KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI

KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI

KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI

KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI
KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI

Dari segi Etimologi, kata sistem sebenarnya berasal dari Bahasa Yunani yaitu “Systema”, yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan “SYSTEM”, yang mempunyai satu pengertian yaitu sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan yang tidak terpisahkan. Menurut filsuf Stoa, bahwa sistem adalah gabungan dari keseluruhan langit dan bumi yang bekerja bersama-sama, sehingga dapat kita lihat bahwa sistem terdiri dari unsur-unsur yang bekerja sama membentuk suatu keseluruhan dan apabila salah satu unsur tersebut hilang atau tidak berfungsi, maka gabungan keseluruhan tersebut tidak dapat lagi kita sebut suatu sistem.

Ada beberapa definisi dari sistem menurut para ahli, yaitu:

  •     Dalam kamus Besar bahasa Indonesia (1989) sudah dijelaskan bahwa Sistem adalah sekumpulan unsur / elemen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai suatu tujuan.
  •     Mcleod (2004) mengatakan bahwa sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan tujuan yang sama untuk mencapai tujuan.
  •     Buckley menjelaskan bahwa Sistem adalah suatu kebulatan atau totalitas yang berfungsi secara utuh, disebabkan adanya saling ketergantungan diantara bagian-bagiannya.
  1. Kerzner mengutarakan Sistem adalah sekelompok komponen yang terdiri dari manusia dan/atau bukan manusia (non-human) yang diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga komponen-komponen tersebut dapat bertindak sebagai satu kesatuan dalam mencapai tujuan, sasaran bersama atau hasil akhir.
  2.     Menurut Ludwig Von Bartalanfy, Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.
  3.     Menurut Anatol Raporot, Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.
  4.     Menurut L. Ackof, Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.

SYARAT-SYARAT SISTEM

Syarat-Syarat Sistem :

  •     Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan masalah.
  •     Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan.
  •     Adanya hubungan diantara elemen sistem.
  •     Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan material) lebih penting dari pada elemen sistem.
  •     Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen.

KARAKTERISTIK SISTEM

Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat tertentu, yaitu mempunyai :

  •     Komponen (components), Terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, dan bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen dapat terdiri dari beberapa subsistem atau subbagian, dimana setiap subsistem tersebut memiliki fungsi khusus dan akan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.
  •     Batas sistem (boundary), Merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu kesatuan. Batas suatu sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.
  •     Lingkungan luar sistem (environments), Adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar dapat bersifat menguntungkan dan merugikan. Lingkungan yang menguntungkan harus tetap dijaga dan dipelihara, sebaliknya lingkungan yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak ingin terganggu kelangsungan hidup sistem.
  •     Penghubung (interface), Merupakan media penghubung antar subsistem, yang memungkinkan sumbar-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem lainnya. Keluaran (output) dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lainnya melalui penghubung disamping sebagai penghubung untuk mengintegrasikan subsistem-subsistem menjadi satu kesatuan.
  •     Masukan (input), Adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem, yang dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). Masukan perawatan adalah energi yang dimasukkan supaya sistem dapat beroperasi, sedangkan masukan sinyal adalah energi yang diproses untuk mendapatkan keluaran. Sebagai contoh di dalam sistem komputer, program adalah maintenance input yang digunakan untuk mengoperasikan komputer dan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.
  •     Keluaran (output), Adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan masukan untuk subsistem yang lain. Misalnya untuk sistem komputer, panas yang dihasilkan adalah keluaran yang tidak berguna dan merupakan hasil sisa pembuangan, sedangkan informasi adalah keluaran yang dibutuhkan.
  •     Pengolah (process). Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran. Suatu sistem produksi akan mengolah masukan berupa bahan baku dan bahan-bahan lain menjadi keluaran berupa barang jadi. Sistem akuntansi akan mengolah data-data transaksi menjadi laporan-laporan keuangan dan laporan-laporan lain yang dibutuhkan oleh manajemen.
  •     Sasaran (objectives) atau tujuan (goal), Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goal) atau sasaran (objective). Kalau suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan bersila bila mengenai sasaran atau tujuannya.

