PAHALA MENGUCAPKAN “AMIIN” SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

PAHALA MENGUCAPKAN "AMIIN" SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

PAHALA MENGUCAPKAN “AMIIN” SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

PAHALA MENGUCAPKAN "AMIIN" SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH
PAHALA MENGUCAPKAN “AMIIN” SETELAH IMAM MEMBACA AL-FATIHAH

Salat berjamaah memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah pahala yang diberikan hingga 27 kali lipat. Salat ini dipimpin oleh seorang imam yang diikuti oleh para makmum yang berada dibelakangnya.

Inilah Pahala Mengucapkan ‘Aamiin’ Setelah Imam Membaca Al-Fatihah.

Pada beberapa waktu salat, imam membacakan surat Alfatihah dengan mengeraskan suara. Saat akhir kalimat dari surat tersebut, para makmum akan menyambutnya dengan kata ‘Aamiin’. Imam kemudian melanjutkan dengan bacaan surat pendek.

Diantara kita pasti pernah malas-malasan mengucapkan kata aamiin ini. Atau sengaja mengucapkan dengan lirih sehingga suara tidak terdengar. Padahal ada faedah besar dibalik ucapan pendek tersebut. Apa saja faedahnya? Berikut ringkasannya.

Hukum dar imengucapkan lafadz aamiin

ketika selesai membaca Al Fatihah adalah sunnah (dianjurkan) bagi imam dan makmum. Bacaan ini diucapkan secara keras pada salat subuh, Maghrib, dan Isya. Ternyata tidak hanya dalam salat, umat Islam juga di sunnahkan untuk mengucapkan aamiin usai membaca Al Fatihah di luar salat.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Disunnahkan bagi yang membaca surat Al Fatihah untuk mengucapakan aamiin setelah membacanya. Ulama Syafi’iyah dan ulama lainnya menyatakan bahwa dianjurkan mengucapkan aamiin bagi orang yang membaca Al Fatihah di luar shalat, terlebih lagi jika di dalam shalat, baik ia shalat sendiri (munfarid), sebagai imam, maupun sebagai makmum, begitu pula di keadaan lainnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 144-145)

Ucapan aamiin adalah sebuah doa yang bermakna ‘kabulkan doa kami Yaa Allah. Ternyata dengan mengucapkan ini manusia memperoleh banyak manfaat. Pasalnya tidak hanya imam dan makmum saja yang mengucapkan kalimat tersebut. Namun malaikat juga turut mengucapkan lafadz aamiin ini.

Banyak dalil yang menunjukan bahwa malaikat turut serta mengucapkan aamiin usai imam membaca surat pertama dalam Alquran ini. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut antara lain sebagai berikut.

“Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘aamiin’, maka para Malaikat di langit mengucapkan ‘aamiin’, lalu yang satu tepat dengan apa yang diucapkan yang lainnya, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Shahiih al-Bukhari kitab al-Adzaan bab Fadhlut Ta’-miin (II/266).

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa kata aamiin adalah sebuah do’a. Jika kemudian malaikat juga mengucapkan aamiin, itu artinya mereka memohon agar Allah mengabulkan doa manusia atau lebih tepatnya Ya Allah, kabulkanlah permohonan mereka.”

Sungguh, Allah SWT memberikan kemudahan untuk meraih pahalanya menuju surga. Namun manusia kerap lalai dan mengabaikan kemudahan yang Allah berikan.

Padahal hidup tidak hanya di dunia saja, melainkan ada akhirat yang menjadi hari pembalasan bagi semua amal baik dan buruk yang kita lakukan. Jadi jangan sia-siakan kesempatan memperoleh ampunan ini. Terima kasih sudah membaca.

Baca Juga:

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM
HUKUM MENIKAH KARENA PAKSAAN ORANG TUA DALAM ISLAM

Tidak selayaknya orang tua memaksa anak gadisnya menikah tanpa meminta persetujuan darinya. Seorang anak jika ia masih gadis, maka ia harus dimintai persetujuan. Dan di antara tanda persetujuannya pada pernikahan tersebut adalah dengan diam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُنْكَحُ اْلاَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَ لاَ اْلبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ كَيْفَ اِذْنُهَا؟ قَالَ: اَنْ تَسْكُتَ

“Seorang janda tidak (boleh) dinikahkan hingga ia diajak musyawarah, dan seorang gadis tidak (boleh dinikahkan) sehingga dimintai izinnya”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana izinnya?”. Beliau menjawab, “Ia diam”. (HR. Jamaah)

