anaknya, Nabi Isma’il, dengan sumber mimpi, sedangkan mimpi adalah tingkatan terendah jalan wahyu kepada para nabi. Wallahu a’lam. [15]

Selain itu, di antara hikmahnya adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata: “Hikmah naskh lafazh tanpa (naskh) hukumnya adalah untuk menguji umat terhadap amalan yang tidak mereka dapati di dalam Al-Qur’an, dan mewujudkan keimanan mereka dengan apa yang Allah turunkan. Berbeda dengan orang-orang Yahudi yang berusaha menutupi nash rajm di dalam Taurat”. [16]

Contoh jenis naskh

ini adalah ayat rajm [17] Umar bin Al-Khathab berkata:

لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَطُولَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ حَتَّى يَقُولَ قَائِلٌ لَا نَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللَّهُ أَلَا وَإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى وَقَدْ أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوِ الِاعْتِرَافُ قَالَ سُفْيَانُ كَذَا حَفِظْتُ أَلَا وَقَدْ رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ

“Sesungguhnya aku khawatir, zaman akan panjang terhadap manusia sehingga seseorang akan berkata: “Kita tidak mendapati rajm di dalam kitab Allah”, sehingga mereka menjadi sesat dengan sebab meninggalkan satu kewajiban yang telah diturunkan oleh Allah. Ingatlah, sesungguhnya rajm adalah haq atas orang yang berzina dan dia telah menikah, jika bukti telah tegak, atau ada kehamilan, atau ada pengakuan”. Sufyan berkata: “Demikianalh yang aku ingat”. “Ingatlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan rajm, dan kita telah melakukan rajm setelah beliau”. (HR. Bukhari, no: 6829; Muslim, no: 1691; dan lainnya)

Adapun lafazh ayat rajm, disebutkan oleh sebagian riwayat dengan bunyi:

الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Laki-laki yang tua (maksudnya : yang sudah menikah) dan wanita yang tua (maksudnya : yang sudah menikah) jika berzina, maka rajamlah keduanya sungguh-sungguh, sebagai hukuman yang mengandung pelajaran dari Allah, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (Lihat Fathul Bari, 12/169, Darul Hadits, Kairo, cet: 1, th: 1419 H / 1998 M, syarh hadits no: 6829)

Baca Juga:

Penjelasan Nash Yang Mansukh

Penjelasan Nash Yang Mansukh

Penjelasan Nash Yang Mansukh

Nash Yang Mansukh Hukumnya, Namun Lafazhnya Tetap

Inilah jenis nash mansukh yang paling banyak. Yaitu hukum syar’i dihapuskan, tidak diamalkan, namun lafazhnya tetap.

Hikmah naskh jenis ini adalah: tetapnya pahala membaca ayat tersebut dan mengingatkan umat tentang hikmah naskh, terlebih dalam hukum yang diringankan dan dimudahkan.

Contohnya firman Allah Azza wa Jalla.

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِن يَّكُن مِّنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. (QS.Al Anfal :65)

Baca Juga: Rukun Iman

Ayat ini menunjukkan kewajiban bersabarnya 20 umat Islam berperang menghadapi 200 orang-orang kafir. Dan bersabarnya 100 umat Islam berperang menghadapi 1000 orang-orang kafir.

Kemudian hukum ini dihapus dengan firman Allah selanjutnya.

الْئَانَ خَفَّفَ اللهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِن يَكُنْ مِّنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al Anfal :66]

Abdullah bin Abbas berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ ( إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ) شَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ حِينَ فُرِضَ عَلَيْهِمْ أَنْ لَا يَفِرَّ وَاحِدٌ مِنْ عَشَرَةٍ فَجَاءَ التَّخْفِيفُ فَقَالَ ( الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضُعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ) قَالَ فَلَمَّا خَفَّفَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنَ الْعِدَّةِ نَقَصَ مِنَ الصَّبْرِ بِقَدْرِ مَا خُفِّفَ عَنْهُمْ

Ketika turun (firman Allah): “Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh” (Al-Anfal: 65), hal itu berat atas umat Islam, yaitu ketika diwajibkan atas mereka, bahwa satu orang tidak boleh lari menghadapi 10 (musuh). Kemudian datanglah keringanan, Allah berfirman: “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang.” (Al-Anfal: 66) Ketika Allah telah meringankan dari mereka jumlah (musuh yang wajib dihadapi-red), kesabaranpun berkurang seukuran apa yang Allah telah meringankan dari mereka”. (HR. Bukhari, no: 4653)

Contoh  Mansukh

Inilah contoh hukum yang mansukh di dalam Al-Qur’an. Penjelasan mansukhnya hukum dalam ayat 65 surat Al-Anfal di atas, selain dari Ibnu Abbas, juga diriwayatkan dari Mujahid, Atho’, ‘Ikrimah, Al-Hasan Al-Bashri, Zaid bin Aslam, ‘Atho Al-Khurosani, Adh-Dhohhak, dan lainnya. [13] Orang yang menolak adanya mansukh dalam Al-Qur’an telah menyelisihi penafsiran mereka.