KLASIFIKASI SISTEM

Klasifikasi sistem adalah sebagai berikut:

  •     Deterministik Sistem: Sistem dimana operasi-operasi (input/output) yang terjadi didalamnya dapat ditentukan/ diketahui dengan pasti. Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi, interaksi diantara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti sehingga keluarannya dapat diramalkan (Contoh : Sistem Komputer melalui program).
  •     Probabilistik Sistem: Sistem yang input dan prosesnya dapat didefinisikan, tetapi output yang dihasilkan tidak dapat ditentukan dengan pasti; (Selalu ada sedikit kesalahan/penyimpangan terhadap ramalan jalannya sistem).
  •     Open Sistem: Sistem yang mengalami pertukaran energi, materi atau informasi dengan lingkungannya. Sistem ini cenderung memiliki sifat adaptasi, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga dapat meneruskan eksistensinya. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang lainnya, sehingga harus memiliki sistem pengendalian yang baik
  •     Closed Sistem: Sistem fisik di mana proses yang terjadi tidak mengalami pertukaran materi, energi atau informasi dengan lingkungan di luar sistem tersebut.
  •     Relatively Closed Sistem: Sistem yang tertutup tetapi tidak tertutup sama sekali untuk menerima pengaruh-pengaruh lain. Sistem ini dalam operasinya dapat menerima pengaruh dari luar yang sudah didefinisikan dalam batas-batas tertentu .
  •     Artificial Sistem: Sistem yang meniru kejadian dalam alam. Sistem ini dibentuk berdasarkan kejadian di alam di mana manusia tidak mampu melakukannya. Dengan kata lain tiruan yang ada di alam.
  •     Natural Sistem: Sistem yang dibentuk dari kejadian dalam alam. Contoh : Sistem Perputaran Bumi
  •     Manned Sistem: Sistem penjelasan tingkah laku yang meliputi keikutsertaan manusia.

PENDEKATAN SISTEM

Ada 2 kelompok pendekatan dalam mendefinisikan sebuah sistem menurut Jogiyanto (1999), yaitu:

  •     Pendekatan Prosedur. Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu. Menurut Jerry Fitzgerald, Ardra F. Fitzgerald dan warren D. Stallings, Jr., mendefinisikan prosedur sebagai berikut: Suatu prosedur adalah urut-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi yang menerangkan Apa (What) yang harus dikerjakan, Siapa (Who) yang mengerjakannya, Kapan (When) dikerjakan dan Bagaimana (How) mengerjakannya.
  •     Pendekatan komponen/elemen/sub-sistem. Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu

Sumber: https://fungsi.co.id/

3 Tips Dasar Memelihara Tiger Fish

3 Tips Dasar Memelihara Tiger Fish

3 Tips Dasar Memelihara Tiger Fish
3 Tips Dasar Memelihara Tiger Fish

Apakah Anda memerlukan tips untuk memelihara tiger fish? Tiger fish merupakan salah satu ikan air tawar yang sedang booming di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dijuluki sebagai ikan harimau, alasannya yaitu ikan ini mempunyai loreng-loreng di tubuhnya. Tak heran alasannya yaitu keunikannya itulah ada banyak penghobi yang berlomba-lomba untuk mempunyai ikan tiger fish sendiri.

Tidak seseram namanya, tiger fish ternyata mempunyai perangai yang tidak agresif. Ikan ini akan hidup rukun manakala ditempatkan bantu-membantu dengan ikan-ikan lain di dalam sebuah akuarium. Kuncinya yaitu ikan yang akan menjadi daerah tiger fish harus berukuran lebih besar atau minimal ukuran posturnya sama. Dengan begini, dijamin deh akuarium Anda akan dipenuhi oleh ikan-ikan hias dengan tiger fish sebagai primadonanya.

Sayangnya tiger fish susah dirawat. Kemampuan mengikuti keadaan ikan ini terhitung cukup rendah, kendati daya tahan tubuhnya sangat bagus. Ia sulit menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan barunya sehingga tingkat kematangan gonadnya sulit untuk dicapai. Perbedaan antara tiger fish jantan dan betina pun tidak terlalu mencolok. Satu-satunya metode yang dapat ditempuh untuk mengetahui jenis kelamin seekor ikan tiger ialah mengurut perutnya perlahan-lahan menuju ke bab dubur. Tiger fish jantan akan mengeluarkan sel sperma dan tiger fish betina akan mengeluarkan sel telur.