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، تُسْتَأْمَرُ النِّسَاءُ فِى اَبْضَاعِهِنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: اِنَّ اْلبِكْرَ تُسْتَأْمَرُ فَتَسْتَحِى فَتَسْكُتُ. فَقَالَ: سُكَاتُهَا اِذْنُهَا

Dari ‘Aisyah radhiyallahu

‘anha ia berkata: Aku pernah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah wanita-wanita itu (harus) diminta izinnya dalam urusan pernikahan?”. Beliau menjawab, “Ya”. Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya seorang gadis jika diminta izinnya ia malu dan diam”. Beliau menjawab, “Diamnya itulah izinnya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Nah, bagi anak gadis, jika ia tidak ridha menikah dengan seseorang yang telah dipilihkan orang tuanya hendaklah ia menyampaikan itu kepada orang tuanya. Jangan diam saja karena diam itu tanda setuju. Komunikan dengan orang tua secara baik-baik. Insya Allah, orang tua di zaman sekarang pasti mau mendengarkan anaknya jika anak tersebut mengutarakan isi hatinya secara baik-baik.

Masalah ini kadang timbul karena tidak adanya komunikasi. Orang tua merasa anaknya setuju karena tidak berkomentar. Sedangkan anak diam saja merasa dipaksa oleh orang tua dan tidak berani bicara.

Keterpaksaan

Pernikahan tidak boleh dilakukan dengan keterpaksaan salah satu mempelainya. Sebab pernikahan itu salah satu tujuannya adalah membentuk keluarga yang sakinah; ada ketenangan, ada kedamaian. Kalau sampai suami istri saling benci karena menikah dengan terpaksa, yang terjadi tentu bukan sakinah.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Rukun Nikah

Rukun nikah itu ada lima: mempelai laki-laki dan perempuan, wali, saksi, mahar dan ijab qabul. Kedua mempelai tersebut haruslah saling ridha dalam menikah. Jika salah satunya tidak ridha, maka pernikahan menjadi tidak sah.

Karena itu, sekali lagi, orang tua dan anak harus berkomunikasi dalam soal pernikahan ini. Karena menikah ini untuk selamanya. Menikah ini untuk masa depan. Menikah bukan sebuah permainan. Wallahu a’lam bish shawab.

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK
INILAH ANJURAN ISLAM DALAM MEMILIH NAMA UNTUK ANAK

Bagi sebagian orang, bukan menjadi masalah jika tidak mempersiapkan sebuah nama untuk anak yang akan lahir. Namun tidak sedikit pula yang sudah sibuk membuat list nama sejak sebelum anak terlahir ke dunia.

Di dalam pergaulan sehari-hari kita mungkin sering mendengar kalimat ‘apalah arti sebuah nama’. Ternyata bagi Agama Islam, nama memiliki arti penting. Pasalnya pada hari kiamat nanti, manusia dipanggil sesuai nama diri dan ayahnya.

Sehingga sudah seyogyanya panggilan yang melekat ini berisi doa serta harapan dan tidak boleh asal-asalan. Bagi orang tua hal ini sudah harus menjadi perhatian penting. Islam menganjurkan agar memperhatikan hal ini sebelum memberi nama anak. Apa saja? Berikut ringkasannya.

1. Ketahui Nama-nama yang Disukai Allah

Sebelum memberi nama anak, ketahui dahulu apa saja nama-nama anak yang paling disukai Allah SWT. Dalam banyak hadistnya, Rasulullah SAW menyebutkan nama-nama yang indah dan disukai Allah.

Berdasarkan hadist riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW mengatakan tentang dua nama yang sangat disukai Allah, yakni Abdullah dan Abdurrahman. Namun tentu saja ini nama untuk anak laki-laki.

Ibnu Umar ra. mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya” Sesungguhnya nama kalian yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman” (HR Muslim)

Ada pula nama lain yang disukai Allah. Adalah nama-nama para nabi Rasul yang disarankan diberikan untuk nama anak. Memberi nama anak dengan nama nabi karena diharapkan anak tersebut akan memperoleh berkah dari sebutan namanya. Dan diharapkan memperoleh sifat menyerupai nabi yang namanya di pakai.

2. Ketahui Nama-nama yang Dibenci Allah

Hal kedua yang perlu diperhatiakan sebelum memberi nama anak adalah mengetahui nama-nama yang dibenci Allah SWT. Bukan tidak disampaikan, Rasulullah SAW sudah mengabarkan nama-nama yang membuat Allah marah.

Salah satunya adalah nama Malikul Amlaak dan sejenisnya seperti Ahkamul Hakimin, Sulthonus Salaathiin, Robbul Arbaab. Nama-nama ini khusus hanya untuk Allah. Sehingga sebagai hamba-Nya kita dilarang memakainya.

