Attitude Lebih Berharga Dari Angka Yang Berbau Intelektual

Attitude Lebih Berharga Dari Angka Yang Berbau Intelektual

Attitude Lebih Berharga Dari Angka Yang Berbau Intelektual
Attitude Lebih Berharga Dari Angka Yang Berbau Intelektual

Sejauh ini orangtua siswa masih menganggap ranking kelas dan nilai rapot yang tinggi adalah sebagai indikator keberhasilan dari anaknya. Bahkan di Perguruan Tinggi pun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) masih menjadi kejaran.

Hal itu diungkapkan, Praktisi Pendidikan sekaligus Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Sukabumi, Dudung Nurullah Koswara.

”Kita masih menjadi bangsa pemuja angka,” ungkapnya, dilansir dari radarsukabumi.com

Sebenarnya, lanjut Dudung, ada hal yang berharga diatas angka yang berbau intelektual,

yaitu Attitude, sikap yang non kuantitatif tidak berbau angka sangatlah penting.

”Nilai senyum. Nilai menyapa. Niai membantu orang lain. Nilai menghormati orang lain. Nilai mengapresiasi orang lain. Nilai kepedulian dan kemanusiaan sebaiknya menjadi prioritas diatas angka-angka indikator kognitif,” ujarnya.

Dia mengatakan, oang baik dan peduli itu lebih penting kehadirannya dibanding orang pintar yang apatis. Masyarakat peduli itu jauh lebih utama dibanding masyaraat pintar.

”Orang Baduy menyimpulkan, orang pintar itu bisa minteran orang lain. Artinya mereka punya persepsi bahwa orang pintar itu punya peluang menjahati orang lain melalui kepintarannya,” katanya.

Dia menuturkan, orientasi generasi orang Baduy bukan untuk menjadi orang pintar

melainkan menjadi orang bener. Orientasinya menjadi orang yang peduli pada sesama manusia, alam dan Tuhannya. Manusia peduli itu sangat dibutuhkan saat ini dan selamanya.

”Hanya manusia peduli yang mampu menempatkan kehormatan diri dan orang lain dalam berkehidupan,” tuturnya.

Untuik itu, lanjutnya, pola pendidikan harus diubah. Kurikulum pendidikan kita harus menghadirkan orang peduli. Bukan hanya menghadirkan orang pintar, cerdas dan terampil semata. Tetapi para pemikir pendidikan dan pemerintah harus memiliki sebuah formula yang tepat bagaimana mencetak generasi muda yang lebih baik.

”Jadi tidak hanya pintar tetapi memiliki attitude yang baik. Pemerintah bersama para pemikir

pendidikan harus mampu menghadirkan generasi bangsa yang peduli. Pandai mengapresiasi, cerdas melayani, gesit membantu orang lain. Ubah pola pendidikan dari mengusung kecerdasan intelektual menjadi kecerdasan melayani sesama. Hidup pada dasarnya lebih membutuhkan kepedulian dibanding kecerdasan,” jelasnya.

Faktaya karena kepedulian sangat buruk dalam diri masyarakat, maka dengan mudah dapat dilihat berbagai perilaku menyimpang. Ia mencontohkan, masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai, atau menumpuk di trotoar dan bahkan membuang sampah sambil berkendaraan di tengah jalan raya.

”Ada juga rambu-rambu lalu lintas dipilok. Tembok dan pagar dicoreti nama-nama geng motor, merokok di kendaraan umum, bahkan guru pun ada yang merokok di sekolah,” paparnya.

 

Sumber :

https://ejournal.unitomo.ac.id/index.php/jsk/comment/view/827/0/227588