Akuarium

ikan guppy – Sebagai ikan hias yang memiliki keindahan dari sudut pandang samping, tiger fish paling cocok ditempatkan di dalam akuarium. Namun Anda tetap boleh memeliharanya di dalam kolam tanah, bak semen, atau bak fiber. Semakin besar ukuran wadah pemeliharaan ikan tiger akan semakin bagus sehingga memungkinkan ikan ini dapat bergerak lebih leluasa. Kemudian pasang beberapa peralatan standar untuk akuarium menyerupai filter dan aerasi. Selalu gunakan air yang memiliki pH normal untuk mengisi akuarium.

Persembunyian

Sekali lagi kami ingatkan bahwa ikan tiger cukup sulit untuk dijinakkan. Belum banyak petani yang berhasil membudidayakan ikan hias yang satu ini. Kemungkinan besar tiger fish milik Anda ditangkap pribadi dari alam liar. Untuk mendukung proses penjinakan tiger fish, Anda bisa menutup tangki pemeliharaan terlebih dahulu lalu membukanya sedikit demi sedikit. Alternatif lain cobalah menanam beberapa tumbuhan air di tangki sebagai daerah persembunyian ikan. Hal ini dilakukan biar ikan dapat mengikuti keadaan dengan baik dan tidak mengalami stres.

Pakan

Mulailah menawarkan pakan alami kepada tiger fish kepunyaan Anda. Beberapa pakan yang kami rekomendasikan di antaranya ikan-ikan kecil, udang, dan cacing sutera. Setiap menawarkan pakan, amati tingkah laku tiger fish tersebut apakah ia mau memakannya atau tidak. Setelah beberapa hari kemudian, Anda bisa mengajari ikan tersebut biar mau mengonsumsi pelet. Selain lebih ekonomis dan praktis, pelet juga mengandung nutrisi yang lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan ikan.

Sebut Guru Honorer Ilegal, Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut Tuai Kecaman

Sebut Guru Honorer Ilegal, Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut Tuai Kecaman

Sebut Guru Honorer Ilegal, Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut Tuai Kecaman

Sebut Guru Honorer Ilegal, Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut Tuai Kecaman
Sebut Guru Honorer Ilegal, Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut Tuai Kecaman

Sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diliburkan aktivitas belajar mengajarnya karena ada aksi demo guru honorer, Senin (17/9/2018).

Aksi guru honorer di Garut itu bentuk kekecewaan atas pernyataan Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut yang mengatakan guru honorer berstatus ilegal.

Dilansir dari CCNIndonesia.com, Ketua Forum Aliansi Guru dan Karyawan (Fagar) Kabupaten Garut, Cecep Kurniadi membenarkan soal aksi protes guru honorer yang menuntut SK Bupati Garut. Mereka pun mempertanyakan pernyataan Plt Kepala Dinas Pendidikan Garut Jajat Darajat yang menyinggung guru honorer.

Ia menjelaskan, para guru honorer menuntut SK Bupati untuk guru honorer agar memiliki kejelasan payung hukumnya untuk mendapatkan hak-hak guru seperti sertifikasi.

Sejumlah SD di Garut seperti di Kecamatan Samarang tampak sepi. Ada beberapa siswa yang beraktivitas bermain di lapangan sekolah, selain di Samarang ada juga beberapa sekolah di Garut tidak terlihat aktivitas siswa seperti biasanya.

“Sekarang libur, kata ibu-ibu di sekolah katanya mau demo hari Senin,

” kata Ningrum orang tua siswa SD Negeri 1 Samarang, Garut.

Orang tua siswa dari SD Negeri lainnya, Susi mengatakan, anaknya yang sekolah di SDN 2 Tarogong sengaja diliburkan oleh gurunya karena aksi tersebut.

Menurut dia, aksi guru tersebut telah menimbulkan kerugian bagi siswa karena tidak bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya.

“Siswa tidak seharusnya jadi korban, boleh demo tapi jangan mengganggu belajar siswa,” katanya.

Namun, berbeda dengan pengakuan orang tua murid, Cecep

mengatakan aktivitas di sekolah untuk memberikan pelajaran kepada siswa tetap dilaksanakan oleh para guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS).

“Masih ada guru PNS yang masih bisa mengajar,” katanya.

Secara terpisah, Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan para guru honorer yang belum mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, bukan berarti statusnya ilegal.