Selain nama tersebut ada lagi nama yang tidak disukai Allah. Samurah bin Jundub ra. menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Jangan sekali-kali memberi nama budak kalian dengan nama Yasar (Mudah atau kaya), Najih (dari kata Najh yang artinya sukses).

Juga jangan diberi nama Aflah (dari kata Al Falah yang artinya beruntung). Sebab jika kamu bertanya “Apakah ada dia?” lalu dia tidak ada, maka akan dijawab “Tidak ada”. Sungguh semua itu hanya empat nama. (HR Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Hadist ini melarang kita memberi nama seseorang dengan empat nama tersebut. Sebab akan menimbulkan kosekunsi kurang baik. Misalnya seseorang diberi nama Aflaah (untung). Suatu ketika jika kita mencarinya “Apakah disana ada dia” lalu ternyata orang tersebut tidak ada, maka akan dijawab “Tidak ada”, yakni tidak ada untung. Kalimat tidak ada untung tersebut sebenarnya mengatakan keadaan yang sesungguhnya bahwa orang yang bernama untung tidak ada di sana. Namun kalimat itu bisa saja semacam keluhan atau doa.

Baca Juga: Sifat Allah

3. Jangan Memberi Nama dengan Menyematkan Nama Bulan Masehi

Seperti diketahui banyak sekali umat Islam yang menyematkan nama bulan masehi pada nama lengkapnya. Perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dari Januari hingga Desember diambil dari nama dewa-dewi dalam mitologi Yunani dan Romawi kuno.

Januari berasal dari kata Janus yang merupakan nama dewa pintu. Februari berasal diambil dari bahasa Latin, Februus, yang merupakan nama dewa penyucian. Dahulu bangsa Yunani melakukan penyucian pada bulan ini. Dan nama yang sering digunakan antara lain Febri, Febi, Febrian, Febriana, Febrianto dll.

Maret diambil dari nama Dewa Mars atau Martius yakni Dewa Perang. Nama yang sering digunakan dengan bulan ini seperti Maryanto, Martini, Marina dll.

April diambil dari nama Aphrodite yaitu sang dewi kecantikan. Mei diambil dari nama Dewi Yunani, yaitu Maia. Juni dari Dewi Juno yang dalam mitologi Romawi adalah istri Dewa Jupiter. Juli diambil dari nama Julius Caesar. Augustus, yang merupakan kaisar Romawi. September diambil dari bahasa Latin”Septem”, Oktober berasal dari kata “Octo” November, dari bahasa Latin”Novem” Desember , dari kata “Decem”.

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj

Peristiwa Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj

Pada tahun ke-10 kenabian

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mengalami insiden Isra Mi’raj. Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di Yerusalem. Mi’raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dari Masjidilaksa ke langit melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arsy (takhta Tuhan), dan dingklik (singgasana Tuhan), hingga mendapatkan wahyu di hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam peluangnnya berhadapan eksklusif dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mendapatkan perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Peristiwa Isra Mi’raj ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Isrâ’ ayat 1. Hijrah Harapan gres bagi perkembangan Islam muncul dengan hadirnya jemaah haji ke Mekah yang berasal dari Yatsrib (Madinah).

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memanfaatkan peluang itu untuk berbagi agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan menhadiri kemah-kemah mereka. Namun perjuangan ini selalu diikuti oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Suatu ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu dengan 6 orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal dari Yatsrib. Sesudah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memberikan pokok-pokok aliran Islam, mereka menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Mereka berkata, “Bangsa kami sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.

Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaramu dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh lantaran itu kami akan berdakwah biar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini.”
Pada ekspresi dominan haji tahun diberikutnya, hadirlah delegasi Yatsrib yang terdiri dari 12 orang suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam di suatu tempat berjulukan Aqabah. Di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di Aqabah, maka dinamakan Bai’at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan dikawani oleh Mus’ab bin Umair yang sengaja diutus oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam atas seruan mereka.

Pada ekspresi dominan haji diberikutnya, jemaah haji yang hadir dari Yatsrib berjumlah 75 orang, termasuk 12 orang yang sebelumnya sudah menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam di Aqabah. Mereka meminta biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersedia pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dari segala ancaman. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menyetujui usul yang mereka ajukan.

Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan orang-orang Yatsrib, kaum Quraisy menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memerintahkan para sahabat dekatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke Yatsrib.