Sufisme Dan Modernitas

Sufisme Dan Modernitas

Sufisme Dan Modernitas

relevansi sufisme

Apakah relevansi sufisme dengan modernitas? Mungkinkah sufisme bisa bertahan di tengah sikap kritis kalangan Muslim sendiri terhadap sufisme? Apakah sufisme dapat bertahan di tengah deru modernitas yang bertumpu pada rasionalitas dan efisiensi serta siap menggilas segala sesuatu dalam kehidupan yang tidak cocok dengan paradigma modernitas ini?

Bagi sementara kalangan Muslim, sufisme atau tasawuf tidak relevan dengan kemodernan. Bahkan, sebaliknya, dipandang sebagai hambatan bagi kaum Muslimin dalam mencapai modernitas dan kemajuan dalam berbagai lapangan kehidupan. Pandangan ini, yang menempatkan sufisme sebagai ‘tertuduh’, bukanlah sesuatu yang baru.

Bahkan, sejak bermulanya praktik sufistik di masa awal Islam, kaum Muhadditsin dan Fuqaha’ memandangnya sebagai tidak sesuai dengan sunah Nabi, eksesif, dan spekulatif dalam hal-hal menyangkut Tuhan. Oposisi ini terus bertahan dari waktu, meski Al Ghazali berhasil merukunkan syariah dan tasawuf sejak abad 12. Bahkan, kebangkitan modernisme dan reformisme Islam sejak awal abad 20 menjadikan tasawuf sebagai salah satu sasaran pembaharuan dan pemurnian Islam. Bagi para pemikir, aktivis modernis, dan reformis Muslim, kaum Muslim bisa mencapai kemajuan hanya dengan meninggalkan kepercayaan dan praktik sufistik yang mereka pandang bercampur dengan bid’ah, khurafat, takhayul, dan taqlid buta kepada pimpinan tasawuf dan tarekat.

Baca Juga: Rukun Islam

Modernitas

Pandangan seperti itu perlu dikaji ulang. Modernitas dan modernisasi tidak selalu berhasil memenuhi janjinya bagi peningkatan kesejahteraan kaum Muslimin. Sebaliknya, modernisasi yang diikuti globalisasi juga memunculkan kesulitan baru: mulai dari meningkatnya gaya hidup materialistik dan hedonistik sampai disorientasi dan dislokasi sosial, politik, dan budaya.

Karena itu, membaca buku Sufism and the ‘Modern’ in Islam yang disunting Martin van Bruinessen dan Julia Day Howell (London: IB Tauris, 2006), sangat membantu untuk lebih memahami berbagai gejala sufisme dalam kaitan dengan modernitas di kalangan kaum Muslimin di masa kontemporer. Buku yang berasal dari makalah-makalah pada konferensi internasional yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Bogor pada awal September 2003 merupakan sumbangan penting ke arah pemahaman lebih baik tentang sufisme dewasa ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai wilayah masyarakat Muslim lain.

Satu hal sudah pasti, yaitu terjadinya kebangkitan sufisme pada masa pascamodernitas dan globalisasi ini. Ini bertentangan dengan anggapan yang memprediksikan sufisme tidak dapat bertahan dalam modernisasi dan globalisasi. Tetapi, seperti diingatkan van Bruinessen dan Howell, kebangkitan sufisme tidak bisa sepenuhnya dipahami hanya sebagai bentuk respons kaum sufi terhadap modernitas dan globalisasi.

Kebangkitan Sufisme

Hemat saya, kebangkitan sufisme berkaitan dengan sejumlah faktor keagamaan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang kompleks. Secara keagamaan, sejak 1980-an, terjadi gejala peningkatan attachmen kepada Islam, gejala yang di Indonesia biasa disebut sebagai ‘santrinisasi’. Proses itu dimungkinkan karena terbentuknya kelas menengah Muslim saat terjadi perubahan politik rezim penguasa yang lebih rekonsiliatif dan bersahabat terhadap kaum Muslimin dan Islam.

Relatif mapannya keadaan ekonomi kelas menengah tersebut tidak hanya mendorong mereka, misalnya mengerjakan ibadah haji dan umrah. Akan tetapi, juga mengeksplorasi pengalaman keagamaan dan spiritualitas yang lebih intens. Ini hanya bisa diberikan sufisme, bahkan bentuk spiritualitas Islam lainnya, yang memang tidak selalu sesuai dengan paradigma dan bentuk tasawuf konvensional.

Karena itulah, gejala sufisme kontemporer di Indonesia dan di dunia Muslim lain tidak lagi hanya diwakili bentuk tasawuf konvensional, baik tarekat maupun tasawuf yang diamalkan secara personal-individual. Tetapi, muncul pula bentuk baru yang mirip dengan apa yang disebut ‘new age movement’, gerakan [spiritualitas keagamaan] zaman baru.

Dalam konteks itu, jika secara konvensional, zikir misalnya, dilakukan secara pribadi dan kelompok di ruang tertutup, kini dilakukan secara massal dan terbuka dengan liputan TV. Gejala baru ini tidak membuat pengamalan sufisme konvensional lenyap. Bahkan, sebaliknya, tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan momentumnya, tidak hanya di kelas menengah, sekaligus juga pada massa akar rumput.