“Tetapi ada ketentuan yang ditetapkan Peraturan Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan yang mengatur masalah legalitas guru honorer untuk bisa mendapatkan sertifikasi maupun dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” katanya di Garut.

Rudy menuturkan, Pemerintah Kabupaten Garut mengakui keberadaan dan manfaat dari para guru honorer yang telah mengabdikan dirinya untuk pendidikan.

“Tidak mengatakan ilegal. Mereka bekerja silakan urusannya dengan pemerintah pusat,” katanya kepada wartawan di Garut

 

Baca Juga :

IPB-Kemenkomar Perkuat Wawasan Kemaritiman dengan Gelar Seminar Nasional

IPB-Kemenkomar Perkuat Wawasan Kemaritiman dengan Gelar Seminar Nasional

IPB-Kemenkomar Perkuat Wawasan Kemaritiman dengan Gelar Seminar Nasional

IPB-Kemenkomar Perkuat Wawasan Kemaritiman dengan Gelar Seminar Nasional
IPB-Kemenkomar Perkuat Wawasan Kemaritiman dengan Gelar Seminar Nasional

Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia

(Kemenkomar RI) bekerjasama memperkuat wawasan kemaritiman dengan menggelar Seminar Nasional ‘Seascape Lasser Sunda dan Bismarck Solomon’, di IPB International Convention Center (IICC) Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (13/9/2018).

Rektor IPB, Dr. Arif Satria menyambut baik kegiatan seminar ini. “Kegiatan ini sangat penting untuk memperkuat wawasan kemaritiman nasional,” ujarnya.

Deputi Sumberdaya Alam Kemenkomar RI, Ir. Agung Kuswandono, MA saat menjadi Keynote Speaker acara tersebut mengatakan sesuai dengan arahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 bahwa perlu memperkuat wawasan kemaritiman melalui berbagai program termasuk diseminasi pemahaman.

“Karena ruang laut kita yang masih beragam terminologinya, perlu upaya penekanan pemahaman

yang mendalam. Beberapa terminologi dasar diantaranya mengenai eco-region, wilayah pengelolaan perikanan, serta seascape (bentang laut),” tuturnya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan dalam perspektif umum seascape didefinisikan sebagai bentang laut yang dapat terdiri dari struktur muka laut, dasar laut, struktur fungsi pewilayahan laut serta fungsi dan kemanfaatan laut.

“Persepsi terhadap struktur fisik maupun nonfisik dapat disebut sebagai bagian dari bentang laut. Walaupun dalam beberapa kesempatan istilah seascape saat ini masih berbeda definisi, namun dalam tata kelola kita tetap berpedoman dalam satu struktur keruangan. Sebagai sebuah ruang, tentu tidak sendiri, karena pasti akan berbenturan (intercrosection) dengan daerah lainya atau bahkan dengan negara lainnya,” ujar Agus.

Berbagai upaya yang perlu dilakukan diantaranya melalui seminar, advokasi, dan pendampingan

terhadap masyarakat akan fungsi dan peran dari keberadaan Lasser Sunda dan Bismarck Solomon ini.

“Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sebagai salah satu institusi yang memiliki peran dalam penguatan nilai-nilai dan jiwa kemaritiman kepada masyarakat dengan berbagai cara. Salah satunya melalui penyebaran konsep, gagasan, proses dan kemajuan pelaksanaan tata kelola ruang seascape, serta berbagai expo,” tegas Agus.

Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI), Dr.iur. Damos Dumoli Agusman, SH, MA menjelaskan, kawasan Lasser Sunda sebagai sebuah seascape terbentang dalam perairan Indonesia di bagian selatan. Sedangkan Bismarck Solomon di bagian utara yang berbatasan dengan negara lain.

Lasser Sunda dan Bismarck Solomon sarat dengan potensi sumberdaya alam hayati dan nonhayati. Lasser Sunda adalah daerah yang berbatasan dengan perairan internasional dan sering menjadi akses transportasi lalu lintas laut. Selain itu juga sebagai daerah yang sebagian besar perairannya sebagai kawasan konservasi baik nasional maupun adat. Sebagai kawasan yang dinamikanya tinggi daerah ini juga sarat dengan pengaruh asing baik imigrasi maupun penyelundupan.

Mempertimbangkan penting dan strategisnya kedua wilayah ini, maka perlu didorong terus pemahaman yang mendalam baik di level masyarakat, pemerintah, Non Governmental Organization (NGO) dan pihak terkait lainya.