Baca Juga: Ayat Kursi

Dalam waktu 2 bulan

kurang lebih 150 kaum muslimin sudah berada di Yatsrib. Sementara itu Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar as-Sidiq tetap tinggal di Mekah bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, membelanya hingga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sebelum ia sempat menyusul umatnya ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan tiruana suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabat dekatnya, Abu Bakar.
Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam perjalanan, termasuk 2 buntut unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menempati tempat pulasnya biar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi Shallall Shallallahu Alaihi Wassalam masih pulas.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menemui Abu Bakar yang sudah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.

Pada malam ke-4, sehabis perjuangan orang Quraisy mulai menurun lantaran mengira Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sudah hingga di Yatsrib, keluarlah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun datang dengan membawa 2 buntut unta yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.

Sesudah 7 hari perjalanan, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar datang di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka diberistirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam membangun sebuah masjid yang kemudian populer sebagai Masjid Quba. INI masjid pertama yang dibangun Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai sentra peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kehadirannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sudah datang di Yatsrib. Oleh alasannya yaitu itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kehadiran Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan rombongan. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.

melalui atau bersamaini perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kehadiran Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala’ al-Badru, yang isinya: Telah datang bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ’i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau sudah membawa sesuatu yang harus kami taati.
Setiap orang ingin biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam spesialuntuk berkata, “Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah ia berjalan sekehendak hatinya.”

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. melaluiataubersamaini demikian Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menentukan rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bersama-sama membangun rumah untuknya.
Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), lantaran dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap
Nash Yang Mansukh Lafazhnya, Namun Hukumnya Tetap

Al-Aamidi rahimahullah

menyatakan bahwa ulama telah bersepakat atas terjadinya naskh (penghapusan) tulisan/lafazh, tanpa naskh hukumnya, berbeda dengan anggapan kelompok yang menyendiri dari kalangan Mu’tazilah. [14]

Hikmah naskh

jenis ini adalah: agar kadar ketaatan umat kepada Allah menjadi nampak, yaitu di dalam bersegera melakukan ketaatan dari sumber yang zhanni rojih (persangkaan kuat), yaitu sebagian dari As-Sunnah, bukan dari sumber yang seluruhnya yaqin, yaitu Al-Qur’an. Sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihissallam bersegera akan melaksanakan penyembelihan terhadap anaknya, Nabi Isma’il, dengan sumber mimpi, sedangkan mimpi adalah tingkatan terendah jalan wahyu kepada para nabi. Wallahu a’lam. [15]

Selain itu, di antara hikmahnya adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata: “Hikmah naskh lafazh tanpa (naskh) hukumnya adalah untuk menguji umat terhadap amalan yang tidak mereka dapati di dalam Al-Qur’an, dan mewujudkan keimanan mereka dengan apa yang Allah turunkan. Berbeda dengan orang-orang Yahudi yang berusaha menutupi nash rajm di dalam Taurat”. [16]

Contoh jenis naskh

ini adalah ayat rajm [17] Umar bin Al-Khathab berkata:

لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَطُولَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ حَتَّى يَقُولَ قَائِلٌ لَا نَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللَّهُ أَلَا وَإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى وَقَدْ أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوِ الِاعْتِرَافُ قَالَ سُفْيَانُ كَذَا حَفِظْتُ أَلَا وَقَدْ رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ

“Sesungguhnya aku khawatir, zaman akan panjang terhadap manusia sehingga seseorang akan berkata: “Kita tidak mendapati rajm di dalam kitab Allah”, sehingga mereka menjadi sesat dengan sebab meninggalkan satu kewajiban yang telah diturunkan oleh Allah. Ingatlah, sesungguhnya rajm adalah haq atas orang yang berzina dan dia telah menikah, jika bukti telah tegak, atau ada kehamilan, atau ada pengakuan”. Sufyan berkata: “Demikianalh yang aku ingat”. “Ingatlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan rajm, dan kita telah melakukan rajm setelah beliau”. (HR. Bukhari, no: 6829; Muslim, no: 1691; dan lainnya)

Adapun lafazh ayat rajm, disebutkan oleh sebagian riwayat dengan bunyi:

الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Laki-laki yang tua (maksudnya : yang sudah menikah) dan wanita yang tua (maksudnya : yang sudah menikah) jika berzina, maka rajamlah keduanya sungguh-sungguh, sebagai hukuman yang mengandung pelajaran dari Allah, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (Lihat Fathul Bari, 12/169, Darul Hadits, Kairo, cet: 1, th: 1419 H / 1998 M, syarh hadits no: 6829)

Baca Juga:

Penjelasan Nash Yang Mansukh

Penjelasan Nash Yang Mansukh

Penjelasan Nash Yang Mansukh

Nash Yang Mansukh Hukumnya, Namun Lafazhnya Tetap

Inilah jenis nash mansukh yang paling banyak. Yaitu hukum syar’i dihapuskan, tidak diamalkan, namun lafazhnya tetap.

