Pendidikan

Adat Setakatan ( kawin lari )

Adat Setakatan ( kawin lari )


Sehabis midang sudah menjadi tradisi Bujang dan gadis melepas lelah melihat keindahan panorama Kota Kayuagung keliling dari atas perahu motor maupun speed boat.Biasanya di atas perahu motor ataupun speed boat itulah Bujang nogos ( meyakinkan) gadis untuk melangkah kejenjang perkawinan yakni dengan setakatan (kawin lari) namun kebanyakan sebelumnya kemauan mereka itu sudah ada persetujuan secara pribadi dari hati kehati saat miyah malaman.

Setakatan biasanya di tempat Kepala Pengawe ( kepala lingkungan ) maupun dirumah Perwaten (ketua RT).Kalu sudah setakatan di Pengawe atau perwaten,setelah sang gadis ditanya oleh Pengawe atau perwaten,apakah sang gadis dipaksa atau tidak,ada permintaan, permohonan apa tidak maka Pengawe atau perwaten wajib memberikan surat kepada kedua belah pihak baik ke pihak orang tua bujang begitu juga kepihak orang tua gadis melalui Kerio (lurah) maupun melalui Kepala lingkungan ataupun Ketua RT yang bersangkutan sesuai alamat masing-masing.Setelah itu kewajiban bagi sebelah gadis setelah mengetahui bahwa anaknya ataupun keponakannya setakatan dirumah pengawe atau perwaten maka berhak untuk menanyakan sekali lagi apakah isi daari surat yang disampaikan dari tempat setakatan benar adanya atau tidak.Kalau benar maka tidak akan terjadi apa-apa atau sang gadis tidak diambil oleh keluarganya,namun sebaliknya apabila tidak sesuai dengan isi surat yang disampaikan maka keluarga berhak membawa gadis tersebut pulang atau bila perlu melakukan tuntutan.

Setelah keluarga gadis pulang maka kewajiban keluarga bujang untuk menjemput kedua calon mempelai dari tempat setakatan ketempat rumah orang tua dari sebelah bujang.Sesampai di halaman rumah biasanya sebelum masuk kedua calon mempelai di arak dan di taburi kembang dan beras kuning ,ada juga yang di cuci kaki dan ada juga yang di ukur pakai pelepah daun pisang,menurut tradisi keyakinan masing-masing.Sesampai didalam rumah kedua calon mempelai di masukkan kedalam sarung sambil di dorong kesana kemari.Hal ini ada yang mengatakan dikaitkan sebagai hukuman karena merka telah melakukan kesalahan dengan membawa lari anak gadis orang tanpa sepengetahuan kedua orang tua.Setelah selesai maka kedua mempelai dipersilahkan beristirahat dan disuruh mandi,namun sampai waktu yang ditentukan kledua calon mempelai tidak boleh berhubungan,dipisahkan kamarnya ,khusus calon mempelai wanita tidur bersama adik atau ayuk perempuan dari calon mempelai laki-laki.

K. Adat Rasan tuhe ( kemauan atau persetujuan orang tua)

Rasan tuhe atau persetujuan orang tua,biasanya terjadi ketika Bujang maupun gadis sudah sama – sama setuju untuk melangsungkan pernikahan,namun oleh karena ingin saling menghargai maka hubungan bujang dan gadis tersebut diselesaikan dengan Rasan tuhe.Adat Rasan tuhe ini sangat baik sekali dilakukan .

Selain kedua keluarga calon mempelai atau calon besan sama-sama saling mengenal antara satu keluarga maupun keluarga lainnya.Adat rasan tuhe ini biasanya sangat tersusun rapi.Dimana waktu atau jadwal pernikahan telah diatur sedemikian rupa sampai tiba waktunya pelaksanaan akad nikah.Rasan tuhe ini biasa dipakai oleh bujang yang mencintai gadis namun bujang tersebut malu untuk mengatakannya,maka dari itu terkadang Bujang tersebut meminta kepada orang tuanya untuk melamar anak gadis yang bersangkutan.Tidak semua adat rasan tuhe berhasil,terkadang juga ditolak,tergantung kesepakatan orang tua maupun gadis yang bersangkutan.Sebab rasan tuhe ini tidak bisa dipaksakan.

baca juga :