Kegiatan yang diselenggarakan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (Dept. MSP FPIK IPB) dan Pusat Studi Bencana, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB ini dalam rangka memperingati Dies Natalis IPB ke-55.

Kegiatan itu juga menghadirkan narasumber Represent ED RS CTI-CFF Asisten Deputi Jasa Kemaritiman, Kemenkomar RI, Okto Irianto, SIP, MA, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dr. Andi Rusandi, Direktur Marine Program WWF Indonesia, Imam Musthofa Zainudin dan Staf Ahli Bidang Ekonomi Lemhanas, Prof. Dr. Ir. H. Didin Damanhur

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/

Semester Pendek, Mahasiswa IPB Ikuti Summer Session di Korea

Semester Pendek, Mahasiswa IPB Ikuti Summer Session di Korea

Semester Pendek, Mahasiswa IPB Ikuti Summer Session di Korea

Semester Pendek, Mahasiswa IPB Ikuti Summer Session di Korea
Semester Pendek, Mahasiswa IPB Ikuti Summer Session di Korea

Ilmu pengetahuan tidak hanya diperoleh dari kegiatan perkuliahan di dalam kampus saja.

Mahasiswa juga dapat mengikuti kegiatan di luar kampus seperti program pertukaran mahasiswa student exchange) ke luar negeri.

Seperti yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura (Dept. AGH), Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Faperta IPB), Rifa Fadhilah Munifah Hasibuan yang mengikuti program exchange ke Korea Selatan.
Selama 26 hari dari tanggal 26 Juni hingga 24 Juli 2018, Rifa mengikuti program exchange bernama Chonnam National University International Summer Session bersama 176 siswa lainnya dari 27 negara. Program tersebut bisa disebut juga sebagai semester pendek untuk mengisi libur musim panas di Korea.

“Dalam program ini, setiap siswa diperbolehkan memilih satu hingga dua mata kuliah.

Tapi kalau saya pribadi memilih satu mata kuliah saja yaitu speaking in english korean agar lebih tahu lagi tentang Hangul atau alfabet Korea,” tutur Rifa.

Agar bisa mengikuti program exchange ini, Rifa mendapatkan informasi dari Direktorat Program Internasional IPB serta mengikuti beberapa tahap seleksi.
Tahap seleksi dimulai dengan pengiriman berkas seperti curriculum vitae (CV), transkrip nilai, sertifikat TOEFL, dan motivation letter dan interview. Selanjutnya, dilakukan pula interview.

Kegiatan yang dilakukan Rifa selama program exchange tersebut adalah belajar di kelas sebanyak 14 kali

pertemuan dalam satu bulan hingga kegiatan di luar kelas atau fieldtrip beserta peserta program lainnya seperti mengunjungi tempat-tempat budaya di Korea Selatan.

“Manfaat yang saya dapatkan dari program ini adalah networking dengan teman dari negara lain bertambah, bahkan bukan dari Korea saja tapi juga dari Australia hingga Amerika pun ada. Selain itu, lebih tahu lagi tentang orang-orang Korea seperti apa, sejarah Korea terdahulu, hingga bagaimana kita menghadapi
shock culture selama program di sana,” tambah Rifa.

 

Sumber :

https://www.sudoway.id/

Pelestarian Air Tanah

Pelestarian Air Tanah

Pelestarian Air Tanah

Pelestarian Air Tanah
Pelestarian Air Tanah

Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air yang besar (Bernatzky, 1978). Maka kadar air tanah hutan akan meningkat.

Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hendaknya ditanami dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah. Di samping itu sistem perakaran dan serasahnya dapat memperbesar porositas tanah, sehingga air hujan banyak yang masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan.

Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah. Dengan demikian hutan kota yang dibangun pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan akan dapat membantu mengatasi masalah air dengan kualitas yang baik.

Menurut Manan (1976) tanaman yang mempunyai daya evapotrnspirasi yang rendah antara lain : cemara laut Casuarina equisetifolia), Ficus elastica, karet (Hevea brasiliensis), manggis (Garcinia mangostana), bungur (Lagerstroemia speciosa), Fragraea fragrans dan kelapa (Cocos nucifera).