Hikmah naskh jenis ini adalah: tetapnya pahala membaca ayat tersebut dan mengingatkan umat tentang hikmah naskh, terlebih dalam hukum yang diringankan dan dimudahkan.

Contohnya firman Allah Azza wa Jalla.

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِن يَّكُن مِّنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. (QS.Al Anfal :65)

Baca Juga: Rukun Iman

Ayat ini menunjukkan kewajiban bersabarnya 20 umat Islam berperang menghadapi 200 orang-orang kafir. Dan bersabarnya 100 umat Islam berperang menghadapi 1000 orang-orang kafir.

Kemudian hukum ini dihapus dengan firman Allah selanjutnya.

الْئَانَ خَفَّفَ اللهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِن يَكُنْ مِّنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al Anfal :66]

Abdullah bin Abbas berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ ( إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ) شَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ حِينَ فُرِضَ عَلَيْهِمْ أَنْ لَا يَفِرَّ وَاحِدٌ مِنْ عَشَرَةٍ فَجَاءَ التَّخْفِيفُ فَقَالَ ( الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضُعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ) قَالَ فَلَمَّا خَفَّفَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنَ الْعِدَّةِ نَقَصَ مِنَ الصَّبْرِ بِقَدْرِ مَا خُفِّفَ عَنْهُمْ

Ketika turun (firman Allah): “Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh” (Al-Anfal: 65), hal itu berat atas umat Islam, yaitu ketika diwajibkan atas mereka, bahwa satu orang tidak boleh lari menghadapi 10 (musuh). Kemudian datanglah keringanan, Allah berfirman: “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang.” (Al-Anfal: 66) Ketika Allah telah meringankan dari mereka jumlah (musuh yang wajib dihadapi-red), kesabaranpun berkurang seukuran apa yang Allah telah meringankan dari mereka”. (HR. Bukhari, no: 4653)

Contoh  Mansukh

Inilah contoh hukum yang mansukh di dalam Al-Qur’an. Penjelasan mansukhnya hukum dalam ayat 65 surat Al-Anfal di atas, selain dari Ibnu Abbas, juga diriwayatkan dari Mujahid, Atho’, ‘Ikrimah, Al-Hasan Al-Bashri, Zaid bin Aslam, ‘Atho Al-Khurosani, Adh-Dhohhak, dan lainnya. [13] Orang yang menolak adanya mansukh dalam Al-Qur’an telah menyelisihi penafsiran mereka.

Sufisme Dan Modernitas

Sufisme Dan Modernitas

Sufisme Dan Modernitas

relevansi sufisme

Apakah relevansi sufisme dengan modernitas? Mungkinkah sufisme bisa bertahan di tengah sikap kritis kalangan Muslim sendiri terhadap sufisme? Apakah sufisme dapat bertahan di tengah deru modernitas yang bertumpu pada rasionalitas dan efisiensi serta siap menggilas segala sesuatu dalam kehidupan yang tidak cocok dengan paradigma modernitas ini?

Bagi sementara kalangan Muslim, sufisme atau tasawuf tidak relevan dengan kemodernan. Bahkan, sebaliknya, dipandang sebagai hambatan bagi kaum Muslimin dalam mencapai modernitas dan kemajuan dalam berbagai lapangan kehidupan. Pandangan ini, yang menempatkan sufisme sebagai ‘tertuduh’, bukanlah sesuatu yang baru.

Bahkan, sejak bermulanya praktik sufistik di masa awal Islam, kaum Muhadditsin dan Fuqaha’ memandangnya sebagai tidak sesuai dengan sunah Nabi, eksesif, dan spekulatif dalam hal-hal menyangkut Tuhan. Oposisi ini terus bertahan dari waktu, meski Al Ghazali berhasil merukunkan syariah dan tasawuf sejak abad 12. Bahkan, kebangkitan modernisme dan reformisme Islam sejak awal abad 20 menjadikan tasawuf sebagai salah satu sasaran pembaharuan dan pemurnian Islam. Bagi para pemikir, aktivis modernis, dan reformis Muslim, kaum Muslim bisa mencapai kemajuan hanya dengan meninggalkan kepercayaan dan praktik sufistik yang mereka pandang bercampur dengan bid’ah, khurafat, takhayul, dan taqlid buta kepada pimpinan tasawuf dan tarekat.