Baca Juga :

Ameliorasi Iklim

Ameliorasi Iklim

Ameliorasi Iklim

Ameliorasi Iklim
Ameliorasi Iklim

Salah satu masalah penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan.

Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan layang, papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan lain-lain. sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi (Grey dan Deneke, 1978 dan Robinette, 1983).

Robinette (1983) lebih jauh menjelaskan, jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat dipengaruhi oleh : panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca dan posisi lintang.

Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman dari pada daerah tidak ditumbuhi oleh tanaman. Wenda (1991) telah melakukan pengukuran suhu dan kelembaban udara pada lahan yang bervegetasi dengan berbagai kerapatan, tinggi dan luasan dari hutan kota di Bogor yang dibandingkan dengan lahan pemukiman yang didominasi oleh tembok dan jalan aspal, diperoleh hasil bahwa:

  • Pada areal bervegetasi suhu hanya berkisar 25,5-31,0° C dengan kelembaban 66-92%.
  • Pada areal yang kurang bervegetasi dan didominasi oleh tembok dan jalan aspal suhu yang terjadi 27,7-33,1° C dengan kelembaban 62-78%.
  • Areal padang rumput mempunyai suhu 27,3-32,1° C dengan kelembaban 62-78%.
Koto (1991) juga telah melakukan penelitian di beberapa tipe vegetasi di sekitar Gedung Manggala Wanabakti. Dari penelitian ini dapat dinyatakan, hutan memiliki suhu udara yang paling rendah, jika dibandingkan dengan suhu udara di taman parkir, padang rumput dan beton.

Mengatasi Intrusi Air Laut

Mengatasi Intrusi Air Laut

Mengatasi Intrusi Air Laut

Mengatasi Intrusi Air Laut
Mengatasi Intrusi Air Laut

Kota-kota yang terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir ini dihantui oleh intrusi air laut.

Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kota yang mempunyai masalah intrusi air laut harus betul-betul diperhatikan karena:

  • Penanaman dengan tanaman yang kurang tahan terhadap kandungan garam yang sedang-agak tinggi akan mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, bahkan mungkin akan mengalami kematian.
  • Penanaman dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang tinggi akan menguras air dari dalam tanah, sehingga konsentrasi garam adalah tanah akan meningkat. Dengan demikian penghijauan bukan lagi memecahkan masalah intrusi air asin, malah sebaliknya akan memperburuk keadaannya.
Upaya untuk mengatasi masalah ini sama dengan upaya untuk meningkatkan kandungan air tanah yaitu membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air tanah yaitu membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah.

Cara Pembibitan Udang Windu

Cara Pembibitan Udang Windu

Cara Pembibitan Udang Windu

 

Cara Pembibitan Udang Windu

Menyiapkan Benih (Benur)

Benur/benih Budidaya udang bisa didapat dari tempat pembenihan (Hatchery) atau dari alam.
Di alam terdapat dua macam golongan benih udang windu (benur) menurut ukurannya, yaitu :

a. Benih yang masih halus, yang disebut post larva.

Terdapat di tepi-tepi pantai. Hidupnya bersifat pelagis, yaitu berenang dekat permukaan air. Warnanya coklat kemerahan. Panjang 9-15 mm. Cucuk kepala lurus atau sedikit melengkung seperti huruf S dengan bentuk keseluruhan seperti jet. Ekornya membentang seperti kipas.

b. Benih yang sudah besar atau benih kasar yang disebut juvenil. 

Biasanya telah memasuki muara sungai atau terusan. Hidupnya bersifat benthis, yaitu suka berdiam dekat dasar perairan atau kadang menempel pada benda yang terendam air. Sungutnya berbelang-belang selangseling coklat dan putih atau putih dan hijau kebiruan. Badannya berwarna biru kehijauan atau kecoklatan sampai kehitaman. Pangkal kaki renang berbelang-belang kuning biru.
 

Cara Penangkapan Benur:

a. Benih yang halus ditangkap dengan menggunakan alat belabar dan seser.

– Belabar adalah rangkaian memanjang dari ikatan-ikatan daun pisang kering, rumput-rumputan, merang, atau pun bahan-bahan lainnya. 
– Kegiatan penangkapan dilakukan apabila air pasang.
– Belabar dipasang tegak lurus pantai, dikaitkan pada dua buah patok, sehingga terayun-ayun di permukaan air pasang.
. Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.
– Atau hanya diikatkan pada patok di salah satu ujungnya, sedang ujung yang lain ditarik oleh si penyeser sambil dilingkarkan mendekati ujung yang terikat. Setelah lingkaran cukup kecil, penyeseran dilakukan di sekitar belabar.

b. Benih kasar ditangkapi dengan alat seser

pula dengan cara langsung diseser atau dengan alat bantu rumpon-rumpon yang dibuat dari ranting pohon yang ditancapkan ke dasar perairan. Penyeseran dilakukan di sekitar rumpon.
 
Pembenihan secara alami dilakukan dengan cara mengalirkan air laut ke dalam tambak. Biasanya dilakukan oleh petambak tradisional. Baca Juga: Cara Budidaya Ikan Louhan Benih udang/benur yang didapat dari pembibitan haruslah benur yang bermutu baik. Adapun sifat dan ciri benur yang bermutu baik yang didapat dari tempat pembibitan adalah:
a. Umur dan ukuran benur harus seragam.
b. Bila dikejutkan benur sehat akan melentik.
c. Benur berwarna tidak pucat.
d. Badan benur tidak bengkok dan tidak cacat.
 
2) Perlakuan dan Perawatan Benih
a. Cara pemeliharaan dengan sistem kolam terpisah
Pemeliharaan larva yang baik adalah dengan sistem kolam terpisah, yaitu kolam diatomae, kolam induk, dan kolam larva dipisahkan.
 
– Kolam Diatomae
Diatomae untuk makanan larva udang yang merupakan hasil pemupukan adalah spesies Chaetoceros, Skeletonema dan Tetraselmis di dalam kolam volume 1000-2000 liter. Spesies diatomae yang agak besar diberikan kepada larva periode mysis, walaupun lebih menyukai zooplankton.
 
– Kolam Induk
Kolam yang berukuran 500 liter ini berisi induk udang yang mengandung telur yang diperoleh dari laut/nelayan. Telur biasanya keluar pada malam hari. Telur yang sudah dibuahi dan sudah menetas menjadi nauplius, dipindahkan.
 
– Kolam Larva
Kolam larva berukuran 2.000-80.000 liter. Artemia/zooplankton diambil dari kolam diatomae dan diberikan kepada larva udang mysis dan post larva (PL5-PL6).
Artemia kering dan udang kering diberikan kepada larva periode zoa sampai (PL6). Larva periode PL5-PL6 dipindah ke petak buyaran dengan kepadatan 32-1000 ekor/m2, yang setiap kalidiberi makan artemia atau makanan buatan, kemudian PL20-PL30 benur dapat dijual atau ditebar ke dalam tambak.

 b. Cara Pengipukan/pendederan benur di petak pengipukan

– Petak pendederan benur merupakan sebagian dari petak pembesaran udang (± 10% dari luas petak pembesaran) yang terletak di salah satu sudutnya dengan kedalaman 30-50 cm, suhu 26-31derajat C dan kadar garam 5-25 permil.
– Petak terbuat dari daun kelapa atau daun nipah, agar benur yang masih lemah terlindung dari terik matahari atau hujan. 
– Benih yang baru datang, diaklitimasikan dulu. Benih dimasukkan dalam bak plastik atau bak kayu yang diisi air yang kadar garam dan suhunya hampir sama dengan keadaan selama pengangkutan. Kemudian secara berangsur-angsur air tersebut dikeluarkan dan diganti dengan
air dari petak pendederan.
– Kepadatan pada petak Ini 1000-3000 ekor. Pakan yang diberikan berupa campuran telur ayam rebus dan daging udang atau ikan yang dihaluskan.
– Pakan tambahan berupa pellet udang yang dihaluskan. Pemberian pelet dilakukan sebanyak 10-20 % kali jumlah berat benih udang per hari dan diberikan pada sore hari. Berat benih halus ± 0,003 gram dan berat benih kasar ± 0,5-0,8 g.
– Pellet dapat terbuat dari tepung rebon 40%, dedak halus 20 %, bungkil kelapa 20 %, dan tepung kanji 20%. 
– Pakan yang dipe rlukan: secangkir pakan untuk petak pengipukan/pendederan seluas 100 m2 atau untuk 100.000 ekor benur dan diberikan 3-4 kali sehari.
 