Baca Juga: Rukun Islam

Modernitas

Pandangan seperti itu perlu dikaji ulang. Modernitas dan modernisasi tidak selalu berhasil memenuhi janjinya bagi peningkatan kesejahteraan kaum Muslimin. Sebaliknya, modernisasi yang diikuti globalisasi juga memunculkan kesulitan baru: mulai dari meningkatnya gaya hidup materialistik dan hedonistik sampai disorientasi dan dislokasi sosial, politik, dan budaya.

Karena itu, membaca buku Sufism and the ‘Modern’ in Islam yang disunting Martin van Bruinessen dan Julia Day Howell (London: IB Tauris, 2006), sangat membantu untuk lebih memahami berbagai gejala sufisme dalam kaitan dengan modernitas di kalangan kaum Muslimin di masa kontemporer. Buku yang berasal dari makalah-makalah pada konferensi internasional yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Bogor pada awal September 2003 merupakan sumbangan penting ke arah pemahaman lebih baik tentang sufisme dewasa ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai wilayah masyarakat Muslim lain.

Satu hal sudah pasti, yaitu terjadinya kebangkitan sufisme pada masa pascamodernitas dan globalisasi ini. Ini bertentangan dengan anggapan yang memprediksikan sufisme tidak dapat bertahan dalam modernisasi dan globalisasi. Tetapi, seperti diingatkan van Bruinessen dan Howell, kebangkitan sufisme tidak bisa sepenuhnya dipahami hanya sebagai bentuk respons kaum sufi terhadap modernitas dan globalisasi.

Kebangkitan Sufisme

Hemat saya, kebangkitan sufisme berkaitan dengan sejumlah faktor keagamaan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang kompleks. Secara keagamaan, sejak 1980-an, terjadi gejala peningkatan attachmen kepada Islam, gejala yang di Indonesia biasa disebut sebagai ‘santrinisasi’. Proses itu dimungkinkan karena terbentuknya kelas menengah Muslim saat terjadi perubahan politik rezim penguasa yang lebih rekonsiliatif dan bersahabat terhadap kaum Muslimin dan Islam.

Relatif mapannya keadaan ekonomi kelas menengah tersebut tidak hanya mendorong mereka, misalnya mengerjakan ibadah haji dan umrah. Akan tetapi, juga mengeksplorasi pengalaman keagamaan dan spiritualitas yang lebih intens. Ini hanya bisa diberikan sufisme, bahkan bentuk spiritualitas Islam lainnya, yang memang tidak selalu sesuai dengan paradigma dan bentuk tasawuf konvensional.

Karena itulah, gejala sufisme kontemporer di Indonesia dan di dunia Muslim lain tidak lagi hanya diwakili bentuk tasawuf konvensional, baik tarekat maupun tasawuf yang diamalkan secara personal-individual. Tetapi, muncul pula bentuk baru yang mirip dengan apa yang disebut ‘new age movement’, gerakan [spiritualitas keagamaan] zaman baru.

Dalam konteks itu, jika secara konvensional, zikir misalnya, dilakukan secara pribadi dan kelompok di ruang tertutup, kini dilakukan secara massal dan terbuka dengan liputan TV. Gejala baru ini tidak membuat pengamalan sufisme konvensional lenyap. Bahkan, sebaliknya, tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan momentumnya, tidak hanya di kelas menengah, sekaligus juga pada massa akar rumput.

Doa Nisfu Sya’ban

Doa Nisfu Sya'ban

Doa Nisfu Sya’ban

Doa Nisfu Sya'ban
Doa Nisfu Sya’ban

Banyak Keutamaan

Banyak sekali keutamaan yang dapat kita peroleh apabila mau melaksanakan amalan-amalan di malam nisfu sya’ban, namun begitu kita bebas memilih amalan apa yang akan kita lakukan, salah satunya adalah bahwa pada malam Nishfu Sya’ban disunnahkan untuk mengamalkan do’a Nabi Adam AS sebagai berikut:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui kerahasiaan dan kejelasan saya, maka terimalah alasan saya, Engkau mengetahui hajat saya, maka kabulkanlah permintaan saya, Engkau mengetahui yang ada pada diri saya, maka ampunilah dosa saya. Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu iman yang menyentuh hati saya, keyakinan yang benar, sehingga saya mengetahui bahwa sesungguhnya tidak akan mengenai diri saya, kecuali apa yang telah Engkau tentukan, jadikanlah saya menerima atas keputusanMu”.