c. Cara Pengipukan di dalam Hapa
– Hapa adalah kotak yang dibuat dari jaring nilon dengan mata jaring 3-5 mm agar benur tidak dapat lolos.
– Hapa dipasang terendam dan tidak menyentuh dasar tambak di dalam petak-petak tambak yang pergantian airnya mudah dilakukan, dengan cara mengikatnya pada tiang-tiang yang ditancamkan di dasar petak tambak itu. Beberapa buah hapa dapat dipasang berderet-deret pada suatu petak tambak.
– Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kehendak, misalnya panjang 4-6 m, lebar 1-1,5 m, tinggi 0,5-1 m. 
– Kepadatan benur di dalam hapa 500-1000 ekor/m2.
– Pakan benur dapat berupa kelekap atau lumut-lumut dari petakan tambak di sekitarnya. Dapat juga diberi pakan buatan berupa pelet udang yang dihancurkan dulu menjadi serbuk.
– Lama pemeliharaan benur dalam ipukan 2-4 minggu, sampai panjangnya 3-5 cm dengan persentase hidup 70-90%.
– Jaring sebagai dinding hapa harus dibersihkan seminggu sekali. 
– Hapa sangat berguna bagi petani tambak, yaitu untuk tempat aklitimasi benur, atau sewaktu-waktu dipergunakan menampung ikan atau udang yang dikehendaki agar tetap hidup.
d. Cara pengangkutan:
Pengangkutan menggunakan kantong plastik:
– Kantong plastik yang berukuran panjang 40 cm, lebar 35 cm, dan tebal ,008 mm, diisi air 1/3 bagian dan diisi benih 1000 ekor.
– Kantong plastik diberi zat asam sampai menggelembung dan diikat dengan tali.
– Kantong plastik tersebut dimasukkan dalam kotak kardus yang diberi styrofore foam sebagai penahan panas dan kantong plastik kecil yang berisi pecahan-pecahan es kecil yang jumlahnya 10% dari berat airnya.
– Benih dapat diangkut pada suhu 27-30 derajat C selama 10 jam perjalanan dengan angka kematian 10-20%.
 
Pengangkutan dengan menggunakan jerigen plastik:
– Jerigen yang digunakan yang berukuran 20 liter.
– Jerigen diisi air setengah bagiannya dan sebagian lagi diisi zat asam bertekanan lebih.
– Jumlah benih yang dapat diangkut antara 500-700 ekor/liter. Selama 6-8 jam perjalanan, angka kematiannya sekitar 6%.
– Dalam perjalanan jerigen harus ditidurkan, agar permukaannya menjadi luas, sehingga benurnya tidak bertumpuk.
– Untuk menurunkan suhunya bisa menggunakan es batu.
 
e. Waktu Penebaran Benur
Sebaiknya benur ditebar di tambak pada waktu yang teduh

Cara Budidaya Udang Windu

Cara Budidaya Udang Windu

Cara Budidaya Udang Windu

 

Cara Budidaya Udang Windu

Pendahuluan

Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang bisa disebut udang penaeid oleh para ahli.
Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata‐rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan. Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995.

Jenis

Klasifikasi udang adalah sebagai berikut:
Klas : Crustacea (binatang berkulit keras)
Sub‐klas : Malacostraca (udang‐udangan tingkat tinggi)
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)
Sub‐ordo : Natantia (kaki digunakan untuk berenang)
Famili : Palaemonidae, Penaeidae

Manfaat

1) Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, karena kandungan lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.
2) Udang dapat diolah dengan beberapa cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, krupuk, dll. 3) Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.
4) Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
5) Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas, pangan, dll.
6) Chitosan yang terdapat dalam kepala udang dapat dimanfaatkan dalam industri kain, karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.

 

Teknis Budidaya

Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :

2.1. Syarat Teknis 
– Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.
– Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 – 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.
– Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.
– Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.
– Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.
2.2. Tipe Budidaya.
Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :
– Tambak Ekstensif atau tradisional.
Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.
– Tambak Semi Intensif.
Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.
– Tambak Intensif.
Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.

 

2.4. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan, meliputi :
– Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.
– Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
– Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.
– Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
– Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.
2.5. Pemasukan Air

Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.

2.6. Penebaran Benur.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :
– Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
– Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
– Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
– Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

2.7. Pemeliharaan.
Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 – 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.


Panen.

Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 – 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.


Pakan Udang.

Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Baca Juga: Cara Ternak Burung Lovebird Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S
(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.