Alkisah, konon ketika Nabi Adam turun kebumi, ia thowaf dibaitullah selama satu minggu, dan sholat 2 rokaat dibelakang maqom Ibrahim, selanjutnya membaca do’a diatas. Kemudian Alloh SWT memberi wahyu kepadanya,”Wahai Adam, sesungguhnya kamu telah berdo’a kepadaKu, maka aku mengabulkan permohonanmu. Tak seorangpun anak keturunanmu yang berdo’a kepadaku dengan do’a itu, kecuali aku akan mengabulkan do’anya, aku ampuni dosanya, aku hilangkan kesusahannya, aku lipat gandakan pahalanya, dan aku datangkan dunia ini untuk tunduk kepadanya walaupun ia tidak menginginkannya”.

Lebih utama pada malam Nisfu Sya’ban (dan bulan Ramadlan) memperbanyak membaca doa Sayyid Wana’i sebagai berikut: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, yang senang mengampuni, maka ampunilah saya. Ya Allah, saya memohon kepadaMu (untuk memberikan) ampunan, kesehatan dan keselamatan untuk selamanya didalam agama, dunia dan akhirat”.

Dan untuk keselamatan pada malam nisfu Sya’ban doa nabi Yunus AS berikut dibaca 2.375 (dua ribu tiga ratus tujuh puluh lima) kali.

Doa Keselamatan

“Tiada Tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau,sesungguhnya saya bagian dari orang-orang yang menganiaya”.

Fadhilah atau keutamaaya insya Allah sepanjang tahun tersebut akan diselamatkan dari bencana dan musibah, dan dari hal-hal yang menyusahkan.

Hadits riwayat dari Ibnu ‘ Abbas menyebutkan : “Sesungguhnya do’a saudaraku Yunus sangat mengherankan, yang awal berupa tahlil, yang tengah tasbih dan yang akhir pengakuan dosa, yaitu LAA ILAAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINADZ DZOLIMIN. Tak seorangpun yang sedang susah, yang sedang resah, yang tertimpa musibah dan yang sedang terlilit hutang, (mau) membacanya 3 kali dalam sehari melainkan dikabulkan hajatnya”.

Menurut sebagian ulama pada hari pertama bulan Sya’ban, disunnahkan menjalankan sholat sunnah 2 rokaat, dengan metode: Setiap selesai membaca Surat Al Fatihah kemudian membaca Ayat Kursi 10 kali dan ayat:

Doa Sholat Sunnah

Fadhilah atau keutamaannya adalah barang siapa yang mau menjalankan ibadah sunnah diatas, maka akan mendapat kenikmatan disurga, dimana mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar dan hati belum pernah membayangkan. Selain itu, akan diselamatkan dari kesulitan dunia, mendapat rizqi yang berlimpah dan diberi keselamatan pada hari akhir (hari kiamat).

Malam ke 15 bulan Sya’ban juga disunnahkan menjalankan sholat sunnah 100 rokaat, dengan metode dua rokaat salam, setiap rokaatnya setelah membaca Surat Al- Fatihah kemudian membaca Surat Al-Ihlash 11 kali. Atau dengan metode 10 rokaat, setiap dua rokaat salam dan setelah membaca Surat Al-Fatihah kemudian membaca Surat Al-Ihlash 100 kali.

Selain itu di sunnahkan pula membaca awalnya surat ad-Dukhon, yaitu :

Surat Ad-Dukhon

Dibaca 30 kali, mulai malam pertama bulan Sya’ban sampai malam ke 15, kemudian membaca dzikir dan sholawat, selanjutnya berdo’a tentang apa yang diinginkan. Insya Allah akan segera dikabulkan oleh Allah.

Demikian uraian tentang doa nisfu sya’ban dan juga amalan-amalan yang ada di dalamnya, semoga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Nisfu Sya’ban Zaman Nabi Saw

Nisfu Sya'ban Zaman Nabi Saw

Nisfu Sya’ban Zaman Nabi Saw

Nisfu Sya'ban Zaman Nabi Saw
Nisfu Sya’ban Zaman Nabi Saw

 

Perintah Rasulullah Saw

Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk memperhatikan malam Nisfu Sya’ban, dan bobot berkahnya beramal sholeh pada malam itu diceritakan oleh Sayyidina Ali Rodliallahu Anhu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Jika tiba malam Nisfu Sya’ban, maka bersholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menurunkan rahmatnya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman, “Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rizki, maka akan Aku beri rizki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau begitu? Sampai terbitlah fajar.” (HR. Ibnu Majah)

Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban sekalipun adalah saat yang tepat bagi seorang muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Do’a adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdo’a kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam mengatakan, “Do’a adalah senjatanya seorang mukmin, tiyangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Hakim).

Penjelasan

Nabi Muhammad SAW juga mengatakan, “Seorang muslim yang berdo’a selama tidak berupa sesuatu yang berdosa dan memutus famili, niscaya Allah SWT menganugrahkan salah satu dari ketiga hal, pertama, Allah akan mengabulkan do’anya di dunia. Kedua, Allah baru akan mengabulkan do’anya di akhirat kelak. Ketiga, Allah akan menghindarkannya dari kejelekan lain yang serupa dengan isi do’anya.” (HR. Ahmad dan Barraz).

Tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam tentang do’a yang khusus dibaca pada malam Nisfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada petunjuk tentang jumlah bilangan sholat pada malam itu. Siapa yang membaca Al Quran, berdo’a, bersedekah dan beribadah yang lain sesuai dengan kemampuannya, maka dia termasuk orang yang telah menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan ia akan mendapatkan pahala sebagai balasannya.

Kebiasaan Yang Berlaku

Adapun kebiasaan yang berlaku di masyarakat, yaitu membaca Surat Yasin tiga kali, dengan berbagai tujuan, yang pertama dengan tujuan memperoleh umur panjang dan diberi pertolongan dapat selalu taat kepada Allah. Kedua, bertujuan mendapat perlindungan dari mara bahaya dan memperoleh keluasaan rikzi. Dan ketiga, memperoleh khusnul khatimah (mati dalam keadaan iman), itu juga tidak ada yang melarang, meskipun ada beberapa kelompok yang memandang hal ini sebagai langkah yang salah dan batil.

Demikianlah sedikit uraian tentang tradisi nisfu sya’ban di masa Rasulullah SAW., semoga kita semua mendapat keberkahan atas apa yang kita lakukan selama ini. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Keutamaan dan Amalan Bulan Ramadhan

Keutamaan dan Amalan Bulan Ramadhan

Keutamaan dan Amalan Bulan Ramadhan

Keutamaan dan Amalan Bulan Ramadhan
Keutamaan dan Amalan Bulan Ramadhan

Ketaatan yang dilakukan pada waktu atau tempat yang memiliki keutamaan menyebabkan amalan tersebut mempunyai nilai yang berlipat ganda. Oleh sebab itu pahala amalan menjadi berlipat ganda disebabkan kemuliaan suatu waktu sebagaimana juga berlipat ganda karena kemuliaan suatu tempat. Seperti shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Shalat di masjidil haram senilai dengan 100.000 shalat di masjid lainnya, dan shalat di Masjid Nabi SAW di Madinah senilai dengan 1.000 kali shalat di masjid yang lainnya. Hal ini disebabkan karena kemuliaan suatu tempat.

Maka demikian juga, kemuliaan suatu waktu menyebabkan amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan di dalamnya menjadi berlipat ganda. Sedangkan waktu yang paling besar kemuliaannya adalah bulan Ramadhan. Allah menjadikannya sebagai ajang bagi hamba-Nya untuk melakukan kebaikan, ketaatan serta untuk menaikkan derajat.

Syaratnya

Diantara amal ibadah yang dikerjakan pada bulan Ramadhan adalah puasa Ramadhan. Bagi setiap muslim, baligh, berakal dan mampu berpuasa (menahan haus dan lapar sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari) wajib menjalankan puasa Ramadhan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqoroh 183 & 184.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaywa. (Puasa itu) beberapa hari yang tertentu (29 atau 30)”.

Dalil

Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadlan dengan iman dan mengharap pahala (ikhlash), maka semua dosa-dosanya yang telah lewat dan yang akan datang diampuni”. (HR. Bukhori & Muslim)

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’ Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya”. (HR. Bukhari)

Pengertian puasa dalam terminologi syar’i artinya menahan segala hal yang membatalkan puasa dengan metode tertentu. Sedangkan puasa dalam ta’rif yang lebih khusus adalah menahan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan menjaga seluruh bagian tubuh dari perbuatan dosa.

Adapun Menurut Ahli Hikmah, tingkatan puasa terbagi menjadi 3, yaitu : “Puasa Umum, Puasa Khusus dan puasa Khawashul Khawaas”.

Puasa Umum

Puasa umum, atau puasa yang dikerjakan oleh kebanyakan umat (orang awam), yaitu menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri. Puasa khusus, atau puasa yang dikerjakan oleh kebanyakan para shalihin, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan, dan juga mengekang anggota badan dari segala perbuatan dosa.

Puasa khazvashul khaivash

Puasa khazvashul khaivash, ialah menjalankan puasa seperti puasa umum dan puasa khusus, sekaligus memelihara hati dari tujuan hal-hal yang bersifat dunia semata,, menjaga hati dari keinginan-keinginan kotor dan menjaga hati agar tidak berpaling ke selain Allah.(Ihya’ Ulumuddin). Demikian uraian singkat tentang keutamaan dan amalan bulan ramadhan. Semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/